Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Rencana Kembali Ke Kota


__ADS_3

Suasana ruang makan pagi ini terasa sepi hanya bunyi suara sendok garpu dan piring beradu sedangkan mulut mereka sibuk untuk mengunyah. Ini tentu tidak seperti biasanya karena Tuhan sidang dan Merry memiliki masalah masing-masing dan memilih diam daripada mereka harus curhat kepada kedua orang tuanya papanya yang sibuk dengan urusan bisnis sedang mamanya yang begitu arogan dan tidak mau tahu tentang apa yang dirasakan oleh kedua anaknya hanya menuruti pemikirannya yang menurutnya itu benar.


"Merry, dari beberapa hari ini mama lihat kamu berbeda dari biasanya?" Nyonya Amin memperhatikan anak gadisnya yang beberapa hari ini memang tidak banyak tingkah bahkan dia tidak protes jika harus les pulang hingga pukul 10.00 malam kemudian paginya lanjut sekolah.


"Merry udah males aja sama mama karena mau bagaimanapun Mama tetap memaksakan kehendak Merry." Ia berkata sambil menyuapkan ayam goreng ke dalam mulutnya tapi dalam hati merasa sangat sesak.


"Lagi pula itu juga untuk masa depan kamu, Mer, agar tidak begitu suram." Masih tetap saja nyonya Ami mempertahankan pendapatnya dia tidak memperdulikan jika anak gadisnya ini terlampau lelah karena dari pagi sampai malam harus mengikuti berbagai macam pelajaran belum lagi ekstra yang begitu ketat. Ditambah oleh tambahan pelajaran di luar jam sekolah dan harus pulang sekitar pukul 10.00 malam. Tentu saja itu membuat otak Merry tidak bisa fresh.


"Supaya kamu bisa masuk perguruan tinggi yang bagus jadi mama sama papa tidak." Merry menghentikan mengunyah makanan, dadanya terasa sesak. Ternyata mamanya memang tidak pernah berubah dari dulu hanya mementingkan kepentingannya saja dan tidak pernah memikirkan anaknya yang menderita. Air mata Merry nggak keluar tetapi dia mencoba sekuat tenaga untuk menahannya.


"Merry berangkat sekolah dulu," ucapnya sambil meneguk susu yang masih tersisa setengah.


Tanpa berpamitan dengan Tuan Zidane, ia segera keluar dari rumah dan menuju ke mobil yang sudah siap mengantarnya ke sekolah. Hari ini dia sangat malas untuk pergi ke sekolah karena begitu banyak pikiran yang menggantung di dalam otaknya.


"Pak, apakah kamu akan mengantarkanku ke sekolah lagi?"


"Tentu saja Nona kalau tidak nyonya Ami bisa marah." Benar juga pak sopir yang berada di depannya ini memang sedang mengais rezeki untuk anak istrinya yang di rumah tetapi Merry tidak bisa mengorbankan kepentingannya demi orang lain.


"Kalau begitu aku turun di depan situ saja nanti biar dijemput temanku, Pak." Merry sudah matang merencanakan jika hari ini diet akan pulang sekolah karena sangat bosan dengan pelajaran yang begitu-begitu saja belum lagi nilainya yang berada di bawah 90 pasti akan mengundang kemarahan dari Nyonya Ami.


"Memangnya teman Nona mau menjemputnya ke sini?" Pak sopir itu bertanya tidak percaya dengan pernyataan yang diberikan oleh Merry.

__ADS_1


"Memang benar dia akan menjemputku." Merry berkata dengan nada yang sangat meyakinkan.


Alhasil sopir itu segera menurunkannya di pertigaan jalan menuju ke sekolah sedang dirinya setelah menurunkan Merry dari mobil langsung tancap gas kembali ke rumah karena mendapatkan tugas tambahan dari Nyonya Ami untuk mengantarkan dirinya meeting dengan klien Tuan Zidane.


