Legenda Dewa Perang

Legenda Dewa Perang
61. Lawan yang tangguh


__ADS_3

Liu jie hanya tertawa terbahak bahak menyaksikan sikap orang yang sudah tua tapi berkelakuan kaya anak kecil kehilangan permen hanya karena kalah dalam pertarungan "Hahahahaaaaaa jangan marah dong cup cup cup balas lah balas lah hahaaa".


"Ingin tertawa melihat tingkah bocah ini tapi sebenarnya saya sangat kagum, dia bukan hanya hebat tapi juga jenius, sepertinya untuk bisa membayar kekalahan dironde pertama saya harus menggunakan jurus tersebut" Kongju kali ini menutup mata dan ingin menyerang Liu jie tanpa ampun.


Dengan tubuh yang kembali segar bugar, Kongju melompat mundur dan terbang keatas sebuah pohon, demi membalikkan keadaan dia mengeluarkan sebuah senjata pusaka dewanya berupa seruling emas yang diujungnya tergantung sepasang bola emas berukuran jempol.


"Itu pusaka seruling kematian, kamu harus waspada Jie'er" Shangdi yang mengenali pusaka tersebut langsung memperingatkan Liu Jie karena efek kerusakan senjata itu yang begitu dahsyat.


"Baik guru, sepertinya ronde ini saya harus lebih waspada" Liu jie dengan sigap melompat dan mengumpulkan tenaga dalam yang besar untuk bertahan dari serangan yang akan dilancarkan Kongju.


Melihat sikap waspada Liu jie membuat Kongju curiga, namun dia tak ingin membuang waktu "sebaiknya kamu memiliki pertahanan yang mutlak jika tidak maka kamu akan binasa, Jurus Seruling neraka Melodi Kematian".


Kongju memainkan seruling tersebut, lantunan suaranya sangat merdu namun setiap satu tiupan membuat gunung hancur berkeping keping, setiap dua bola emas yang berbentuk lonceng berbenturan satu sama lain maka akan menimbulkan daya kejut yang besar pula sehingga menambah daya rusak dari alunan lagu seruling neraka.


Arrrrrrghhhhhhhh


"Gendang telingaku serasa mau pecah sebaiknya saya segera mengaktifkan perisai kubah dewa Jurus perisai kubah dewa" Liu jie yang telah mengaktifkan pertahanan mutlak miliknya memang terlepas dari tekanan tersebut namun karena terlambat maka dia harus merasakan sakit yang luar biasa.


"Ternyata kamu memiliki pertahanan mutlak ya, bagaiman jika kutambahkan tingkat daya rusaknya terima ini jurus seruling pelebur jiwa" Kongju mengerahkan tiga perempat tenaga dalamnya untuk mendesak Liu jie mengakui kekalahan dironde kedua ini.


kini hampir setengah dari alam dimensi hancur berantakan akibat jurus dari Kongju bahkan pertahanan mutlak dari Liu jie mengalami keretakan.


Sepertinya perbedaan pengalaman dan tingkatan membuat pertarungankali ini tidak seimbang. Shangdi yang melihat hal ini tercengang karena Liu jie masih mampu bertahan.

__ADS_1


Krakkk krakkk krakkk


Jedarrrrrrrrr


Kubah pertahanan milik Liu jie hancur berkeping keping, kini Liu jie merasakan siksaan rasa sakit luar biasa, namun dia tidak mau mengalah dan menyerah.


Arrrrrggghhhhhhh


darah keluar dari telinga dan hidungnya kini dia sempoyongan, jurus seruling kongju bukan hanya melukai fisik tapi juga bathin dari Liu jie. aliran tenaga dalam liu jie kini menjadi tidak beraturan. yang ada difikirannya saat ini adalah menggunakan jurus dari dewa matahari.


"Guru sebaiknya kamu segera meninggalkan dimensi ini saya akan menggunakan Jurus pemusnah dewa" Liu jie yang merasa tidak ada jalan lain segera meminta gurunya menjauh dan keluar dari dimensi ini.


