Legenda Dewa Perang

Legenda Dewa Perang
26. Moyu Siluman Ular Bulan


__ADS_3

Wen wen yang seumur hidup hanya bisa membayangkan sosok seekor naga, kini merasa dirinya sedang bermimpi karena bukan hanya melihat langsung tapi juga bisa merasakan sensasi duduk dipunggung naga yang lagi terbang terlebih naga tersebut adalah sosok Dewa naga emas.


Wen wen berkali kali mencubit pahanya untuk meyakinkan diri bahwa hal yang dia alami malam ini bukanlah sebuah mimpi. memang bagi seorang pendekar dengan tahap yang tinggi, terbang bukanlah hal yang sulit namun berbeda ceritanya jika terbang sambil duduk manis dipunggung seekor naga.


"Kak kalau kamu terus terusan mencubit paha nanti bisa bisa dagingnya copot loh khihihihi" Liu jie menggoda wen wen setelah melihat kelakuan konyolnya tapi tetap memeluk perut wen wen dari belakang agar tak kehilangan keseimbangan.


"eheheee ketahuan ya, ngomong ngomong Jie'er jangan lepaskan tanganmu ya, kakak sebenarnya agak takut dengan ketinggian tapi kalau difikir fikir lagi ternyata pemandangan dari atas sangat menakjubkan ya, coba lihat sungai itu jie'er ternyata liukannya mirip seekor ular ya ditambah cahaya bulan yang memantul di air membuatnya tampak mirip ular bersisik cahaya". Wen wen terlihat sangat bahagia dan menikmati hal yang bahkan dimimpi pun belum tentu bisa dia dapatkan.


"Guru guru cepat tengok kebawah, ada Siluman Ular Bulan" Liu jie yang mendengar celotehan wen wen tiba tiba tersadar bahwa sungai yang dimaksud wen wen berbentuk ular memang adalah ular sungguhan namun ular ini adalah siluman yang dulunya adalah hewan peliharaan Dewi bulan.


Karena selalu merasa kesepian akhirnya dewi bulan kasihan dan mengijinkannya turun kebumi untuk menjalani kehidupan yang dia suka asalkan jalan itu bukan jalan kegelapan.


"Wah wah wah ternyata si Moyun rupanya, ehmmm Jie'er bagaimana kalau kita singgah sejenak, guru lama tak bertemu dengannya. kangen rasanya bermain dengan Moyu" Shangdi memandangi Liu jie karena dia tau bahwa Liu jie senang sekali bermain dengan Moyu sewaktu masih berumur Lima tahun.


"Ayo guru, kita harus menyapanya. saya juga rindu dengan Moyu" Liu jie tampak bersemangat mengingat Moyu adalah teman bermainnya semasa kecil di alam dewa.


Mendengar guru dan murid tersebut hanya mengganggap Moyu hal biasa membuat wen wen terkejut bukan kepalang "Aaaa aaapaaaa i i tuuu siluman ular bulan? Jie'er kamu tak habis habisnya memberikan kejutan bahkan siluman ular bulan yang terkenal mengerikan jika merasa terganggu ternyata adalah teman bermainmu, kakak sepertinya harus menciptakan jurus memperbanyak jantung jadi kakak bisa hidup setelah mati karena jantungan".

__ADS_1


"Hahahahaaa kakak ni ada ada saja, tapi ide kakak bagus juga, nanti saya cari caranya menciptakan jurus itu. sekarang kakak pegangan yang erat soalnya guru punya kebiasaan yang buruk kalau mau mendarat, dia akan meliuk liuk bahkan dulu saya pernah muntah" Liu jie mencoba memberi peringatan agar tak mengalami hal yang sama karena kelakuan konyol gurunya.


Namun diluar perkiraan Liu jie, kali ini Shangdi menukik dan mendarat dengan mulus.


"Guru kenapa kali ini mendaratnya sangat mulus tak seperti biasanya?" dengan ekspresi heran melihat sikap gurunya, Liu jie kemudian menyipitkan mata.


"Ahhh wen wen kan anak baik dan cerdas jadi guru juga harus baik dong, beda kalau anak nakal uaahahahahahaha" Shangdi tertawa keras karena senang mengerjai Liu jie.


"Uhmmmm jadi begitu ya, khyaaaaaaaaaaaaaa apaaaaaa? berarti saya murid nakal dan bodoh, iya kannnn itu maksud guru?" Liu jie lompat lompat sambil menunjuk gurunya dengan mata yang menyipit dan mengoceh tak jelas karena selama ini dipermainkan oleh gurunya.


Melihat sikap Liu jie membuat Shangdi dan Wen wen malah tertawa terbahak bahak sambil memegangi perut masing masing, dan sesekali wen wen menepuk nepuk punggung Shangdi.


"sssssastttt Ahhh ternyata Liu jie dan Dewa, saya kira siapa sssssstttt, rasanya sudah lama sekali tak bertemu sssssttt, kamu sekarang ternyata jadi pemuda yang gagah ya Jie'er sssstttt".