*


Gea sengaja mengantarkan Nando terlebih dahulu ke sekolahnya untuk sekedar perkenalan dengan teman sekolah karena dia kasihan adik sekecil itu harus berangkat sekolah sendiri meski jaraknya tidak begitu jauh dari rumah. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan Imam yang sedang mengendarai sepeda motornya juga hendak menuju ke sekolah di tempatnya mengajar.


"Gea, biar sekalian saja Nando bersama aku." Imam berusaha mensejajarkan motornya dengan motor Gea.


"Gimana Nando?" tanya Gea meminta pendapat terlebih dahulu kepada adiknya sebab dia tahu jika anda tidak nyaman dengan seseorang dia pasti akan marah kepada Gea.


"Boleh saja sih kalau begitu Mbak bisa beres-beres sebelum nanti berangkat ke kota lagi."


Sudah hampir seminggu dia tidak menghubungi Vina. Rencananya Gea akan kembali dan mengurus cuti setelah itu dia akan berada di desa kurang lebih selama satu semester.


Gea membuka ponselnya kemudian menghubungi Vina.


"Astaga Gea, akhirnya lo masih hidup sekarang di mana?" Vina langsung berteriak ketika mendapatkan telepon dari Gea.


"Biasa aja kali gue lagi di kampung sama Nando dan Ibu."

__ADS_1


"Kok lu tega banget sih nggak ngabarin gue kalau diusir oleh mamanya Kakak Zidane, ya?"


"Nggak papa kok malah itu jadi berkah karena ibu sekarang bisa bersatu lagi dengan nenek dan sepakat untuk tinggal di sini merawat nenek sedangkan paman dan bibiku juga begitu mereka sangat senang karena ada yang merawat nenek sehingga jika ada yang merantau keluar tidak bingung karena nenek sudah ada temannya."


"Kayak sejak kapan lu bisa ngomong nyerocos kayak gitu?"


"Heheh, sayang semangatnya saking senang aku berada di sini karena dikelilingi oleh orang-orang yang baik."


"Lo nggak kangen sama Zidan?"


"Kok tanyanya begitu?"


"Habisnya aku harus tanya bagaimana kamu pasti kangen sama aku tapi dengan Zidan kangen nggak?" Tentu saja di dalam hatinya tidak bisa dipungkiri jika dia sangat merindukan kehadiran Zidane disampingnya. Lelaki yang sekaligus merangkap jadi CEO di kantornya itu mampu mencuri hati Gea.


"Kalau mau balik kapan?" Vina berharap dia akan kembali secepatnya dan mereka akan bertemu terus selain kuliah bareng juga akan bermain bersama karena hidup tanpa biaya bagi Vina itu terasa hambar bahkan hari-harinya tidak ada yang berwarna sama sekali.


"Aku mungkin balik tapi untuk sekedar mengurus cuti karena aku betah tinggal di sini."


"Gea kamu jangan gitu dong nanti aku di kamu sama siapa?" Vina mulai merajuk.


"Iya, aku nanti bakal balik ke situ tapi setidaknya aku harus memastikan jika ibuku memiliki pekerjaan di sini jadi tidak terlalu bergantung dengan nenek." Vina tersenyum semeringah mendengarkan kayak akan kembali tetapi dia juga kembali bersedih karena dia hanya kembali mengurus cuti setelah itu pasti akan di desa untuk waktu yang lumayan lama.

__ADS_1


"Setidaknya lu bisa berpamitan dengan Zidane terlebih dahulu." Sengaja Vina tidak memberitahukan jika situasi dan sudah dijodohkan dengan keponakannya sendiri tetapi dari hati dia pun lebih setuju jika Zidane bersama dengan Gea daripada harus dengan Grace. Menurutnya Zidan dan gaya itu sangat serasi Dan dia tentunya merindukan pasangan seperti Tuan Zidan yang lain.


"Aduh kamu bawel banget sih, Vin, iya aku nanti pasti datang ke situ kok." Dia menutup percakapan di teleponnya kemudian membereskan barang-barang yang akan dia bawa kembali ke kota untuk sekedar mengurus cuti kuliah.


__ADS_2