Legenda Dewa Perang

Legenda Dewa Perang
21. Munculnya Pedang Dewa Matahari


__ADS_3

"Bangunlah kek, saya juga memiliki seorang kakek yang sangat menyayangiku, saya yakin dia sedang mengawasiku dari atas jadi berdirilah dan maafkan saya yang melukai hati kakek, sebenarnya saya sedang sakit gigi karena permen jadi saya hanya bisa melampiaskannya diatas arena" sambil memegang kedua pundak pria sepuh tersebut, Liu jie mengangkatnya berdiri dan membungkuk minta maaf.


"Terima kasih anak muda, kekuatanmu sungguh berimbang dengan kebaikan hatimu" pria sepuh itu memeluk Liu jie dan setelah itu membungkuk hormat sebelum membopong cucunya dan meninggalkan arena.


Fuxing yang melihat kejadian tersebut mulai merasakan sesuatu yang aneh, dia tak ingin menyerah namun tubuhnya tak sejalan dengan otaknya. keragu-raguan mulai menghinggapi perasaannya.


"Sekarang kita bisa bersenang senang, jangan jangan kamu mau menyerah?" Liu jie mengejek Fuxin yang terlihat mulai ragu-ragu.


"Saya akui kamu memang hebat, saya tak dapat mengukur kekuatanmu, yang jelas saya berada jauh dibawahmu akan tetapi dalam kamusku tak ada kata menyerah" Fuxin memasang kuda-kuda bersiap untuk menyerang.


"Baiklah, tapi jangan terlalu memaksakan diri, anggap ini latihan dan jangan lupa kerahkan jurus jurus andalanmu selagi masih mampu, jika tidak maka kamu akan berakhir seperti pemuda lemah tadi okey" Liu jie memgedipkan mata ke arah Fuxin.


"Terserah kamu mau bilang apa"


Fuxin menghunus pedangnya yang bermata ganda dimana kedua sisi pedang tersebut setajam silet, terima ini Tahap kuasa Jurus Pedang bayangan, Tahap kuasa Jurus pedang matahari.



(Ilustrasi Pedang Pusaka Dewa Matahari)


Fuxin melancarkan serangan pertama dengan dua jurus sekaligus dan menebaskan pedangnya kearah Liu jie dari jarak jauh, seketika itu juga tampak aura pedang yang sangat tajam membelah udara, sebelum jurus itu mengenai Liu jie tampak lagi sepuluh pedang yang melingkar mengelilingi Liu jie dari segala arah dengan panas yang menusuk hingga ketulang dan secara bersamaan ke dua jurus tersebut melesat cepat untuk mengoyak tubuh liu jie.


"Jurus pertahanan Kubah dewa" Liu jie seketika membuat pertahanan yang sama saat melindungi wen wen malam itu namun kali ini tanpa rantai segel.


Bummmmmmmmmmmm...

__ADS_1


Suara dahsyat menggelegar saat kedua jurus Fuxin menghantam perisai kubah dewa milik Liu jie. Asap tebal membumbung tinggi, perlahan asap tersebut mulai menghilang dan tampak terlihat kubah dewa milik Liu jie memgalami keretakan.


"Aura pedang ini, tidak salah lagi ini aura pedang milik dewa matahari, tapi kalau tidak salah dewa matahari memberikan pedangnya kepada nenekmu dulu sebagai kenang-kenangan sebelum kembali ke alam dewa" Dewa naga emas menyampaikan informasi ini kepada liu jie karena merasa pedang ini seharusnya tidak berada di tangan Fuxin.


"Apa benar itu guru, tapi saya memang merasa ada yang aneh dengan aura pedang itu, sekilas sejenak saya merasakan aura kakek namun saya tak menyangka jika pedang itu mengeluarkan aura kakekku".


Kini Liu jie penasaran, dia yakin jika mampu membuat fuxin berbicara maka secara otomatis dia dapat mengetahui keberadaan neneknya. dengan rasa penasaran tinggi, dia membuyarkan kubah dewanya dengan sekali kibasan tangan dan berjalan menuju Fuxin.


Fuxin yang tak tau maksud kedatangan Liu jie kemudian meningkatkan kewaspadaan dan ingin menyerang liu jie sekali lagi melalui serangan jarak dekat. Dia memasang kuda kuda untuk menyerang, dengan kecepatan tinggi dia melesat dan berputar kebelakang dan mengincar titik buta liu jie.


"Jurus Pengoyak langit" Fuxin menghunuskan pedangnya dengan menggunakan sisa energi tenaga dalamnya tepat ke arah jantung Liu jie yang sedang membelakanginya, hawa panas yang dikeluarkan pedang tersebut membuat pedang itu membara akibat mendapatkan pasokan tenaga dalam yang besar. Telapak tangan Fuxin melepuh karena tak mampu menahan panas pedang matahari, akan tetapi rasa haus kemenangan membuatnya menahan rasa sakit perih tersebut.


Namun sebelum pedang itu menusuk tubuh liu jie, Pedang tersebut tiba tiba terjatuh dari tangan Fuxin.


"Ada apa ini, baru kali ini pedangku seakan menolak membunuh musuhku. Bahkan pedang ini seakan melawanku, dia menghisap energi Qi ku dalam jumlah besar lebih dari sebelumnya" Fuxin yang mulai melemah akibat hampir kehabisan energi mulai merasakan keanehan pada pedang tersebut.


Fuxin dengan sigap segera ingin meraih pedang pusaka pemberian kakeknya, namun saat tangannya meraih pedang itu, dia sangat kaget. Pedang yang selama ini menemaninya kini tak dapat disentuh seakan tangannya menembus gagang pedang, bagaikan memegang bayangan pedang.


