Legenda Dewa Perang

Legenda Dewa Perang
25. Hadiah dari Liu jie


__ADS_3

Setelah tersadar dari pingsannya, kini wen wen mencoba untuk mengatur pernafasan dan mengontrol dirinya. perlahan bangun dan memberi hormat kepada Shangdi "Maafkan saya Dewa karena merepotkan".


"Ahhh tak apa itu sudah biasa makanya muridku ini tak mau memberitahukan identitasnya, tapi karena kamu sudah tau maka ingat dengan janjimu ya untuk merahasiakan ini semua" Shangdi memberikan senyum namun senyum itu sangat mengerikan bagi wen wen.


"Ii i iyaa dewa saya berjanji" wen wen dengan segera menjawabnya meski terbata bata.


Melihat wen wen sudah bisa mengendalikan diri, akhirnya liu jie menepuk pundak wen wen "kakak jangan takut, guru itu sangat baik. berhubung saya melihat aliran tenaga dalam kakak agak kacau sebaiknya sekarang kakak duduk dibatu itu, saya akan mentransfer sedikit tenaga dalam untuk memperbaikinya".


Wen wen kemudian mengikuti saran dari Liu jie. setelah dia duduk bersila dan fokus tiba tiba dia merasakan sesuatu yang hangat mengalir ditubuhnya, dia merasakan keanehan. bukan hanya tubuhnya yang makin bertenaga tapi dia merasakan energi hangat tersebut perlahan mulai panas.


Karena yakin bahwa Liu jie takkan menyakitinya makanya dia menahan rasa panas tersebut.


Bummm


Sebuah ledakan kecil terjadi, pertanda wen wen kini naik dua tahap dari pendekar bumi tingkat 5 menjadi pendekar raja tingkat 2.


Merasa cukup karena takut tubuh wen wen tak mampu bertahan, akhirnya liu jie mengentikan proses tersebut dan segera mengalirkan energi Qy murninya, kini perlahan tubuh wen wen yang tadi kepanasan menjadi sejuk dan serasa mendapatkan asupan tenaga dalam yang besar.


setelah proses yang singkat itu, wen wen melompat lompat kegirangan sebelum akhirnya dia sadar bahwa ada 4 pasang mata yang sedang memandanginya dengan serius.

__ADS_1


dia kemudian berhenti dan melompat untuk memeluk Liu jie.


"Jie'er kakak merasakan sesuatu yang dahsyat terjadi pada diri kakak, kualitas tulang serta tahap kakak melonjak drastis. kakak tak tau harus bilang apa selain terima kasih jie'er. Dewa maaf tadi sikapku kurang sopan mungkin karena saya sangat senang akan hal ini jadi lupa bahwa sang dewa sedang dihadapanku". wen wen belum melepaskan pelukannya karena sangat kegirangan.


"Kak kakk kakak saya tak bisa bernafas, lepaskan kak atau adik kakak akan menjadi mayat" liu jie sebenarnya tidak kesulitan bernafas tapi ingin menggoda kakaknya karena seakan lupa dunia karena kesenangan.


"Ehehehe kakak lupa, maaf maaf Jie'er" wen wen kemudian melepaskan pelukannya dengan wajah memerah karena malu sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Melihat kelakuan wen wen, Shangdi hanya menggeleng gelengkan kepalanya.


"Kakak anggap itu hadiah kecil dari guru, sekarang kakak istirahat dulu sebentar malam kita akan berangkat ke kerajaan batu lima. tunggulah disini dengan guru, saya akan pergi menangkap ayam hutan okey". Liu jie mengedipkan matanya sebelum langsung menghilang tanpa menunggu jawaban dari guru dan wen wen.


"Khyaaaaaaaaa seharusnya kan saya yang istirahat dan dijaga karena dewa lebih kuat dari saya, ini malah saya yang menjaga dewa. sepertinya sifat konyol Jie'er turun dari gurunya huftttt" wen wen mendengus kesal melihat kelakuan shangdi yang tak jauh berbeda dengan Liu jie.


