
Suara sorak sorai yang penuh dengan semangat juang menggema hingga ke bukit tempat Singa api. Liu jie kini memberi tanda kepada Wen wen dan Xie xue untuk merapat sedangkan Moyu kembali kedalam tubuh wen wen dan Sirei pun kembali ke alam dimensi Liu jie.
Liu jie mengumpulkan mereka karena ingin membahas rencana penyerangannya sebelum kaisar Qiu wey dan rombongan bala bantuan tiba, xie xue pun mengajak mereka untuk masuk kedalam gua tempat xie xue mengasingkan diri.
Setibanya dimulut gua, Xie xue tiba tiba menghentikan langkah Wen wen dan memintanya agar tetap fokus mengikuti arah langkah kaki xie xue "Tuan dan nona wen ikuti setiap langkahku karena jika tuan dan nona wen memijak tanah selain jalan yang kupijak maka akan mengaktifkan perangkap perangkap yang sudah kupasang bahkan saya sendiri pernah hampir mati oleh perangkapku sendiri".
Kemudian mereka berjalan memasuki gua tersebut sesuai dengan arahan xie xue. gua tersebut cukup dalam dan semakin jauh kedalam gua itu semakin menukik hingga keperut bumi. akhirnya mereka tiba di ujung gua, terdapat empat buah lobang berbentuk telapak singa di sudut sudut pintu.
"Baiklah tuan, tolong mundur sedikit" ucap xie xue. Liu jie dan wen wen pun menurutinya.
"Jurus segel empat tapak" Xie xue mengarahkan telapak kanannya kearah pintu seketika itu juga muncul bola api dan memecah diri menjadi empat buah tapak singa berwarna merah pekat dan memancarkan aura panas.
Keempat tapak tersebut seakan terserap ke masing lobang tapak tadi, tiba tiba pintu batu tersebut bergeser dan tampak sebuah ruangan yang sangat indah, didalam ruangan tersebut terdapat sebuah kolam air panas dan sebuah batu ditengah tengah kolam seukuran 5 x 10 meter. dipojok ruangan terdapat semacam altar tempat Xie xue biasanya berlatih pemusatan fikiran.
"Maaf tuan tempat saya sangat sederhana" Xie xue kemudian mengajak mereka ke altar untuk segera membahas rencana Liu jie.
"Jadi apa rencanamu Jie'er?" dengan menopang dagunya wen wen melirik Liu jie, mencoba untuk mencerna sebenarnya apa yang difikirkan oleh Liu jie. begitupun dengan xie xue dia terlihat sangat fokus karena yakin rencana yang akan dibuat oleh murid sang dewa pastilah sesuatu yang hebat.
"Baiklah sebenarnya rencanaku ini amat jitu, dan saya yakin akan berhasil tapi sebagai adik yang berbakti maka saya ingin menunjukkan kepada kalian semua keahlian kakak Wen wen sebagai pendekar jenius strategi, Ayo kakak wen wen silahkan sampaikan apa rencana yang terbaik" Liu jie melirik wen wen sambil tersenyum licik.
"Khyaaaaaaaa apaaaaaa jadi ini rencanamu" Mendengar ucapan Liu jie, mereka semua seakan hampir muntah darah, Xie xue melotot tak percaya bahwa Liu jie sebenarnya tak punya rencana dan melempar tanggungjawab ke wen wen. wen wen pun tak kalah dia lompat lompat menunjuk Liu jie sambil mengoceh tak jelas.
Shangdi, Sirei dan Moyu tak kalah kagetnya, namun mereka meluapkan kekagetan dengan tertawa terbahak bahak melihat sikap Liu jie.
berbeda dengan Liu jie, dia malah berbaring di altar sambil tertawa menunjuk wen wen dan xie xue yang telah masum jebakan kekonyolannya.
"ya sudah kalau begitu biar saya yang menyusun strateginya" Wen wen kemudian angkat bicara namun nafasnya masih tersengal sengal setelah meluapkan ekspresi barusan.