"Hahhhhh kakak Moyuuuuuu saya rindu kak, bagaimana kabar kakak?" Liu jie yang dengan secepat kilat melompat kini sudah berada diatas leher ular raksasa sambil memeluknya dengan pelukan rindu sungguh tampak seperti seseorang yang ratusan tahun tak bertemu.


Dia membelai leher Moyu yang penuh dengan sisik dan mengajaknya berbincang bincang. "Kak Moyu, perasaan dulu kakak tak sebesar ini, dulu saya bisa memeluk kakak seperti guling, sekarang bahkan jika lenganku ini diperpanjang 10 kalipun masih takkan cukup memeluk kakak moyu sepenuhnya".

__ADS_1


"Oh itu karena sekarang kakak ada didunia manusia, disini kakak harus bisa menjaga diri karena tidak semua manusia baik, banyak yang memburu kakak hanya demi mengambil permata jiwa kakak, dengan tubuh kakak yang besar ditambah kekuatan yang besar membuat kakak bisa bertahan hidup" Moyu mencoba menjelaskannya secara singkat dan padat.


"Oh begitu kak... oh iya, apa mungkin kakak masih bisa merubah wujud seperti pedang, tombak atau senjata senjata lainnya?" Liu jie menyipitkan mata dengan tatapan seakan menginginkan sesuatu.


"Uhmmmm pasti kamu mau kakak berubah menjadi tusuk gigi kan? sama kaya waktu itu, terus kamu jadikan kakak bahan lelucon dengan menusuk bokong Dewa yang menjaga perpustakaan kitab kuno. ahh kakak gak mau" Moyu membalas Liu jie dengan menggodanya menggunakan lidah yang sedingin es.


"Ahhhh waktu itu kan adikmu ini masih kecil, jadi belum tau kegunaan tusuk gigi khihihii. sebenarnya maksud adikmu ini begini loh, liat lan gadis disamping guru shangdi, dia itu adalah kakakku didunia ini, dia sudah saya anggap seperti kak Moyu tapi dia masih lemah sedangkan saat ini kami ingin pergi ke kerajaan batu lima untuk menghentikan pasukan kaisar benua api membumi hanguskan rakyat tak bersalah dikerajaan batu lima" Liu jie menjelaskan panjang lebar tapi kemudian matanya terbelalak mendengar jawaban dari moyu.


"Kakak nda ngerti" dengan santainya Moyu menjawab.


"Khyaaaaaaaaaaaaa kakak selama ini kakak ngapain aja, kepekaan kakak tipis sekali. hummm baiklah, maksud saya karena kalian berdua sama sama gadis yang saya sayang sekaligus kakak kakakku, saya mau kakak merubah diri menjadi sebuah senjata pusaka dan menjalin kontrak senjata dengan kak wen wen, jadi saya akan serasa memiliki keluarga kecil yang lengkap disisiku dalam menjalani kehidupan sehari hari, begitu kak". lagi lagi Liu jie memberikan penjelasan panjang lebar.


Wen wen yang mendengar hal tersebut segera faham dengan apa yang harus dilakukan, dengan cekatan dia maju dan bersujud dihadapan Moyu "Kak Moyu sudi kiranya kakak yang perkasa menjadi kakak perempuanku dan menjagaku layaknya seorang saudari".


Moyu melihat wen wen yang bersungguh sungguh perlahan maju dan mengucapkan sesuatu yang membuat wen wen menitiskan air mata "Adik kecil apa kau tau salah satu kelebihanku adalah melihat masa lalu seseorang, saya melihat masa lalumu sungguh menyedihkan. kamu selalu bersikap ceria padahal dalam hati kamu selalu menangis merindukan sosok saudara dan orang tua yang akan selalu ada untukmu, mungkin saya tak bisa menjadi orang tuamu tapi saya akan menjadi saudarimu. Mari kita buat kontrak senjata namun sebelumnya pilihlah senjata apa yang akan kau gunakan jadi saya bisa berubah menjadi senjata tersebut". Moyu menyetujui permintaan wen wen sekaligus turut merasakan kebahagiaan setelah selama ini hanya menjalani hidup seorang diri terlebih lagi mengetahui masa lalu dan keseriusan wen wen.


plok plok plok...

__ADS_1


Tiba tiba Shangdi dan Liu jie bertepuk tangan melihat momen yang sangat mengharukan tersebut. "Tak kusangka di usiaku yang sudah tak muda ini, masih tetap bisa melihat dua makhluk berbeda dengan satu perasaan yang sama, sungguh mengharukan. ingatlah bahwa ikatan persaudaraan hanya bisa diputus jika kematian yang memutuskan, apapun kesulitan yang akan kalian hadapi maka hadapilah bersama baik itu suka maupun duka, dan sebagai dewa penjaga semua makhluk binatang, saya merestuimu moyu menjadi saudari anak manusia ini" Shangdi yang angkat bicara, meski singkat namun sangat berarti bagi wen wen hingga membuat wen wen tanpa sadar memeluknya.


__ADS_2