"Sudahlah jaga saja jangan berisik saya mau tidur" shangdi bergumam sambil menghembuskan nafas yang keras.


"Eitttt ternyata tadi dia dengar, lebih baik saya ikuti kemauannya daripada dia marah khikhikhi" wen wen berbicara sendirk dalam bathinnya karena takut melakukan kesalahan yang sama dan kemudian duduk bersila diatas batu jadi kesannya terlihat wen wen yang dijaga oleh seekor naga.


Dua jam telah berlalu sejak kepergiannya kedalam hutan, dia menemukan banyak binatang buruan seperti rusa, ayam hutan dan sapi liar. Liu jie mulai berfikir, daripada membunuh mereka semua lebih baik ditangkap hidup hidup trus dimasukan kealam dimensi biar berkembang biak jadi kalau mau makan daging sisa mengeluarkannya nanti.

__ADS_1


Setelah merasa cukup dia kembali dengan memikul seekor rusa jantan besar yang mati sebelum sempat memikirkan ide menternak di alam dimensi.


Sethhhhh


Liu jie tiba tiba muncul dimulut gua dengan suara angin yang cukup terdengar kedalam gua. dia berjalan masuk sambil membayangkan nikmatnya rusa bakar "Kakak, guru saya sudah kembali".


Mereka kemudian membakarnya dan menikmati dengan lahap, setelah itu mereka beristirahat agar bisa bersiap berangkat ke kerajaan batu lima dalam kondisi maksimal.


Waktu berlalu dengan cepat, kini matahari telah berganti bulan yang sangat indah memanjakan mata. Wen wen melirik Liu jie dan shangdi yang sedang menatap bulan didepan gua "Mungkin mereka menunggu saya bangun, aduhhh saya merasa menjadi beban aja kalau begini tapi ya mau gimana lagi, yang satu dewa dan satunya lagi murid sekaligus cucu dewa jadi saya rasa wajar aja kalau saya menjadi yang terlemah dikelompok ini khihihi, sebaiknya saya segera menghampiri mereka".


"Guru kira kira kakek lagi apa ya? apa mungkin dia sedang menatap kita dari sana" Liu jie tiba tiba merasakan kerinduan mengingat kakeknya adalah satu satunya keluarga asli yang dia ketahui.


Belum sempat Shangdi menjawab, tiba tiba wen wen muncul dan merangkul pundak Liu jie "Uhmmmmm kamu kangen ya sama dewa matahari? tenang aja jie'er, kakekku selalu bilang bahwa ibu dan ayahku yang kini telah tiada sebenarnya jauh lebih dekat dari yang aku bayangkan, mereka sangat dekat dan tempatnya ada disini. begitu pun dengan kamu, meski jarak kamu dan kakekmu jauh namun sebenarnya dia sangat dekat yaitu disini" Wen wen menyentuh dada Liu jie seakan memberi tanda bahwa dewa matahari sangat dekat karena tempatnya ada dihati Liu jie.


Shangdi yang melihat kedewasaan wen wen dalam bersikap dan berfikir membuatnya semakin yakin bahwa wen wen memang layak disisi Liu jie dalam mengarungi perjalanan di dunia ini.


"Kakak, mungkin pengetahuan saya lebih tinggi tentang isi kitab kitab jurus namun dari segi kehidupan kakak memang yang terbaik" Liu jie mengedipkan mata dan mengangkat jempol kanannya.


"Uhhmmmm baiklah, melihat kalian berdua sibuk saling memuji, mungkin kita berangkatnya besok saja" Shangdi menggoda mereka berdua yang asik saling memuji.

__ADS_1


"Oh iya ya, kalau begitu ayo guru kita berangkat, kakak sekarang naik kepunggung guruku. kita harus segera tiba agar bisa mempelajari situasi terlebih dahulu" Liu jie kemudian melompat naik ke punggung Shangdi yang berbentuk naga dan dalam satu tariman nafas shangdi terbang dengan kecepatan tinggi ke langit malam.


__ADS_2