Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Malu


__ADS_3

Gea pun diam-diam memperhatikan Pak Sadewo sambil tangannya membuka kotak coklat.


"Gila, itu coklat premium, guys," kata Vina namun buru-buru dia langsung membekap mulut sahabatnya yang duduk persis di sebelahnya. Dia tidak mau jika Pak Sadewo sampai mendengarkan ocehan dari Vina bisa berakhir dengan tragis nanti nilainya.


"Hush, bisa kicep bentar nggak?" ucap Gea sambil merapatkan giginya dan berbicara sedikit menggumam.


Karena suasana kelas memang hening maka pak Sadewa bisa mendengar ucapan Gea dan Vina yang saling satu sama yang lain.


"Kalian, Saudara Vina dan saudara Gea? Apakah kalian ada sengketa?" Tanya Pak Sadewo membenahi kacamata sambil menatap mereka berdua tanpa kedip. Dia dan Vina langsung terdiam dan saling berpandangan namun tidak berani menatap Pak Sadewo.


"Jika kalian tidak ingin mengikuti pelajaran saya dan ingin bermain-main dengan kelas saya silakan keluar kemudian saya akan memberikan nilai D pada kalian." Gea dan Vina hanya saling melirik.


"Nggak, Pak, kita mau kak mengikuti kuliah Bapak." Vina yang merasa bersalah karena terlebih dahulu membuka percakapan dia berbicara dengan sedikit lantang. Sementara itu gaya hanya terdiam dan masih memegang coklat tadi di bawah meja.


Dalam seketika kedua mahasiswa itu menjadi perhatian mahasiswa yang lain yang tengah mengikuti mata kuliah Pak Sadewo.


"Jika saya masih mendengar lagi kalian ribut saya tidak akan segan-segan mengeluarkan kalian dari daftar kelas saya dan siap-siap besok semester depan mengulang lagi." Dengan ancaman demikian itulah membuat para mahasiswa menjadi rajin untuk datang di kelasnya Pak Sadewo. Begitu pula dengan Gea dan Vina.


Akhirnya kelas pakde maupun selesai juga setelah 2 jam mengikuti dengan setengah hati sekaligus mata yang tinggal seperempat watt tapi Gea dan Vina bisa menjalani semuanya dengan baik.


"Gea, kamu habis ini ada kegiatan?" Gea dan Vina berjalan menyusuri koridor kampus menuju ke tempat parkir di mana mobil Vina berada. Hari ini Vina sengaja membawa mobil.

__ADS_1


"Aku pasti akan langsung pulang dan harus menyiapkan makan malam," kata Gea sambil memandang arloji di pergelangan tangan kirinya yang sudah menunjukkan sekitar pukul 05.00 sore.


"Oke, kalau begitu kamu aku antar aja ya," kata Vina langsung membuka tasnya dan mengambil kunci mobil kemudian berlari ke arah mobilnya. Melihat gaya sahabatnya itu Gea langsung terbangun.


"Jangan-jangan Vina memang jatuh cinta dengan Tuan Zidane?" batin Gea menatap sahabatnya sambil menggelengkan kepala.


Dengan senang hati Vina langsung membukakan pintu untuk Gea. Meski mereka dari status sosial yang berbeda jauh tetapi bagi Vina, Gea adalah sahabat yang paling terbaik baginya. Dulu dia sempat mencari teman yang benar-benar tulus tetapi ternyata mereka hanya melihat semuanya dari harta Vina. Berbeda dari Gea yang selalu menerima Vina bagaimanapun keadaannya. Dulu sebelum mereka seakrab sekarang Vina pernah mencoba Gea untuk menunjukkan bahwa dirinya bukan siapa-siapa tetapi ternyata sikap Gea sangat baik terhadapnya dan ketika Vina menunjukkan siapa diri sebenarnya yaitu sebagai seorang anak pebisnis hebat di negeri ini sikap Gea pun juga masih sama. Hal itulah yang membuat Vina betah berteman dengan Gea bahkan kini mereka menjadi seorang sahabat yang baik.


Vina mengantar Gea sampai di gerbang.


