
"Tahap kuasa Jurus pedang bayangan pembelah malam Matiiiiii kauuuuuuuuuuuuuu" Serangan komandan itu menciptakan pedang bayangan sehitam malam, ketajaman tebasan itu mampu membuat tombak dan mayat yang dilaluinya terbelah menjadi beberapa potongan.
Dhuarrrrrrrrrr....
Merasa belum puas dengan serangan jurus jarak jauhnya, dia menambah tekanan serangan lewat jurus susulan "Jurus benang hitam". tampak terlihat sebuah benang halus berwarna hitam pekat dari kesepuluh jari jarinya mencoba mengepung Liu jie seakan ingin mengikatnya. setiap benang tampak lembab dan menitiskan air berwarna merah kehitaman.
"Jangan meremehkanku bocah haha, benang ini terhubung dengan jantungku, selama saya masih bernafas maka benang ini takkan putus, aku akan memberitahumu sebuah rahasia jurus ini sebagai hadiah kematianmu, meski benang ini tampak tipis namun kekuatan dan ketajamannya mampu memotong baja sekalipun, dan agar kau tidak mati penasaran biar kuberitahu saya adalah pendekar Benang maut yang legendaris di benua api". dengan sombongnya komandan tersebut tertawa melihat Liu jie dengan ekspresi seakan akan bahwa liu jie hanyalah bocah rendahan yang mencoba terlihat kuat dibalik topengnya.
Dia kemudian mengalirkan energi yang besar kedalam benang tersebut, tenaga dalamnya dipusatkan ke jantung agar mampu bekerja jauh lebih cepat memompa darah. dia memainkan benangnya dengan indah sehingga tampak benang tersebut sedang melilit sesuatu didalam kabut debu akibat serangan jurus pertamanya.
"Kena kau bocah" komandan tersebut bergumam pelan sambil tersenyum sinis. namun setelah debu tersebut menghilang tampak Liu jie sedang jongkok ditanah dengan memegang pedang matahari kearah langit, sehingga yang terikat benang hanyalah pedang tersebut.
Semua mata pasukan benua api yang sedari tadi hanya berdiri dibelakang komandannya, melotot dan tak percaya melihat Liu jie tak menghindar dan hanya jongkok menerima serangan tersebut.
"Pendekar itu tidak main main dengan perkataannya tadi, jika kita melawan maka dipastikan kita akan mati. Komandan benang maut saja tak mampu memberi luka padanya terlebih dengan kita" salah seorang dari mereka mulai merasakan ketakutan yang luat biasa, dia sangat yakin akan binasa jika tak menuruti kemauan Liu jie.
"Ahahahahaaaaaa, hei muka codet sepertinya kamu lupa mengasah benang mu. buktinya pedangku tak apa apa tuh. kamu sungguh melukai perasaanku, dasar tukang boong hahaaaa" Liu jie kembali menunjukkan sikap konyolnya sehingga membuat pasukan musuh yang tadinya ketakutan kini mulai menahan tawa karena melihat langsung sosok komandan yang selalu sok hebat bahkan suka semena mena pada mereka kini dipermalukan dengan telak bahkan setelah menggunakan jurus andalannya.
Kemudian Liu jie berdiri dan melanjutkan kalimatnya "Begini saja, Bagaimana kalau saya memperlihatkanmu cara mengasah senjata biar tajam, oke. Lihat ini".
__ADS_1
Tiba tiba Liu jie Menggerakkan pedang mataharinya yang bermata ganda, hanya gerakan kecil bahkan jika tak diperhatikan dengan seksama seakan pedang itu tak digerakkan.
Clingggg clinggggg
Suara benang yang putus tersebut bagaikan alunan kecapi membuat Liu jie kembali mengejek lawannya "Jiahahahaahaaaa seharusnya benangmu itu dijadikan senar kecapi, suaranya cukup merdu kok hahaha".
Komandan tersebut tiba tiba tersungkur, dia tak dapat berbicara. mata, telinga, hidung dan mulutnya mengeluarkan darah kental akibat efek samping perubahan kecepatan detakan jantungnya, dia merasakan lumpuh disekujur tubuhnya, jantungnya kini berdetak tak karuan akibat pasokan energi yang sebelumnya besar dijantung langsung berkurang derastis hanya dalam hitungan detik.
"Saya sudah memberimu kesempatan hidup tapi tak kau gunakan dengan baik, jika saya tak salah hitung kini hidupmu hanya akan bertahan tiga puluh detik lagi. Bagaimana jika kau menghabiskan dengan berdia dan memohon maaf kepada para dewa, sapa tau saja kamu akan dimaafkan, apa kamu tau kalau dewa neraka itu sangat mengerikan? saran saya mending kamu ketemu hantu daripada dengannya, dia sangat galak hahaha". Liu jie kini duduk dihadapan komandan tersebut yang sudah tak berdaya, dia mencoba mengajaknya untuk bertaubat tapi dengan sedikit ejekan.
