
Tuan Zidane menoleh kepada seorang yang mencangklong tas kerja berwarna maroon sedang keluar dari kontrakan tersebut. Jelas dia melihat bukan Gea tetapi orang lain.
"Lah, kok disulap jadi orang lain?" Ternyata Vina mengikuti Tuan Zidane hingga ke depan kontrakan Gea. Tentunya dia menaiki mobilnya sendiri.
Mengetahui ada suara di belakangnya Tuan Zidane pun menoleh ke arah Vina.
"Kamu membuntuti saya?"
"Ya jelas dong, aku ingin tahu keadaan Gea bagaimana."
"Sebagai sahabat memangnya kamu tidak tahu dia ke mana?" Tuan Zidane menatap jenis ke arah Vina karena sebagai sahabat dinilai tidak memiliki nilai empati yang tinggi.
"Iya kami memang sahabat tapi aku bukan berarti terus mengikuti kemanapun dia pergi lagi pula kemarin siang dia itu masih pergi ke kampus kok." Vina membela dirinya dengan nada sedikit tinggi dari biasanya.
"Terus ini ke mana?"
"Tanyakan saja pada rumput di jalanan siapa tahu mereka mau menjawab."Vina menggelar pergi mendekati salah satu tetangga gaya yang biasanya akrab dengan dirinya. Karena sangking kerapnya dia main ke rumah Gea.
"Ini bener, Bu, Gea pergi atau memang gimana?"
"Iya memang dia pergi kemarin siang, setelah itu kita nggak tahu ke mana yang jelas bapak pemilik kontrakan ini mengusir dia bahkan barang-barang dia tuh dikeluarkan semuanya."
Vina mendekati Tuan Zidan yang tengah merenung.
"Memangnya kamu masih ada hutang dengan Gea?" Dengan entengnya Vina langsung duduk di aspal padahal celana yang ia kenakan saat ini adalah putih.
"Bukan urusan kamu, yang jelas di mana Gea sekarang berada itu paling penting."
"Bagaimana kalau kita temui juragan kontrakannya." Itu sebuah ide yang bagus Tuan Zidane pun langsung bangkit dari duduknya dan menyetujui usul Vina.
"Oke kita datangi dia sama-sama."
Kebetulan sekali Vina sudah hafal di mana letak rumah bapak pemilik kontrakan di mana Gea tinggal dahulu. Dengan mengendarai mobil sendiri-sendiri mereka beranjak dari tempat kost tersebut kemudian menuju kediaman pemilik kontrakan itu yang letaknya tidak jauh dari sana.
Suasana rumah itu seperti tidak berpenghuni sepi sekali. Vina dan tuan sedang segera turun dari mobilnya dan mengetuk pintu.
__ADS_1
"Permisi." Mereka mengulurkan salam untuk memastikan apakah ada orang di dalam.
"Siapa itu?" Terdengar suara serak seorang lelaki dari dalam rumah tersebut. Lama kemudian seorang lelaki menggunakan celana jeans dan jaket kulit pun keluar dari rumah.
"Siapa kalian? Mau ngapain kesini?" tanyanya dengan nada kurang bersahabat.
"Mau ketemu sama pemilik kontrakan di seberang sana," kata Tuan Zidane menunjuk letak kontrakan Gea sebelumnya. Lelaki itu tampak mengangguk sebentar kemudian menatap Tuan Zidane dan juga Vina.
"Kalian temannya Gea?" tanya lelaki tadi yang kebetulan pemilik kontrakan itu.
"Iya saya temennya kia dari kemarin dia tidak masuk ke kampus."Vina dengan cepat menjawab pertanyaan dari sang juragan.
"Dia sudah pergi dari kemarin nggak tahu saya ke mana."
"Kenapa bisa begitu?" Tuan Zidane menyambung.
"Yang namanya kontrakan itu kan bisnis kalau ada yang berani membayar 3 kali lipat kenapa saya harus menolak." Lelaki itu memilin kumisnya yang telah memanjang.
"Bukankah dia selama ini tidak pernah menunggak uang kontrakan?" Tuan Zidane masih terus mencecar dengan pertanyaan.
