Legenda Dewa Perang

Legenda Dewa Perang
62. Perpisahan


__ADS_3

"Hei jangan lari bocah, dasar pencuri" teriak pedagang roti yang kesal karena lagi lagi rotinya dicuri oleh seorang bocah gelandangan.


Dengan kaki mungilnya, bocah yang kisaran usia 7 tahun itu menggunakan segenap kekuatan dikaki mungilnya serta menyelip dikeramaian untuk berlari dengan harapan pedagang itu tidak akan mampu menangkapnya.


Bukkkk


Bocah itu menabrak salah satu dari 10 pendekar aliran hitam yang sedang dalam perjalanan kembali kesektenya. bocah itu segera mengambil roti yang kotor dan mengusap usapnya.


"Hahaha bocah sepertinya kali ini kamu akan mati, suasana hati kakak sedang kacau" sambil tertawa salah satu pendekar muda aliran hitam itu menggeleng gelengkan kepalanya.


"Tuan maafkan saya, tapi saya tidak sengaja" bocah itu tampak ketakutan setelah mendengar ucapan pendekar tersebut.


Dengan amarah yang masih meluap luap, orang yang disebut sebagai kakak tadi kini mengangkat kerah baju bocah itu dan hendak melayangkan sebuah pukulan sebagai wadah pelampiasannya.


Namun sebelum dia berhasil mendaratkan pukulannya, tiba-tiba dia merasa ada sebuah aura yang mengintimadasinya dari seberang jalan. dia menoleh untuk mencari tahu siapa pemilik aura tersebut.


Dia melemparkan bocah tersebut ketanah dan segera menghampiri wanita yang mengeluarkan aura barusan. "Gadis cantik apa maksud mu barusan, apa kau ingin menemaniku bersenang senang untuj menghilangkan rasa kesalku?".


"sepertinya kamu masih belum paham rupanya?" Wen wen tersenyum namun senyumannya mampu membuat bulu kuduk pendekar aliran hitam tersebut merinding.


"Hummm meski saya bisa bertarung seimbang dengannya tapi orang orang dalam kelompoknya tampak sangat kuat, memandangnya saja serasa membuat pembuluh darahku mau pecah, sebaiknya saya tidak menyinggunya. Ayo kita pergi" Dengan tangan yang terangkat keatas memberi tanda kepada anggotanya untuk tidak mencari masalah kepada Wen wen.


"Kakak terima kasih sudah menolong saya, kalau nanti saya besar terus menjadi pendekar kuat maka jangan takut minta bantuanku ya" sambil memeluk rotinya yang sudah kotor, bocah ini tersenyum kepada wen wen.


"Hahahaha oke, tapi siapa namamu biar nanti kakak bisa mencarimu?" Wen wen mengusap kepala bocah tersebut.


"Namaku Tan *** yu, dan saya adalah calon pendekar hebat yang jujur, akan mengalahkan orang orang pelit dan jahat serta menolong orang yang teraniaya" Bocah itu menatap langit sambil menunjuk keatas seakan ingin memperkenalkan dirinya kepada penguasa semesta.


"Tan *** yu, baiklah akan kuingat nama itu, seorang lelaki tidak boleh mengingkari ucapannya oke. tapi sebelum kamu menjadi pendekar impianmu langkah pertama ikut kakak ke toko roti, kembalikan roti yang kamu curi dan minta maaf, jangan takut tidak akan ada yang melukaimu, anggap ini langkah awal" Wen wen kemudian menggandeng tangan Tan *** yu menuju toko roti tersebut.

__ADS_1


"Hei bocah pencuri, kali ini kamu tidak akan bisa kabur" Ucap pedagang tersebut dengan geram setelah melihat Tan *** yu.


"Paman maafkan saya, ini rotinya saya kembalikan tapi rotinya kotor tadi saya terjatuh" Tan *** yu menunduk dan menunjukkan sikap penyesalan.