Setelah puas mengejek kini Liu jie merapatkan bibirnya ditelinga sang komandan dan membisikkan sesuatu "Karena kurasa dewa neraka sudah menantimu, jangan lupa titipkan salamku padanya nanti jika kau bertemu, bilang cucu dewa matahari yang telah membunuhmu. yaaaa paling tidak kau hanya akan dikuliti dengan belati yang terbuat dari api abadi khihihi".
Menyaksikan kematian dari dekat dalam posisi jongkok tanpa mengedipkan mata membuat mental Liu jie semakin kuat namun tidak dengan barisan pasukan musuh dihadapannya. pemandangan akan sikap Liu jie membuat mereka sangat takut, bahkan bagi pendekar tahap langit sekalipun hal tersebut mampu memberikan gangguan mental dan kejiwaan.
"Sepertinya dia sudah mati" Liu jie mencubit cubit pipi mayat komandan tersebut sambil menopang dagunya dengan tangan kiri. kemudian melanjutkan ucapannya sambil melirik sisa pasukan musuh yang mulai gemetaran "Ahhhhh Pendekar hebat apanya, cepat sekali matinya. Baiklah bagaimana dengan kalian? mau ikut dengan dia atau mau pulang?" Liu jie memandangi mereka dengan senyum karena merasa bahwa mereka pasti takkan menolak penawarannya untuk yang kedua kali.
"Tuan pendekar, kami menyerah. ijinkan kami hidup"
"Tuan jangan bunuh kami, kami punya anak dan istri"
__ADS_1
"Tuan istriku baru saja melahirkan, ijinkan saya pulang"
Mereka menjatuhkan senjata dan berlutut sambil memohon untuk nyawanya dengan alasan yang bermacam macam.
Liu jie pun berdiri dan menyimpan kembali pedang matahari dialam dimensinya sambil tersenyum dia berkata "Baiklah, Sekarang saya mau kalian berbaris rapi, bawa yang yang terluka kedalam kedalam kerajaan batu lima, sampaikan kepada mereka yang berjaga bahwa kalian adalah tahanan pendekar bertopeng. ingat jangan mencoba berulah atau saya akan memberi kalian siksaan yang teramat pedih sampai berharap tak pernah dilahirkan didunia. jika kalian mengikuti perintahku maka kalian akan selamat dan diperlakukan dengan baik disana".
Mendengar perintah Liu jie, mereka semua berbondong bondong membuat 2 barisan teratur, yang sehat memapah yang terluka dan kemudian segera berjalan menuju gerbang timur.
"Terima kasih tuan pendekar, kebaikanmu akan menjadi sebuah legenda pengantar tidur untuk anak anakku" ucap salah satu pasukan tersebut dengan luka tombak yang menembus pundaknya.
Melihat luka orang tersebut yang terus menerus memuncratkan darah, membuat Liu jie segera memegang pundak orang tersebut dan mengalirkan sedikit tenaga dalam pada tapaknya sehingga tapaknya tampak seperti sebuah es. Liu jie menempelkan tapak tangannya pada lobang dipundak pria tersebut dan seketika lobang itu bagaikan tertambal es.
"Jika tiba didalam, segera cari tim medis untuk mengobati lukamu, Es itu tidak akan bertahan lama, tapi untuk saat ini luka yang terbuka telah beku sehingga kamu takkan kehabisan darah" Liu jie memberikan arahan kepada pria yang memapahnya.
Setelah merasa cukup kini Liu jie berteleport kearah pintu Gerbang timur dan menyampaikan maksud kedatangan pasukan yang telah menyerah. setelah menyampaikan perihal tersebut kini Liu jie kembali berteleport ke menara tempat Songhye dan lainnya.
"Maaf agak lama soalnya tadi saya ingin mengajari Sirei maksud dari mengambil dan memberi kehidupan" setelah memberi penjelasan singkat, kini Liu jie yang muncul secara dadakan tersebut kemudian memberi penjelasan tentang semua kejadian digerbang barat hingga pasukan yang menyerah dan menjadi tawanan.
Mendengar penjelasan dari Liu jie, Songhye dan Xiaohe tak berani membantah dan menyetujui kehendak Liu jie untuk membantu para tawanan dan memperlakukan mereka dengan baik sebelum nanti dilepaskan setelah perang usai.
__ADS_1
"Baiklah jika memang itu sudah menjadi keputusanmu, saya yakin kelak mereka akan berutang budi sehingga tak akan menyerang kerajaan kami lagi. tak diragukan lagi Tuan pendekar memang pantas menjadi seorang pemimpin, pemimpin yang kuat, cerdas dan bijaksana" Songhye sangat kagum dan memberi hormat kepada Liu jie.