Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Salah Emoticon


__ADS_3

Setelah mengirimkan pesan tersebut Gea langsung terlelap di dalam mimpinya karena besok pagi sudah harus mulai bekerja lagi. Berbeda dengan Tuan Zidane, membaca pesan dari Gea membuat alisnya saling bertaut antara satu dan lain.


"Gea mengirimkan emoticon love kepadaku?" tanya Tuan Zidane kepada dirinya sendiri setengah tidak percaya jika Gea mengirimkan hal ini kepadanya. Ada seperti rasa bangga sekaligus rasa yang tidak bisa dilukiskan dengan perasaan dan kata-kata, ternyata Gea memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.


Tuan Zidane pun tidak henti-hentinya tersenyum karena mendapatkan emoticon love dari Gea di tengah malam seperti ini. Pertama kalinya Tuan Zidane begitu bahagia mendapatkan pesan meski hanya simbol tetapi terkesan romantis bagi dirinya.


Malam ini bisa dibilang adalah malam yang indah bagi Tuan Zidane selain beberapa waktu yang lalu bersama dengan Gea. Meski jam di dinding sudah menunjukkan angka 2 tetapi mata tuhan sedang tidak mengantuk sama sekali.


"Ah, kenapa aku menjadi lebay seperti ini," kata Tuan Zidane bingung memikirkan dirinya sendiri.


Karena dia tidak kunjung memejamkan mata, Tuhan Zidane pun berinisiatif untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dia mulai membuka laptop dan beberapa dokumen yang sengaja dibawa pulang agar memudahkan pekerjaannya nanti setelah berada di kantor. Apalagi besok harus ada meeting dengan beberapa klien dari pagi hingga sore hari bahkan ada juga yang mengajaknya makan malam tetapi Tuan Zidane belum tahu apakah dia bersedia atau tidak.


Terdengar samar-samar suara ayam berkokok artinya hari sudah berganti menjadi pagi. Gea masih malas untuk beranjak dari kasurnya tetapi tangannya sudah meraih ponsel yang terletak di meja sebelah ranjang. Hal pertama yang dia lihat adalah sekarang jam berapa. Ternyata belum begitu pagi masih menunjukkan pukul 04.30.


"Ah, rupanya baru jam 04.30 kenapa aku bisa bangun secepat ini." Gea sedikit menyesal karena waktu istirahatnya berkurang semalam dia tidur sekitar pukul 12.30.


Iseng-iseng dia mengecek ponselnya terutama pesan dari Tuan Zidane semalam berharap dibalas tetapi jika tidak dibalas juga tidak masalah karena dia sudah menyiapkan hatinya sejak jauh-jauh hari. Gea menekan tombol hijau bergambarkan telepon. Yang pertama kali terpampang paling atas adalah nama Tuan Zidane. Rasa penasaran dia pun semakin memuncak untuk mengetahui apakah transisi dan membalasnya atau belum.


Dengan tangan sedikit bergetar Gea mulai menekan tombol tersebut dan terpampanglah secara jelas jika aturan sidang ternyata membalas emoticonnya tetapi dia langsung terperanjat melihat emoticon yang dikirimkan saat itu. Matanya menatap beberapa kali seakan tidak percaya apa yang telah ketikan jarinya semalam. Langsung saja ke Yaman kalau bukan tubuhnya kembali ke ranjang saking malu padahal di sana tidak ada Tuan Zidane yang melihat tetapi karena dia memiliki perasaan yang berlebih kepada Tuan Zidane sehingga mengirimkan pesan seperti itu jantungnya sudah tidak bisa dikendalikan.

__ADS_1


Tiba-tiba Mbak Ranti dari kamar sebelah mengetuk kamar Gea.


"Gea, jam 05.00 ayo kita bangun."


"Iya, Mbak." Meski menjawab tenang tetapi dalam hati dia masih semrawut memikirkan hal yang semalam. Bisakah dia nanti bertemu dengan Tuan Zidane seperti apa wajahnya bila bertemu dengan majikannya tersebut. Meskipun sang majikan sudah menyatakan perasaan untuk dirinya tetapi dia masih malu untuk mengakui jika dia juga mencintai Tuan Zidane.


