
"Jie'er apankamu juga merasakannya?" Shangdi menoleh kearah muridnya karena yakin bahwa liu jie juga pasti merasakan sosok Singa api.
"Iya guru, sepertinya aura miliknya sangat panas. apa mungkin dia siluman jenis api?" Liu jie kemudian memandang Shangdi sambil mengusap dagunya seakan berfikir sosok siluman beraura panas menyengat yang bersembunyi kemungkinan adalah penunggu bukit ini.
Melihat peningkatan kemampuan kepekaan muridnya dalam menganalisa dan merasakan aura membuatnya cukup bangga menjadi seorang guru.
"Keluarlah, jangan takut kedatanganku kali ini tidak menyangkut tugas seperti biasanya" Shangdi yang mencium rasa takut dari singa api mencoba membujuknya keluar.
Dibalik bujukannya itu terdapat sebuah senyum licik, dia berencana untuk mengetes Liu jie apakah mampu menjinakkan Singa api tanpa bantuannya.
"Baiklah dewa" Dengan langkah yang sangat lambat dikarenakan sebuah rasa takut yang teramat dahsyat, kini singa api sudah berada dihadapan Shangdi dan berlutut.
"Ma aa afkan saya dewa karena tak menunjukkan sikap hormat, namun jika boleh tau apa maksud kedatangan sang dewa yang perkasa ke tempatku? selama ini saya tak pernah membuat kekacauan, saya mencoba mengasingkan diri agar bisa terhindar dari masalah dengan harapan sang dewa tak membinasakanku seperti Singa petir yang dewa binasakan dengan memalukan lewat jentikan jari". kali ini singa api mencoba mengorek alasan Shangdi mendatanginya dengan nada suara yang diselimuti ketakutan mengingat saudara kembarnya singa petir yang binasa jadi abu hanya dengan satu jentikan jari.
Wen wen yang dari tadi berlindung di belakang Liu jie sejak kehadiran sosok pahlawan legendaris Kekaisaran benua api, kini malah menjadi pucat dan keringat dingin mendengar penjelasan singa api tentang binasanya singa petir ditangan Shangdi.
Setahu wen wen, berdasarkan cerita cerita yang kini beredar luas bahwa alasan menghilangnya singa petir yang perkasa dan tak terkalahkan adalah dikarenakan dia menjadi hewan tunggangan dewa petir namun setelah mendengar versi aslinya, dia akhirnya bisa faham bahwa seorang dewa memang pantas untuk ditakuti dan dihormati.
wen wen menatap Liu jie, dalam hati dia mencoba membayangkan betapa mengerikannya sosok Liu jie dengan identitasnya itu. namun dia hanya bisa diam membisu dan menyerahkan urusan singa api pada Liu jie dan Shangdi karena menurutnya Selama sosok guru dan murid ini ada pasti dia akan aman terlebih ada sosok moyu ditubuhnya.
__ADS_1
"hahaha tenang saja, saya mau kamu menjadi hewan tunggangan pria bertopeng ini, tentu saja saya akan menjaga harga dirimu. saya tak akan campur tangan, jika dia bisa menundukkanmu dengan kemampuannya maka kamu harus menjadi tunggangannya namun jika kamu mengalahkannya maka kamu bebas pergi dari sini. bagaimana?" Shangdi yang merasa singa api adalah seekor tunggangan yang pas bagi Liu jie akhirnya membuat penawaran.
"Baiklah dewa, terima kasih telah memberiku muka. saya tak akan menahan diri. tapi sebelum bertarung perkenalkan namaku xie xue, siapa namamu bocah?" sambil memperkenalkan dirinya, Singa api mulai memasang kuda kuda persiapan untuk memberikan serangan.
Melihat kuda kuda Xie xue, Liu jie membisikkan sesuatu ditelinga wen wen agar menjaga jarak aman disisi Shangdi "Kakak mundurlah, saya akan menyelesaikan ini dengan cepat".
Setelah melihat wen wen berada pada jarak aman, Liu jie menjawab pertanyaan xie xue dengan sopan "Salam hormat Xie xue yang perkasa, nama saya adalah Liu jie, sebenarnya ada satu buah jurus yang diajarkan kakekku dulu dan saya sangat ingin mencobanya, mungkin ini waktu yang tepat xie xue. bolehkan saya menyerang duluan?".
Mendengar hal tersebut, Shangdi tiba tiba menyipitkan matanya. ekspresinya menunjukkan rasa penasaran yang besar akan jurus yang dimaksud Liu jie. Shangdi tahu betul jurus jurus yang dimiliki Liu jie namun dia juga tahu bahwa dewa matahari pernah membawa Liu jie untuk berlatih dialam dimensi milik dewa matahari sebelum datang ke alam dunia manusia, dimana dialam itu suhunya sangat panas. Namun yang membuat shangdi penasaran adalah dia tak tau apa saja yang dewa matahari ajarkan selama itu.