__ADS_1
"Jika saya berada diposisi jenderal maka saya akan mengirim seperduapuluh pasukan untuk maju sebagai alat pengukur kekuatan lawan. jika kekuatan lawan mampu mengatasinya dengan mudah maka saya akan mengirim gelombang kedua dengan kekuatan Sepersepuluh, jika kekuatan ini mampu membuat lawan terpojok maka saya akan mengirim gelombang ketiga seperdelapan pasukan untuk menambah daya gempur gelombang ke dua sehingga memberikan tekanan rasa takut dan putus asa yang luar biasa pada hati lawan. dalam peperangan musuh yang sebenarnya adalah perasaan tersebut, jika berhasil menghancurkan mental lawan dengan memberikan rasa putus asa maka membuat lawan menyerah bagaikan membalik telapak tangan. Sampai sini kalian faham maksud saya" Wen wen melirik mereka sebelum melanjutkan inti rencananya.
"Iya kami faham" sahut xie xui dan Liu jie.
"Nah, jika memang demikian maka gelombang pertama biarkan pasukan kerajaan batu lima yang menghadapinya sehingga musuh terpancing mengirim gelombang kedua. di gelombang inilah saya dan kak Moyu akan bergabung dengan pasukan kerajaan batu lima, saat ini saya dan pasukan akan mundur dan bertahan seakan terdesak sehingga mereka menganggap mengirim gelombang ke tiga untuk membantu pasukan kekaisaran benua api pada gelombang ke dua tadi akan menghancurkan mental pasukan kerajaan api.
setelah pasukan itu bergabung, maka kalian segera muncul diantara jenderal dengan pasukannya yang tersisa dan pasukan gelombang yang kami hadapi.
Xie xue buatlah batas garis api yang besar diantara kedua pasukan yang terpisah, biarkan kami urus pasukan gelombang ke dua dan ketiga, kemudian kalian urus para jendral dan pasukannya yang belum bergerak, Saya harap kalian faham dengan penjelasanku sehingga tak ada kesalahan nantinya yang akan merugikan kita" ucap Wen wen kali ini dengan nada yang sangat serius.
"kakak memang yang terbaik" Liu jie mengacungkan jempolnya sambil tersenyum sumringah. kemudian Liu jie berfikir sejenak dan memotong pembicaraan wen wen "Uhmmmm saya yakin strategi kakak pasti berhasil tapi saya mendapatkan ide yang lebih baik, sebuah ide yang tak akan memakan korban dari pihak kerajaan batu lima dan meminimalisir korban dari lawan".
"kalau memang kamu punya ide sekarang utarakan biar kita semua faham" Wen wen mendengus kesal karena setelah menjelaskan panjang lebar ujung ujungnya Liu jie akan menggunakan idenya yang entah apa dan datangnya dari mana.
"Ini adalah sebuah kejutan kak, nanti saya beritahukan rencana hebatku saat waktunya tiba. Sekarang kita harus bergabung dulu dengan pihak kerajaan batu lima, saya tak bisa berteleport kesana karena tak tau tujuan jadi satu satunya jalan adalah menunggangi Xie xue". Liu jie kali ini memasang ekspresi yang sangat serius agar mereka tak mencurigai dan banyak bertanya tentang ide hebatnya.
Melihat kedatangan Xie xue sang singa api legendaris Kekaisaran benua api bersama pemuda bertopeng dan pendekar wanita cantik membuat penjaga gerbang utara panik dan segera membunyikan lonceng darurat sehingga membuat Xiaohe dan Songhye segera menyuruh pasukan bersiaga, sedang mereka berdua dan sekitar 200 prajurit elit melompat dan berlari dengan kecepatan penuh menuju gerbang utara.
"Tuan sepertinya mereka berfikir kita ada dipihak musuh, uhmmm mungkin karena identitas saya tuan" Xie xue memandangi Liu jie dengan perasaan bersalah.
"Tenang, jangan khawatir saya yakin mereka tidak akan menyerang kita, mengingat situasi mereka berada diposisi bertahan" Liu jie membelai kepala xie xue agar tak menyalahkan diri sendiri.
Tak berselang lama Xiaohe dan Songhye beserta prajurit elitnya tiba digerbang utara.
"A aa apaaa Singa api legendarisssss, semuanya bersiap" Seru Songhye kepada pasukannya.