Setelah melihat ketulusan hati Tan *** yu, Wen wen segera membayar Roti tersebut. sebenarnya Wen wen hanya ingin membentuk kepribadian Tan *** yu sejak dini sebagai pondasi kedepannya dalam memilih jalan hitam atau putih serta melihat keteguhan hati dari Tan *** yu.


"Kalau begitu ayo kita segera mencari restoran yang masakannya enak, oh ya bocah kali ini jangan akan menghukummu karena telah mencuri dan hukumannya adalah tidak boleh meninggalkan restoran kalau kamu tidak kenyang oke" kali ini giliran Kongju yang bicara.


"Wah tempat ini sangat ramai, uhmmm harumnya ayo kita cari meja" Liu jie sugguh tak dapat lagi menyembunyikan ekspresinya setelah mencium aroma daging yang enak.


Bukkkk


Tan *** yu tersungkur karena ditendang oleh salah satu pelayan yang menjaga pintu restauran.


"Bocah apa kau mau mengemis, apa kau tidak bisa membaca tulisan itu, pengemis dan pencuri dilarang masuk" Pelayan tersebut memaki maki Tan *** yu.


"Minta maaf dan cium kaki bocah itu atau kepalamu hilang dari tempatnya" Kongju mencekik pelayan tersebut karena telah berlaku kasar kepada Tan *** yu.


"Bagus, sekarang carikan saya kami tempat dan sajikan semua makanan yang spesial dari restaurantmu" Kini Kongju melemparkan 1 koin emas kepada pelayan tersebut.


"Apa guru lihat pria yang mencekik pelayan tadi, bukankah dia sangat sombong bahkan auranya saja hanya berada pada pendekar bumi tahap 3?" Hou tin melirik kesal kepada Kongju.


"Asal kamu tau, orang itu dapat meratakan sekte kita dalam sekejap jadi jangan menyinggungnya" Fei jun sebagai salah satu master sekte belati terbang memberi peringatan dengan ekspresi takut seandainya ucapan muridnya terdengar oleh Kongju.


Fei jun yang sudah malang lintang dunia persilatan sangat paham dengan ilmu menyembunyikan aura. Dia yang juga ikut melatih ilmu ini merasakan bahwa kekuatannya yang berada pada tahap pendekar langit kedua saja masih sulit menebak kekuatan Kongju, dan ini menandakan Kongju paling tidak berada pada tahap pendekar langit ke empat.


Namun pendengaran Kongju tentu sangat tajam, dia mendengar percakan guru dan murid tersebut, akan tetapi dia hanya tersenyum karena ternyata Fei jun tahu batasannya.


Setelah makan dengan puas, kini Kongju memanggil pelayan untuk membungkus makanan sesuai dengan apa yang diinginkan Tan *** yu.

__ADS_1


"Oh iya Jie'er, habis ini rencananya kamu mau kemana?" Kongju masih penasaran tujuan Liu jie dan kelompok bintang surgawinya.


"Uhmmm sebenarnya ada banyak yang ada difikiranku saat ini" Liu jie kini menatap Tan *** yu dan cita cita Tan *** yu kini bagaikan hantu dikepala Liu jie, karena tanpa guru dan tempat yang jelas maka Tan *** yu dan anak anak seusia Tan *** yu yang memiliki cita cita hanya akan berpeluang satu banding sejuta untuk diraih.


"Paman, apa paman tau daerah sekitar sini yang letaknya bagaikan padang rumput yang luas?" Liu jie melihat Kongju dengan tatapan yang tajam.


"Iya ada, memangnya kenapa?" Kongju mulai menerka nerka tapi tak berani menarik kesimpulan.


"Baiklah, kalau begitu kita berdua ayo segera kesana melihatnya dan yang lainnya antar Tan *** yu, setelah selesai kita berkumpul lagi disini" Kini Liu jie memberi arahan tanpa menjelaskan apa sebenarnya yang dia rencanakan.


Kongju dan Liu jie kini menuju lokasi tersebut, dan benar saja sepanjang mata memandang lokasi tersebut adalah hamparan padang rumput yang luas, dimana tebing tebing curam dan tinggi melingkar dari kiri, belakang dan kanan sedangkan didepan padang rumput tersebut adalah hutan kematian yang mitosnya setiap orang yang masuk kehutan tersebut pasti akan mati, kalaupun bisa selamat maka usianya hanya bertahan satu atau dua hari dan setelah itu dia akan kering dan mati mengenaskan.


