Legenda Dewa Perang

Legenda Dewa Perang
14. Permainan Liu jie


__ADS_3

"Pertandingan berikutnya adalah pertandingan yang terakhir sekaligus akan menjadi penutup acara hari ini dan tampaknya para peserta berikutnya sudah tidak sabar, baiklah peserta dengan nomor urut seratus dua puluh satu sampai seratus empat puluh silahkan memasuki arena" melihat semangat para peserta, tampaknya akan ada pertunjukan yang menarik humm begitulah bathin wasit kali ini.


"Jie'er semangat, oh iya kalau kamu menang nanti kakak belikan permen coklat kacang tapi ingat pesan kakak tetap fokus pada pertandingan dan jangan gegabah" kini wen wen mencoba memberikan semangat namun dalam hatinya dia tampak ragu apalagi dia merasakan Liu jie hanya berada di tahap pendekar bumi pertama.


"Jie'er saya tak tau batas kemampuanmu tapi jika kau sudah mencapai batas jangan memaksakan diri, saya yakin kamu faham maksudku" Guru Jun pun ikut memberi nasihat kepada Liu jie karna dia sangat yakin jika sesuatu terjadi pada bocah ini tentunya akan mengguncang bathin Wen wen dan tak menutup kemungkinan akan memecah fokus wen wen pada ronde berikutnya.


"Kakak dan Bibi Jun tak usah khawatir, saya tak kan melepaskan hadiah itu karena dengan menjadi juara tentunya saya akan bergelimpangan permen hahahaha, uhhuk uhhukk" dengan percaya diri Liu jie membalas nasihat mereka berdua dengan tatapan mata penuh permen.


Ya wajar sajalah meski kondisi tubuhnya selayaknya pemuda berusia remaja namun umur dan jiwanya masih tergolong bocah. sontak saja jawaban dari Liu jie membuat Wen wen dan master Jun hampir muntah darah melihat Liu jie yang memandang pertandingan ini hanya sebatas banjir permen, sedangkan para peserta lainnya bahkan tidak melirik hadiahnya, bukan karena hadiahnya tak menarik akan tetapi mengukir nama dalam dunia persilatan tentulah hadiah fantastis yang takkan ternilai harganya.


Kini semua peserta sesi terakhir telah menaiki arena, mereka saling pandang mencoba untuk saling ukur dan mencari target yang termudah hingga yang tersulit.


"Untuk mempersingkat waktu sebaiknya pertandingan ini segera kita mulai, apa kalian semua sudah siap?" tanya wasit pertandingan kepada semua peserta.


"Ayolah senior, tak mungkin kan kami naik ke arena jika tak siap" dengan nada sombong Shin menjawab wasit tersebut namun sebenarnya itu hanyalah trik untuk memprovokasi lawan lawannya dan ternyata triknya berhasil.


"Hei kau, saya tau kamu adalah seorang putra dari bangsawan namun jangan sangka dengan latar belakangmu itu saya akan segan membuatmu lumpuh seumur hidup" teriak salah satu peserta yang tampaknya terprovokasi oleh Shin.


"Sudah sudah daripada kalian ribut kaya penjual ikan dipasar, mendingan kalian buktikan dalam pertarungan okey. baiklah semuanya pertandingan dimulai Gonggggggggg" kemudian wasit melompat menjauh dari arena seakan dia tau bahwa dalam 1 kedipan mata arena akan menjadi lahan pertempuran tanpa ampun.

__ADS_1


"Bersiaplah kalian Jurus Ilusi Lautan darah" Shin memulai serangannya dengan sebuah ilusi tingkat tinggi dan tampak arena berubah menjadi lautan darah yang sangat nyata bahkan bau amis serta mayat yang terombang ambing dilautan seakan membuat lawan lawannya tak dapat menyadari bahwa ini hanyalah ilusi kemudian disusul dengan Jurus pemanggil Iblis, seketika dari lautan darah itu muncul Ikan Hiu dengan tatapan mata yang berapi seakan semua lawan Shin adalah target dan tujuan hidupnya.


mereka yang terlambat menyadari jurus Shin akhirnya terjebak tak berdaya, mereka tenggelam dalam lautan darah serta paru paru mereka seakan sesak karena penuh dengan cairan berbau amis, dalam hitungan detik sembilan peserta muntah muntah sebelum tersungkur tak sadarkan diri. berikutnya enam peserta yang masih mampu berdiri dengan sempoyangan mencoba lepas dari jurus ilusi tersebut namun jurus pemanggil iblis hiu milik shin tak memberi kesempatan dan menyerang keenam peserta yang masih mencoba lepas dari jurus ilusi lautan darah sehingga mereka langsung terhempas dari arena karena mendapatkan serangan susulan dari ikan hiu ilusi milik Shin.


"Wahhhh anak itu sungguh hebat, jurus ilusinya sangat sempurna bahkan aura energi dari jurusnya terasa sampai disini" ucap salah seorang dari kursi tamu undangan.


"Jurus kesepuluh tatapan cahaya" teriak zao, Pemuda yang tadi terprovokasi oleh shin tiba tiba melompat ketengah tengah arena dengan tatapannya yang mengeluarkan aura putih disertai energi yang meluap luap seakan semua yang ditatapnya akan menjadi netral. akhirnya dengan jurus tersebut dia mampu lepas dari jeratan jurus gabungan milik shin.