"Memangnya orang itu membayar anda berapa untuk kontrakan seperti yang kemarin?" Kini Tuan Zidane keluar sifat sombongnya karena dia marah dengan lelaki tersebut yang sudah bersikap tidak adil terhadap Gea dan keluarga.
"Cukup besar, bahkan dia berani membayar setahun kontrakan untuk 1 bulan ini saja." Tuan Zidane berdiam sebentar mulai memikirkan jika ini ada seseorang yang berada di belakang juragan kontrakan tadi.
"Oke sekarang saya minta anda untuk mengatakan yang sesungguhnya siapakah orang yang telah berani membayar untuk satu bulan dengan harga 1 tahun??"
"Yang namanya bisnis itu tidak harus diumbar ke semua orang."
Pikiran Tuan Zidane langsung tertuju kepada mamanya.
"Aku sanggup membayarmu seperti orang itu yang telah membayar kontrakan mu, asal dengan syarat kamu jujur siapa yang telah beraninya mengusir Gea lewat tanganmu?" Tuan Zidane berbicara dengan penuh penekanan dan ancaman intimidasi kepada lelaki tersebut. Vina yang sejak tadi hanya menjadi pendengar setia kini mulai tertegun dengan setiap kata yang keluar dari mulut Tuan Zidan. Jika mereka hanya berhubungan sebagai seorang majikan dan pelayan tentu tidak akan seperti ini bahkan dari wajahnya saja tuan sidang terlihat sangat marah serta tidak terima Gea diusir dengan paksa.
"Cepat katakan yang sebenarnya aku tidak akan pernah menyakitimu!"
"Kau pikir aku mudah dibodohi oleh seorang seperti kamu. Kalian hanyalah anak ingusan yang belum mengerti masalah orang dewasa." Lelaki itu memandang rendah Tuan Zidane.
__ADS_1
"Berapa uang yang kamu butuhkan silakan tulis disini," titah Tuan Zidane dengan segenap kesabarannya untuk menghadapi lelaki yang telah berani berbuat hal tidak baik kepada kekasihnya.
Untuk sejenak laki-laki itu memandang cek yang diberikan Tuan Zidane.
"Kenapa? Apa jumlahnya masih kurang?"
"Atau kau tetap tidak mau mengatakan siapa yang sesungguhnya telah mengusir Gea?" Kesabaran Tuan Zidane semakin menipis sekarang dia mengeluarkan ponselnya dan mengutak-atik sesuatu.
"Apa orang ini yang telah menyuruhmu untuk mengusir Gea?" Begitu melihat foto yang disodorkan oleh Tuan Zidane lelaki tersebut langsung tercengang seolah tidak percaya apa yang dilihatnya saat ini.
"Ini Nyonya Ami?"
"Kau mengerti? Kau mengenal dia? Apakah berarti dia yang menyuruhmu?" Sengaja Tuan Zidane memberondong pertanyaan agar lelaki tersebut mau menjawabnya.
"Iya memang dia yang menyuruhku."
"Sudah kuduga sebelumnya." Tuan Zidane mendesis pelan tanpa bisa didengar oleh Vina maupun lelaki pemilik kontrakan tadi.
Di sisi lain Vina semakin bingung ketika mendengarkan percakapan antara pemilik kontrakan dengan Zidan. Otaknya sama sekali buntu untuk menerjemahkan apa yang sebetulnya terjadi.
"Kak Zidane, bolehkah aku bertanya?"
"Silakan saja kenapa tidak?"
"Sebenarnya kenapa Tante Ami mengusir Gea dari kontrakan ini?" Tuan Zidane menata Vina sebentar. Yah hendak bercerita namun tiba-tiba hatinya merasa tidak sreg untuk menceritakan masalah pribadinya dengan Gea.
Gea hanya mengenal Vina sebagai sahabatnya tapi belum tentu Vina akan terus berada di samping Gea.
"Memangnya kalian berpacaran ya?" celetuk Vina tiba-tiba karena merasa sangat penasaran dengan hubungan antara kedua orang itu.
"Ya memang kami berpacaran."
Sontak saja mata Vina langsung melotot seakan melompat dari tempatnya.
"Aku tidak salah dengar?"
__ADS_1
"Big No." Tuan Zidane mendahului Vina berjalan menuju ke mobilnya.