Pasukan pemanah bersiap diatas menara sedangkan Xiaohe beserta prajurit elit memasang kuda kuda dengan masing masing senjata yang sudah terhunus kedepan.
__ADS_1
Melihat respon mereka, Xie xue geleng grleng kepala dan melirik Liu jie "Tuh kan tuan benar dugaanku".
"Sudah jangan salahkan dirimu, biar saya yang bicara. kamu jaga wen wen ya" Liu jie lagi lagi mengusap kepala xie xue dengan lembut sambil tersenyum sebelum melangkah kearah Songhye dan pasukannya.
"Tuan, perkenalkan saya Liu jie. Saya beserta kelompok ini adalah bala bantuan dari kaisar Qyu wei, namun kami lebih dulu sampai disini mengingat Kaisar dan para pendekar lain harus memakan waktu untuk mempersiapkan segala hal termasuk pasukan dan perlengkapan perang".
Raja Songhye tak serta merta menelan ucapan Liu jie karena takut ini jebakan, kali ini melirik Xie xue namun tatapannya itu sudah bisa ditebak oleh Liu jie.
"Anda tenang saja, identitas masa lalu Singa api biarlah terkubur dimasa lalu, kini dia adalah hewan tungganganku yang berarti kini dia menjadi pengikutku dan wanita itu adalah kakakku Wen wen" sambung Liu jie untuk menjawab kekhawatiran Songhye.
Tiba tiba salah satu prajurit elit yang memang menjadi orang kepercayaan Xiaohe dan Songhye berteriak karena mengenali wen wen.
"Wen wen kaukah itu?" ucap prajurit tersebut.
"Senior Yan ternyata kamu menjadi pasukan elit kerajaan batu lima, pasti kakek sangat bangga terhadap senior" Wen wen yang mengenali prajurit tersebut langsung memberi hormat.
"Apa kamu mengenalnya Yan?" Xiaohe dan Songhye melontarkan kalimat pertanyaan yang serentak.
"Paduka raja, jenderal Maafkan saya sebelumnya, dulu saya pernah cerita tentang asal muasal perguruan saya sebelum mendaftar menjadi pasukan elit, segala kemampuan yang saya miliki berasal dari sekte tersebut dan wanita didepan sana adalah juniorku sekaligus satu satunya cucu Ketua agung sekte Harimau putih". prajurit Yan menjelaskan secara rinci agar tak terjadi kesalahfahaman.
Setelah mendengar penjelasan prajurit elit kepercayaannya, Songhye memberikan kode untuk menurunkan senjata dan menghampiri Liu jie "Maafkan saya pendekar bertopeng, keadaan membuat kami harus ekstra waspada. Terima kasih kalian sudah jauh jauh datang kesini, saya yakin meski kalian hanya bertiga akan tetapi instingku berkata bahwa keadaan akan berubah" kemudian dia membungkuk hormat kepada Liu jie dan kelompoknya.
Merasa masih belum cukup memberikan hormat, Songhye pun menghampiri Xie xue dan membungkuk "Salam hormat kepada sang legendaris, sudi kiranya sang legenda memaafkanku atas kejadian barusan yang menyinggung sang legenda, saya pribadi memohon agar sang legenda mau mengulurkan bantuan kepada kami yang lemah dan begitupun dengan anda nona sungguh kekhawatiran membuatku buta hingga tak mengenali cucu pendekar yang hebat di benua ini".
"Sebenarnya jika ada orang yang pantas menerima permohonan maaf anda, maka orang itu adalah tuanku yang disana, asal kau tau meskipun ada 100 Singa api sepertiku, jumlah itu sangat jauh dari cukup untuk membuatnya termundur satu langkah" Xie xue memberikan teguran keras dengan nada sedikit meninggi kepada Songhye karena seakan menganggap Liu jie hanyalah pendekar rendahan.
Mendengar ucapan Xie xue membuat Songhye serta semua yang ada disitu melotot dan kaget karena tak menyangka bahwa pendekar bertopeng Liu jie memiliki kerendahan hati dibalik kekuatannya yang teramat dahsyat.
__ADS_1