
Belum sempat gadis itu menyelesaikan ucapannya, Liu jie segera menjawab " Iii i i iya nona kebetulan saya juga tidak punya teman minum arak hehe".
Melihat kejadian ini membuat pendekar yang sebelumnya mencoba merayu gadis tersebut akhirnya geram.
"Kurang ajar, siapa bocah itu berani beraninya mengambil kesempatan dalam kesempitan"
"betul kak, seharusnya kakaklah yang menemani gadis secantik itu"
"Kali ini dia tidak akan selamat, akan kurobek wajahnya yang tampan hahaha"
Dengan sikap angkuh, Ketiga pendekar tersebut kini menghampiri meja Liu jie, "Anak muda, jauhi gadisku jika tidak akan kubuat kamu menyesal dan seumur hidup akan kehilangan ketampananmu".
"Hahahaa baiklah baiklah, silahkan duduk tuan, lagian dia bukan gadisku dan saya memang berencana untuk makan dimeja sudut sana. oh ya kakak cantik, saya sdh menemanimu minum arak, kini saya harua pergi ckckck" Liu jie kini berdiri dan berjalan kearah sudut.
"Cih dasar pengecut" Gadia tersebut ngedumel tak menyangka Liu jie akan kabur.
setelah ngedumel, gadis itu segera mengalihkan tatapannya ke pada para pendekar tersebut "Apa yang kalian inginkan, cepat katakan atau kamu akan menyesal sudah menggangguku".
"Baiklah baiklah jangan marah begitu, bukankah lebih baik jika kami menemanimu minum arak" Ketua dari kelompok tersebut mencoba mengambil kesempatan kedua.
"Sayangnya wajahmu membuatku jijik, sebaiknya kalian pergi dari hadapanku" Gadis tersebut memberikan tekanan aura dingin yang luar biasa kepada mereka sehingga membuat nafas para pendekar tersebut seakan membeku.
__ADS_1
"Jie'er sepertinya gadis itu bukan gadis sembarangan, aura tekanan yang dia keluarkan saja begitu besar" Shangdi kali ini mencoba memberi tahu Lie jie untuk tak berurusan dengan gadis tersebut.
Mendengar penjelasan Shangdi, tak membuat Liu jie kehilangan fokus pada makanannya. dia tetap lahap menyantap pesanan pesanan yang bahkan membuat shangdi tergiur.
plakkkkkkkk
Tiba tiba cangkir arak mendarat dimeja Liu jie, aura dingin membuat bulu kuduknya merinding.
"Sekali lagi kamu meninggalkanku maka akan kuikat kakimu diujung bambu dan kujadikan mainan buaya" tatapan tajam dari gadis tersebut kini merasuk ketulang sum sum Liu jie.
"Nona jangan salah faham, paras nona sungguh menawan hingga saya takut nanti jatuh cinta nona hehe" Liu jie membawa suasana tersebut dengan canda.
"terus kalau jatuh cinta kenapa, asalkan kamu tidak kabur lagi terserah mau jatuh cinta cinto cinti cinte tak masalah, ingat jangan kabur. Sekarang saya lapar cepat bagi daging asam manis itu" tanpa menunggu persetujuan Liu jie, Gadis tersebut mengambil daging yang sisa lima centi meter lagi dari mulut Liu jie.
Sambil mengunyah dan sesekali meneguk arak, gadis tersebut seakan merasa sangat puas. tiba-tiba dia berhenti mengunyah dan melirik kearah Liu jie yang sedang menganga dengan mata yang membelalak "Hei apa yang kamu lihat mau ku tonjok matamu".
"Ahhhh tidak tidak tidak, saya hanya penasaran, tak mungkin gadis serupawan ini tak punya nama kan" Liu jie dengan sigap mengalihkan perhatian dengan mencoba mencairkan situasi.
"Apa kamu tidak pernah diajar sopan santun, kalau sedang makan jangan bicara nanti tersedak, ahhhh sepertinya kamu harus saya ajari sopan santun" Gadis itu kembali melotot kearah Liu jie dengan kening yang terangkat sebelah.
Mendengar dan melihat apa yang barusan dikatakan gadis tersebut membuat Liu jie bertanya ke shangdi "Guru, sepertinya gadis ini gila guru, nyata nyata dia yang tak punya sopan santun hahahaaaa".
__ADS_1
"Hahahhaa iya Jie'er kayanya kabel kabel otak manusia satu ni dah putus hahahaaa, guru kira cuma kamu yang sedeng ternyata masih ada yang lebih parah buahahahaaaa". Shangdi tertawa terbahak bahak seakan akan sedang menonton hiburan komedi.
"Baiklah sekarang saya sudah makan, perkenalkan namaku Jiao Huanran. siapa namamu?" dengan memainkan tusuk giginya gafis tersebut memandang Liu jie dengan alis tetangkat.
Mendengar nama gadis tersebut, Shangdi semakin menjadi jadi tertawa, begitupun dengan Liu jie. meski ekspresi Liu jie tampak serius tapi didalam fikirannya dia tak kalah kerasnya tertawa dibanding Shangdi.
"Wah nama yang bagus Jiao Huanran, sesuai dengan orangnya Cantik dan periang. saking cantik dan periangnya sampai bisa membuatku terpana hehe" Liu mencoba bertutur kata yang halus namun wajahnya memerah bukan karena memuji tetapi tak mampu menahan tawa akan fakta yang terjadi dihadapannya.
Mendengar jawaban Liu jie, Huanrang pun tersenyum dan mengibaskan rambutnya, harum semerbak tercium menusuk kehidung Liu jie.
"Sepertinya kali kamu kumaafkan, kamu memang pandai melihat bintang yang bersinar terang diantara berjuta bintang hahahaha" Huanrang tertawa terbahak bahak.
Melihat hal ini membuat Liu jie dan Shangdi seakan tersambar petir, mereka diam sejenak sebelum melanjutkan tawanya.
"Baiklah kenalkan nama saya Liu Jie, saya seorang pengembara, oh iya apa kamu tau informasi tentang sayembara sang putri?" dengan ekspresi mata berbinar Liu jie mencoba mencari tau informasi agar lebih memudahkan tujuannya dalam mencari pusaka.
Melihat ekspresi Liu jie dengan mata yang berbinar binar membuat Huanrang tertawa "Hahahaaaaaa dasar bodoh, kamu fikir saya jauh dari rumah untuk apa? pastilah demi sayembara tersebut. sudahlah percuma juga ngasih kamu informasi, mending kamu ikut dengan saya saja dan kita mendaftar sebagai tim tapi saya yang jadi ketuanya dan kamu anggota oke".
"Hummmm apa boleh buat, sepertinya memang hanya ini jalannya lagipula harus ada yang menjagamu hahaha" Liu jie tersenyum dan mengedipkan mata kearah Huanrang.
"Dasar mesum, ya sudah mulai sekarang panggil saya Bos dan bayar arak ini ahahaaaa, cepat jangan lama" tanpa menoleh Huanrang tertawa sambil berjalan.
__ADS_1
"Guru, sepertinya akan banyak hal yang menarik, tapi entah mengapa jantungku serasa deg degan ketika menatap senyumnya hihi" Liu jie menggaruk kepalanya sambil tersenyum sendiri.
"Ternyata kamu memang bocah mesum ahahahaa" Shangdi lagi lagi tertawa dan merasa menang karena mendapat celah mengejek Liu jie.