"Dada Gea, besok aku jemput kamu lagi," ucap Vina melambaikan tangannya dan kembali menutup kaca jendela mobil.


Setelah mobil sahabatnya itu berlalu dibalik pertigaan jalan dekat rumah Gea segera masuk dan mengunci gerbangnya.


"Iya Mbak, tadi dosanya itu bikin bosen Untung saja temanku mau mengantarkan ke sini jadi aku bisa pulang cepat." Gea langsung ma pindahkan tas cangklongnya ke dekat pintu dapur kemudian dia langsung membantu Mbak Ranti yang menyiapkan makan malam karena satu jam lagi keluarga itu akan makan.


"Hari ini kita tidak perlu menyiapkan banyak makanan karena hanya Tuan Zidane dan adiknya saja yang makan sementara tuan dan nyonya belum kembali." Mbak Ranti memberikan arahan kepada Gea.


Di kantor Tuan Zidane.


Meja yang tadinya berserakan dengan berbagai dokumen kini sudah rapi karena Tuan Zidane sudah membersihkannya sendiri ketika pekerjaan ini selesai tanpa menunggu sang sekretaris untuk membereskan meja kerjanya. Dia melihat arloji di tangannya ternyata sudah menunjukkan pukul 06.15 sudah waktunya untuk pulang.

__ADS_1


"Permisi Tuan, maaf sebelumnya masih ada dua dokumen yang harus anda tangani," kata sekretaris Lili sambil membawakan dua map berwarna hijau dan merah serta pulpen basah yang selalu siap sedia. Tuan Zidane pun langsung menandatangani dokumennya tanpa membaca isinya terlebih dahulu.


"Terima kasih, Tuan," ucapnya dengan centil namun ramah.


Setelah dirasa pekerjaannya memang sudah benar-benar selesai, Tuan Zidane pun segera berkemas dan pulang. Dia tidak mau melewatkan makan malam dengan adiknya, Merry.


Sebentar sebentar melihat arlojinya. Sekarang sudah menunjukkan pukul 07.00 kurang seperempat artinya dalam 15 menit lagi dia harus segera sampai di rumah sebelum Merry merasa marah karena diabaikan oleh kakaknya. Sudah dua malam ini tuan sidang selalu pulang larut malam bahkan Merry sudah tertidur ketika dia pulang dan harus berangkat lagi ke kantor ketika Merry belum bangun.


Ketika tiba di rumah jam sudah pukul 07.00, Tuan Zidane segera menuju ke ruang makannya ternyata benar Merry sudah ada di sana bahkan dengan wajah murung. .


"Sister, aku menempati janji." Tuan Zidane mengecup kening adiknya dengan penuh rasa kasih sayang.


Dari kejauhan Gea memperhatikan sikap tuan Zidane terhadap Merry ternyata tuan Zidane sangat perhatian sekali dengan adik semata wayangnya. Melihat keakraban kedua saudara itu Gea pun tersenyum teringat dengan Nando yang di rumah. Karena di rumah hanyalah dua orang Merry dan Tuan Zidane langsung mengakhiri makan malamnya karena Merry harus belajar untuk sekolahnya besok.


Tuan Zidane mendampingi Merry belajar sambil sesekali dia mengecek ponselnya bila ada pesan penting dari perusahaan maupun dari mama dan papanya.


Seperti malam sebelumnya Gea pun bertugas untuk membuatkan Tuan Zidane kopi plus dengan krimer. Agaknya kopi buatan Gea sudah menjadi favorit Tuan Zidane.


Jam 10.00 malam presiden masih stay di depan laptopnya. Gea pun mengetuk pintu ruangan kerja Tuan Zidane yang berada di rumah.


"Tuan, ini kopinya." Gea meletakkan secangkir kopi di dekat Tuan Zidane.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Tuan Zidane dengan ramah sambil memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi serta lesung pipi yang tercetak di pipi kanannya semakin membuat majikan Ghea itu menawan. Gea membalas senyum Tuan Zidane namun hatinya sudah tidak karuan. Meleleh mendapatkan senyum Tuan Zidane di malam hari.


__ADS_2