"Jurus Elemen tanah: tumbuhan pelindung" Terdengar suara lantang dari sudut arena dan tiba tiba dari dalam tanah keluar akar rambat berduri yang mengelilingi tubuhnya sampai membentuk sebuah mangkuk terbalik. Kemudian dari pori pori akar tersebut keluar semacam gas berwarna hijau pekat dan segera menyebar ke seluruh arena pertandingan.


"Ii i inii adalah rac-" belum selesai mengatakan racun salah satu peserta yang berada didekatnya langsung terkapar dengan tubuh perlahan lahan berubah menjadi hijau pekat setelah kulit lengannya terkena gas beracun.


Konsentrasi shin seketika buyar dan menjadi waspada setelah mengetahui bahwa itu adalah racun dan melompat menjauh "itu itu jika tak salah itu akar bumi yang digadang gadang sebagai tumbuhan yang sangat langka dan akan mengeluarkan gas beracun sebagai bentuk pertahanannya" ucap shin.


Sedangkan bagi zao, meski dia menggunakan tatapan cahaya yang mampu menetralkan jurus ilusi tingkat tinggi, tetap saja itu takkan berpengaruh terhadap racun. Dia berpikir bahwa kali ini dia akan tamat mengingat semua keahlian dari jurus jurusnya hanya diruang lingkup jurus penyerangan jarak dekat sedangkan tidak ada carabuntuk mendekati pria yang bersembunyi dalam akar beracun tersebut.


"Sebaiknya saya menyerah sebelum racun itu mengenai tubuhku" Wasit saya menyerah, teriak Zao yang melompat keluar dari arena pertandingan dan segera menjauh.


"Semuanya tahan nafas kalian" teriak Shin yang masih mencoba bertahan diarena.

__ADS_1


"ehh kemana pemuda bertopeng tadi?" dalam situasi yang genting, shin mencoba mencari keberadaan Liu jie karena sekarang hanya mereka bertiga yang tersisa diatas arena dan shing belum melihat diri Liu jie sejak tadi.


"Hei lelaki sombong, kau mencariku? apa kau membutuhkan bantuanku?" tiba tiba terdengar suara dari Liu jie namun wujudnya tak nampak diatas arena hingga membuat shing jadi semakin meningkatkan kewaspadaannya.


"Hahahaha ternyaya memang benar kata kakekku kalau Tong kosong nyaring bunyinya, pertama engkau terlalu sombong dan arogan di atas kudamu saat memasuki gerbang benua besi, diawal pertandingan kamu lagi lagi menunjukkan sikap yang sama dan ternyata sekarang melawan racun saja kamu sampai ketakutan, begini saja bagaimana kalau kamu teriak dengan keras minta maaf pada dewa dewi dikayangan atas sikap sombongmu dan sebagai balasannya saya akan menghajar si pembuat racun itu untukmu hahaha" sepertinya enak juga ya mengerjai orang khikhikhi Liu jie tertawa dalam bathinnya.


"Sepertinya menarik, lebih baik saya ikuti permainannya dulu dan membiarkan dia bertarung dengan si manusia akar itu. toh kalau dia menang paling tidak dia akan terluka parah karna racun jadi saya bisa menghabisinya dengan mudah, kalaupun dia kalah kan saya tidak rugi karna pendekar akar racun brengsek itu pun pasti akan melemah karena serangan dari pemuda hantu itu. ahhh sepertinya ini strategi yang menarik" fikir shin.


Kemudian dengan senyum liciknya, Shin berteriak sesuai dengan kemauan Liu jie dan setelah tindakan yang memalukannya itu dia berteriak "Sekarang Giliranmu".


"Lihatlah diatas" Liu jie mencoba memberitahu lokasinya kepada Shin. dan tentu saja Shin dan semua mata yang hadir menyaksikan pertarungan itu menjadi terbelalak tak percaya melihat seorang pemuda bertopeng melayang tinggi dan sedang duduk diatas Awan sambil makan permen.


"Diii iii iaaa diaaa tak mungkin dia tak mungkin bisa melakukan hal itu, bukankah pemuda itu hanya berada di tahap pendekar bumi pertama? namun yang dilakukannya itu bahkan hanya dapat dilakukan pendekar kaisar tahap 5 keatas" wasit pertandingan berteriak dengan keras dan seakan tak percaya dengan pemuda yang dilihatnya.


Wen wen dan master Jun pun tak kalah kagetnya, berulang kali ia mengucek ngucek matanya berharap salah namun apa yang dilihatnya sekarang adalah Liu jie yang tengkurap diatas awan sambil melambai lambai ke arah kelompok Wen wen dan berteriak "Kakak, bibi Jun kapan kapan kita nonton pertandingan dari atas sini saja, dari atas pertandingan akan terlihat lebih seru loh".


Wen wen dan Master Jun bukan lagi seakan mau muntah darah tapi pembuluh darah mereka serasa hampir pecah melihat kemampuan Liu jie yang sangat besar namun Liu jie hanya menganggapnya seakan rekreasi.


"Hummm sebaiknya saya tak menunda ini lebih lama, lagian stok permenku di alam dimensi juga sudah habis. baiklah hajar si pembuat onar racun dulu terus tendang pantat bangsawan yang tak bermoral itu khikhikhi"

__ADS_1


__ADS_2