"Aaapaaaa kamu akan menggunakan jurus itu lagi, tapi jurus itu akan menguras tenaga dalam yang besar seda-" belum sempat Shangdi meneruskan kalimatnya, Liu jie memotongnya


Melihat Liu jie yang terdesak membuat Shangdi tidak punya pilihan lain dan akhirnya pergi menjauh bergabung dengan sirei dan lainnya diluar dimensi milik Kongju.


Setelah Shangdi pergi, kini Liu jie menelan pil buatannya dan tanpan mengulur waktu dia mengumpulkan semua tenaga dalam yang dimiliki untuk satu jurus dan berteriak sekuat tenaga Jurus Pemusnah dewa tahap kelima Penghancuran mutlakkkkkkkk "


Kaboooommmmm


Bummmmmmmm


Arrrrrrgggghhhhhhh

__ADS_1


Seruling yang digunakan kongju hancur berkeping keping, tubuhnya jatuh tergeletak tak berdaya, tubuhnya lemas serta nafasnya tak beraturan. serasa kematian sudah didepan mata, dalam hatinya dia hanya bisa memikirkan satu hal, Liu jie adalah reinkarnasi dewa perang.


Kondisi Liu jie pun tak begitu baik, meski kini pertarungan telah berakhir tetapi tubuhnya juga tergeletak ditanah akibat jurus yang dia keluarkan barusan trlah menguras habis tenaga dalamnya, yang ada dibenaknya ini baru jurus tahan kelima, bagaimana jika dia mengerahkan sampai tahap ketujuh mungkin dia tidak akan selamat.


Mereka berdua kini tergeletak tak berdaya, namun karena alam tersebut memiliki pasokan energi yang tak terbatas maka mereka berdua hanya bisa mengandalkan keadaan tersebut, menghisap energi alam untuk mengisi kembali tenaga dalam mereka.


Akhirnya setelah sepuluh menit berlalu, Liu jie bangkit terlebih dulu meski masih sempoyongan, dan disusul oleh Kongju.


Kondisi mereka berdua masih jauh dari kata baik, keduanya sudah kehabisan pil buatan Liu jie. akhirnya mereka mengambil posisi duduk bersila dan mulai memulihkan diri dengan bantuan energi dari alam dimensi.


Tak berselang lama mereka keondisi keduanya mulai membaik, dan akhirnya Kongju mengakui kekalahannya dengan telak.


"Anak muda kamu memang hebat, saya mengaku kalah" Kongju kini mengajak keduanya keluar dari dimensi tersebut.


"Kakek pendekar tua, harus saya akui anda adalah lawan yang tangguh bahkan mampu membuat saya mengerahkan jurus pemusnah dewa sampai tahap kelima" Liu jie memberi hormat kepada Kongju karena merasa Kongju adalah lawan yang pantas mendapatkan penghormatannya.


Melihat keduanya keluar dengan selamat, kini Anggota bintang surgawi dan Shangdi menghampiri mereka, Wen wen langsung memeluk Liu jie karena sangat khawatir tentang cerita Shangdi akan kedahsyatan jurus Kongju.


"Baiklah Anak muda sebagai hadiah karena telah memberiku pertarungan yang hebat maka biarkan saya mentraktir kalian semua makan direstoran terdekat, tak jauh dari sini ada sebuah kota. bagaimana?" Kongju melirik Liu jie karena dia tahu Liu jie pasti kelaparan.


"Horeeeeee asikkk makannnn, ayo ayo kita berangkat, pertarungan ini memang harus ditutup dengan makan yang enak enak" Liu jie dengan sigap mengajak yang lainnya tanpa bertanya dulu.


"Heiii heii heiii bocah tengik, arahnya bukan kesana, kamu salah arah hahaaa" Kongju tertawa melihat sikap Liu jie yang sembrono.

__ADS_1


Dengan gelak tawa akhirnya Mereka semua berangkat kearah kota yang dimaksud Kongju.


__ADS_2