Akhirnya dia pun memberanikan diri untuk berkota di dapur membantu Mbak Ranti padahal dia tadi sudah memiliki pikiran untuk berganti tugas dengan asisten yang lain yaitu bagian membersihkan rumah. Sesekali dia ingin menghindari Tuan Zidane tetapi rupanya dewa keberuntungan tidaklah sedang berpihak kepada Gea atau mereka bakalan bertemu di waktu selanjutnya?


"Gea, aku perhatikan dari tadi kamu ini kok sepertinya ada yang berbeda?" tanya Mbak Ranti di sela-sela kesibukannya menggoreng bakwan.


"Berbeda bagaimana?"


"Mbak Ranti jangan melakukan fitnah kepada saya," sungut Gea sambil tertawa mengiris seledri untuk taburan sop nanti.


"Lah fitnah bagaimana? Ini kenyataan lho Gea."


"Iya fitnah, fitnah kalau aku cantik."


"Woalah kamu ini ada-ada saja, enggaklah kamu memang cantik dari sononya," celoteh Mbak Ranti seolah-olah tahu jika sejak dulu Gea sudah cantik, padahal waktu kecil Gea bisa dikatakan tomboy, sering bermain dengan laki-laki, memanjat pohon bahkan mencuri tentang mangga tetangga adalah rutinitasnya. Namun seiring berjalannya waktu kini Gea merubah dirinya sedikit demi sedikit untuk menjadi wanita seutuhnya agar setidaknya dia bisa mendapatkan pacar. Akan tetapi rupanya kenyataan berbanding terbalik sehingga saat ini kuliah sudah semester 4 tetapi dia belum mendapatkan pacar alias dia masih menyandang status bagi jomblo dari sekolah menengah hingga saat ini. Terkadang saja jika Vina sedang ngedate dengan pacarnya Gea tidak jarang harus menjadi obat nyamuk.

__ADS_1


"Mbak, ini sudah jam berapa?" Gea lupa tidak mengenakan jam tangan biasanya dia selalu tidak pernah absen mengenakan jam di tangannya. Apalagi jam dapur sedang kehabisan batu jadi dari semalam masih menunjukkan pukul 12.00 terus.


Mbak Ranti pun langsung mengecek ponselnya takut jika dia terlambat memasak untuk hidangan sarapan pagi ini meski hanyalah makanan sederhana tetapi sarapan merupakan hal yang wajib yang harus mereka lakukan saat berada di rumah Tuan Zidan.


Tempat pukul 07.00 Merry dan Tuan Zidane pun memasuki ruang makan. Cara sengaja Gea menyiapkan makanannya sudah sejak 10 menit yang lalu sebelum tuanya datang.


Melihat makanan sudah tersusun rapi. Tuan Zidane pun mulai bertanya-tanya biasanya jika dia sudah duduk di kursinya barulah makanan datang, bukan saat dia masih berada di kamar makanan sudah disiapkan semuanya. Ini merupakan sesuatu yang berada di luar kebiasaan.


"Mbak Ranti," panggil Tuan Zidane setelah selesai menyantap sarapan. Merry sudah terlebih dahulu berangkat ke sekolahnya. Mbak Rani pun langsung menghadap ke Tuan Zidane. Dia takut jika terjadi sesuatu kesalahan tetapi dalam benaknya terus mengatakan jika dia tidak melakukan kesalahan apapun demikian juga dengan Gea.


"Saya Tuan," jawab Mbak Ranti dengan sopan.


"Siapa yang menghidangkan masakan pagi ini?"


"Gea, Tuan." Mendengarkan nama Gea disebut Tuan Zidan langsung menyuruh Gea untuk menghadap ke ruangannya.


Dia sedang asyik mencuci piring sisa sarapan Tuan Zidane dan Merry.


"Gea, pekerjaanmu nanti biar aku yang menyelesaikan sekarang kamu diundang ke ruangannya Tuan Zidane." Gea menatap Mbak Ranti dengan 1000 tanda tanya tetapi dia memendamnya sendiri tidak jadi mengutarakan kepada Mbak Ranti.

__ADS_1


"Ada apa ini aku dipanggil?" Gea terus berjalan dengan tenang menuju ruangan kerja Tuan Zidane.


__ADS_2