Melihat kejadian itu, Liu jie mencoba untuk mengambil pedang tersebut dan hasilnya malah membuat mata Fuxin melotot keheranan.


"Kau, siapa kau sebenarnya? mengapa tiba tiba pedangku menurut padamu?" Fuxin mencoba memahami keadaan.


"Bukankah sudah kubilang, sepertinya pusaka ini telah memilih tuannya, jadi saranku menyerahlah. sekarang tubuhmu membutuhkan perawatan medis dan senjatamu telah menghianatimu jadi tak ada alasan lagi untuk bermain denganku, oh ya sebaiknya mulai hari ini kamu menambahkan 1 kosa kata dalam kamusmu yaitu menerima kekalahan" Liu jie menatap Fuxin dengan tatapan dingin.


Melihat kondisi tubuhnya yang sudah tak berdaya, telapak tangan yang melepuh serta pedangnya kini menghianatinya membuat Fuxin berpikir "sepertinya apa yang dikatakan pendekar bertopeng ini benar". Dia kemudian memberi tanda menyerah dan menyerahkan sarung pedangnya kepada liu jie.

__ADS_1


Melihat Fuxin menyerah, Liu menghampirinya dan membantunya berjalan turun dari arena. penonton yang melihat tindakan liu jie, menunjukkan kekaguman. mereka semua melihat sosok pendekar hebat yang berjiwa besar.


kaisar Qyu wei orang pertama yang bertepuk tangan melihat sikap Liu jie yang bagaikan pendekar sejati kemudian diikuti tepukan tangan bergemuruh diseluruh podium penonton.


"Anak muda, jika dewa mengijinkan maka dimasa depan saya berharap kamu menjadi salah satu pilar kekaisaranku di benua besi" ucap kaisar dalam hatinya.


Melihat sikap Liu jie yang menghormati priansepuh kakek Yao ming serta membopong Fuxin turun arena membuat wasit melompat membantu Liu jie dan menyerahkan Fuxin ke tim medis. setelah itu dia kembali kearena dan mengumumkan kemenangan Liu jie.


"Sungguh pertandingan yang hebat, baiklah sekarang dipersilahkan kepada peserta yang tersisa untuk menantang peserta lainnya berduel" ucap wasit tersebut.


Sedangkan Liu jie menyarungkan pedang dewa matahari di pinggangnya dan kembali ke ruang tunggu peserta dan mendatangi wen wen yang tampak bangga dengan pertunjukan Liu jie barusan.


"Kak saya sudah membereskan salah satu peserta yang hebat, semoga kakak bisa menang semangat" Liu jie mencoba memberi semangat kepada wen wen dengan kedipan mata kemudian meninggalkan wen wen dan segera mencari tempat sepi untuk memeriksa pedang tersebut.


Setibanya di bawah sebuah pohon yang cukup rindang dan sepi, Liu jie berniat mencabut pedang itu dan mengamatinya dengan seksama. Mata Liu jie terbelalak ketika pedang itu seakan hidup dan keluar sendiri dari sarungnya. dengan cahaya keemasan yang memancarkan aura hangat penuh kedamaian membuat jiwa Liu jie serasa tenang.


"Hahahaaaa sepertinya sudah lama sekali, Anak muda saya yakin merasakan keberadaan tuanku didalam aliran darahmu dan sebuah aura yang sangat kuat mengelilingimu, kalau tak salah ini aura dewa naga emas. kalau boleh tau siapa kamu sebenarnya" tiba tiba sebuah suara muncul namun tak ada sosok yang tampak.


"Hei pedang bodoh, sepertinya tinggal terlalu lama didunia membuatmu menjadi lemah" sahut Dewa naga emas yang mengeluarkan tangannya berbentuk tinju dari kulit Liu jie dan memukul pedang itu sehingga cahaya pedang itu redup sejenak sebelum kembali bercahaya.


"Khyaaaaaaaaaaaaaa Dewa Naga emas, apa yang kamu buat ditubuh bocah ini? siapa dia sebenarnya?" Pedang itu mengeluarkan suara dengan nada terkejut.


"Perkenalkan saya Liu jie, satu satunya keturunan dari Dewa matahari dan Dewa naga emas adalah guruku" Liu jie memperkenalkan dirinya dengan sopan karna dia paham pedang ini tentu kesayangan kakeknya dimasa lalu.


"Ohhh begitu, khyaaaaaaaaaaa ap paaaa tunggu sebentar" lagi lagi pedang itu terkaget mendengar liu jie dan berkomunikasi lewat fikiran dengan dewa naga emas.

__ADS_1


"Jangan bilang bocah ini adalah sosok yang diramalkan kaisar langit 2000 tahun yang lalu tentang kemunculan sosok dewa perang?" pedang itu mencoba memastikan ramalan kaisar langit karena selama ini dia telah buta tuli selama didunia manusia apalagi ditangan fuxin yang lemah.


Mendengar itu, Dewa naga menjawabnya dengan kening berkerut "Saya pun tak tau pasti tapi dari apa yang saya lihat selama menjadi gurunya, semua ciri cirinya persis sama dengan ramalan kaisar langit. Bocah ini terlahir di tengah perang dahsyat, Dia mampu menguasai beberapa jurus dikitab kitab kuno alam dewa baik itu kitab terlarang dijalan kebaikan maupun jalan kegelapan dan terakhir dia berasal dari keturunan dewa yang hebat, meski ciri ciri keseluruhan lainnya belum terpenuhi akan tetapi ketiga ciri ciri lainnya sudah terbukti. Saya jadi curiga bahwa bocah ini adalah reinkarnasi sosok Dewa Perang yang menghilang secara misterius 2000 tahun yang lalu".


__ADS_2