"Baiklah bocah, saya juga penasaran jurus mu itu sekuat apa. sekarang seranglah" ucap Xie xue namun pola kuda kuda serangannya kini diubah menjadi pola bertahan.
"Tahap ke dua jurus pemusnah dewa, Aura penghukum dewa"
tiba tiba tubuh Liu jie mengeluarkan aura bercahaya keemasan yang mirip seperti aura dewa matahari. dalam sekejap Liu jie tampak sangat berwibawa bagaikan seorang dewa, serta tekanan yang hasilkan dari aura tahapan ke dua jurus pemusnah dewa mampu membuat Shangdi sesak dan berlutut, wen wen sampai tak sadarkan diri sedangkan Xie xue terkapar tak berdaya memohon ampunan, xie xue kemudian memandang Liu jie bagaikan memandang seorang dewa.
Melihat wen wen tak sadarkan diri, seketika Liu jie menghentikan serangannya dan segera menghampiri wen wen sambil memeriksa denyut nadinya.
"Gawat saya harus segera mentransfer energy Qy murni jika tidak kakak dan Moyu akan mati" Liu jie dengan sigap membaringkan wen wen dan duduk bersila disampingnya.
__ADS_1
Liu jie memusatkan energy Qy murninya dan menyalurkan lewat telapak tangannya yang terlebih dulu ditempelkan didada wen wen. kini wen wen perlahan lahan membuka matanya dan lagi lagi merasakan sensasi sejuk seperti di gua dulu.
merasa cukup, Liu jie kemudian membantu wen wen duduk dan memeluknya sambil meminta maaf "Kakak maafkan kecerobohanku, saya tak tau bahwa jurus yang diajarkan kakek akan menimbulkan efek mengerikan seperti ini. Maafkan kebodohanku ya kak".
"dasar bodoh, kenapa malah minta maaf. kakak malah justru bahagia ternyata adik kakak adalah sosok pendekar yang sangat hebat, ya sudah jangan nangis lagi". wen wen melepaskan pelukan Liu jie sambil membayangkan betapa mengerikan kekuatan adiknya ini.
"khyaaaaaaaaa dasar tua bangka, tak punya otak, dasar bodoh, kenapa tak bilang kalau kau mengajari jurus pemusnah dewa kepada Jie'er, jadi saya bisa memberitahunya dampak yang dihasilkan tahap pertama sampai ketujuh dari jurus pemusnah dewa padanya, dasar orang tua sinting saya hampir mati tau. untung saja cucumu yang bodoh ini tak menggunakan tahap ketujuh jurus ini, jika dia menggunakannya bisa dipastikan Posisi Dewa Naga Emas akan kosong karena kematianku" Shangdi mengomel dan mengoceh kearah langit karena merasa jengkel pada dewa matahari yang mengajari sebuah jurus namun tak memberitahu dampak yang akan dihasilkan pada sekitarnya sehingga hampir saja membunuh mereka semua.
"Guruuu maafkan kakek, sebenarnya ini semua salahku. dulu waktu berhasil menguasai jurus ini, kakek berniat menahanku di alam dimensinya untuk menjelaskan sejarah dan segala yang menyangkut jurus pemusnah dewa tapi saya ngambek tak mau makan dan minum karena ingin secepatnya ke alam ini, Maafkan kebodohan muridmu ini guru" Liu jie yang merasa bersalah kini menundukkan kepala dihadapan Shangdi dan berpura pura terisak isak seakan menangis.
Karena tak ingin muridnya terlarut dalam kesedihan, shangdi mengelus kepala Liu jie dengan lembut dan berkata "Baiklah Jie'er tapi mulai sekarang jangan menyembunyikan apapun lagi dari guru ya, nah angkat kepalamu".
Setelah mendengar dan memastikan bahwa gurunya kini telah luluh, Liu jie mengangkat kepalanya dan tertawa "Ahahahahaaaaa guru kena tipu, mana mungkin saya menangis. tapi harus saya akui bahwa guru memang adalah salah satu sosok hebat dalam hidupku bahkan sudah aku anggap ayah sendiri".
"Khyaaaaaaaaaa kaauuuuuu murid durhaka, bisa bisanya menipu guruku terlebih lagi kau sudah anggap aku ayah tapi masih berani menipuku awas kau, nanti pasti guru balas" Shangdi membelalakkan matanya dan memukul kepala Liu jie sampai benjol.
"Aduh sakit tau, guru kan selalu mengerjaiku jadi jangan marah lagi ya, kini kita impas, nih kepalaku juga dah benjol hehe" dengan senyuman khasnya, kini Liu jie menggoda Shangdi sambil mengelus elus kepalanya.
Wen wen, Moyu, Sirei dan Xie xue yang melihat hal tersebut menggeleng gelengkan kepala karena baru kali ini melihat guru dan murid memiliki kekonyolan yang sama.
__ADS_1