
"Sebenarnya jika guru terlalu lama dialam dunia maka perlahan lahan tenaga guru akan terhisap oleh inti bumi, maklum energi seorang dewa sangat murni jadi bumi ibarat anak kecil minta jatah hahaha" Shangdi tertawa kecil bercampur sedih karena tidak lama lagi harus meninggalkan murid satu satunya didunia ini.
Mendengar penjelasan gurunya membuat Liu jie terdiam sejenak, Guru yang selama ini membimbing, menemani dan menjadi sosok pengganti orang tuanya selama didunia akan pergi meninggalkannya sedangkan dia tak tau bagaimana cara untuk bertemu dengannya lagi.
Wajah tampa cerianya yang biasa dia tampakkan sehari hari ibarat sebuah taman dipemakaman, indah dipandang mata tapi sunyi dalam kesendirian. tak berselang lama suara Wen wen memecah dikeheningan.
"Awasssssss" sambil melompat Wen wen berteriak dan menarik tangan Liu jie menjauh dari mulut gua.
"Ada apa kak" dengan raut wajah yang masih dirundung sedih, Liu jie terkejut karena baru kali ini dia sangat gegabah dan tak menyadari adanya ancaman.
"groooooarrrrrrr hahahaaa anak manusia seharusnya kalian tidak datang kesini, selama ratusan tahun tak ada yang berani melintas. pasti kalian bukan berasal dari sini grooooorrrrrrr" Suara yang mencekam hingga kedalam tulang disertai hawa dingin yang menusuk tiba tiba terdengar dari dalam gua.
__ADS_1
Suara tersebut membuat Wen wen menghunuskan golok hijaunya sedangkan Liu jie masih mencoba memahami dan menerima keadaan. pedang matahari miliknya berguncang hebat, seakan pedang itu tau bahwa ancaman didepan bukanlah hal yang bisa diremehkan.
"Hei bocah bodoh, sadarlah cepat cabut pedang milik kakekmu itu kalau tidak kau akan membahayakan anggota anggotamu. mulai dari sini saya tidak akan membantumu, kamu harus bisa mengatasi masalah kehidupan mulai sekarang" Shangdi menegur Liu jir yang tampak tak mampu menguasai sisi emosionalnya.
Tanpa berpikir panjang Liu jie mencabut pedang matahari milik kakeknya dan melompat kedepan mulut gua. Liu jie yang kali ini benar benar bukanlah Liu jie yang anggota bintang surgawi kenal.
"Hiaaaaaaaaa keluar kau, kau datang diwaktu yang salah, siapapun kau takkan kuberi ampun, hiaaaaaaa jurus pembelah semesta Duarrrrrrrrrr dhuaaaaarrrrr duaaaarrrr" Liu Jie menebas udara kearah mulut gua sehingga membuat gua itu bagaikan bawang yang diracah cincang.
Wen wen mundur lima puluh meter, dia tau bahwa sosok yang ada dihadapannya akan membuatnya tewas seketika, terlebih lagi Liu jie tampaknya tak mampu mengendalikan diri.
Dalam alam dimensi, Sirei ingin keluar untuk membantu namun kali ini dia dilarang oleh Shangdi, dengan alasan bahwa sebagai pemimpin anggota maka Liu jie harus mampu mengeluarkan semua potensi yang dia miliki agar mampu mengukur seberapa kekuatannya sehingga kelak jika menemukan situasi yang rumit dia harus bisa mengambil keputusan demi keselamatan anggotanya.
__ADS_1
Penjelasan singkat Shangdi membuat Sirei dan yang lainnya semakin cemas, terlebih lagi aura yang dikeluarkan pria tersebut sangat mengerikan, bahkan Shangdi yang berada dialam dimensi saja masih mampu merasakan daya rusak dari aura tersebut.
"Jurus Kubah Dewa Naga" Shangdi dengan segera melindungi Wen wen dengan sebuah jurus pertahanan mutlak miliknya, Shangdi sangat yakin jika wen wen tak dilindungi maka pria tersebut hanya butuh hanya meningkatkan satu level aura tekanan untuk membuat nyaea wen wen melayang.
"Hahahahahaaaaaa pantas kamu bisa menggunakan Pedang milik Dewa Matahari ternyata dialiran cakra dan darahmu terdapat cakra dan darah dewa matahari" denga mata yang sepenuhnya putih, pria tersebut tertawa karena baru kali ini dia bertemu dengan anak manusia setengah dewa yang memiliki kekuatan hampir menyamai seorang dewa.
"Saya tidak peduli siapa kamu, tapi sepertinya kamu sangat pas menjadi pelampiasan kegundahanku, terima ini Jurus pembelah semesta" Liu jie mengayunkan pedangnya dengan ayunan jurus tarian pembasmi iblis.
Buuuuuummmm
Dhuaaaarrrrrrrrr
__ADS_1