"Bisa kau jelaskan tujuanmu?" Kongju kini meminta penjelasan karena dari ekspresi Liu jie direstoran sepertinya ada sebuah kekosongan yang membuat Liu jie bimbang.


"Baiklah, sebenarnya selama melakukan perjalanan dengan kelompok bintang surgawi, ada saja pertarungan pertarungan yang dahsyat bagaikan diriku ini ditempa untuk selalu berperang, meski kemenangan selalu menjadi milik kami tapi saya selalu merasa bahwa semakin kedepan maka ancaman bagi Wen wen dan rekan rekan akan semakin mengerikan sedang saya masih tidak siap andaikan salah satu dari mereka kehilangan nyawa ditambah lagi melihat dan mendengar cita cita Tan *** yu, jika tak mendapatkan bimbingan yang tepat maka jangankan meraih cita citanya, untuk bertahan hidup saja mungkin sulit. Jadi saya sudah memutuskan akan membuat sebuah Sekte ditempat ini, dimana harapanku Paman bersedia menjadi ketuanya, Wen wen menjadi Wakil sekaligus murid pertamu. Sedangkan ketiga siluman itu akan kuperintahkan untuk menjadi pengawal pribadi kakak wen wen sekaligus pasukan tempur rahasi dari sekte ini. Bagaimana menurut Paman?" Liu jie berdiri dengan tatapan penuh harap kepada Kongju setelah menjelaskan semuanya.


"Bagiku itu tidak masalah, tapi apa Wen wen dan lainnya akan setuju?" Kongju kini memijat keningnya.


"untuk masalah itu maka serahkan padaku" Dengan hembusan nafas yang perlahan kini Liu jie seakan tengah melepas sebuah beban yang sangat berat difikirannya.


Setelah membahas hal tersebut, mereka berdua kembali kerestoran dan berkumpul dengan yang lainnya. Kini Liu jie membawa mereka semua kelokasi padang rumput tersebut dan menyampaikan maksudnya.


meski tampak tidak setuju tapi akhirnya mereka semua mengangguk dengan satu syarat, dalam sepuluh tahun Liu jie harus kembali.


"Kakak ini adalah mantra jurus penyegel, siapapun yang telah kakak segel maka hanya akan memiliki dua pilihan yaitu menuruti perintah kakak atau langsung binasa jika melawan, segel ini akan aktif dengan sendirinya jika merasakan nyawa kakak terancam oleh orang yang sudah kakak segel, untuk bisa menyegel orang kakak harus berada minimal di tahap pendekar Kaisar tingkat 5 akan tetapi untuk Sirei, Moyu, Xie xue dan Yura akan saya berikan pengecualian saya sudah menyegelnya atas nama kakak dan mereka ada dibawah kendali penuh kakak meski sekarang kakak belum mencapai tahap kaisar tingkat 5" Liu jie menyampaikan informasi ini lewat telepati kepada wen wen.


Mengetahui hal ini, air mata wen wen mengucur membasahi pipinya, dia bukan hanya akan kesepian karena kepergian Liu jie, tapi apa yang Liu jie lakukan sudah lebih dari cukup sebagai bukti bahwa Liu jie sangat menyayangi wen wen.


"Paman saya mempercayaimu" Liu jie membungkuk dan memberi hormat kepada Kongju.

__ADS_1


Seakan tak dapat menahan, Wen wen memeluk Liu jie erat erat tanpa sepatah kata karena dia tak ingin kalimatnya akan menjadi beban bagi Liu jie nantinya. Setelah mereka berpamitan, tanpa menoleh kebelakang kini Liu jie berteleport ke pasar dekat restoran tadi.


"Kini perjalanan baru akan dimulai" Liu jie berucap dengan pelan sambil menutup mata dan menarik nafas dalam dalam.


__ADS_2