
Pagi menjelang.
Meski hari ini terlihat langit tidak begitu cerah tetapi Gea harus segera bangun dari tidurnya sebelum Mia terbangun. Karena hari ini dia sudah harus kembali bekerja di rumah Tuan Zidane.
"Mia, ayo bangun," kata Gea sambil mengguncang tubuh Mia yang masih terlilit selimut dengan rapat.
"Ah, Gea, aku masih malas," sahut Mia merapatkan selimutnya lagi seolah dia tidak mau diganggu oleh Gea.
"Aku bangun duluan karena harus berangkat bekerja hari ini."
"Heem." Mia malah menyembunyikan kepalanya di balik bantal.
Gea segera bangun dan kemudian menuju ke kamar mandi mencuci mukanya sebentar sebelum bertolak ke rumah Tuan Zidane.
Tepat pukul 06.00 pagi Gea sudah bersiap untuk kembali. Dia berjalan sekitar 200 meter untuk menunggu angkot yang lewat.
Sungguh beruntung tidak berapa lama angkot yang dinanti oleh Gea akhirnya datang juga. Dia pun naik bersama beberapa penumpang lainnya menuju ke kediaman Tuan Zidane.
Tuan Zidane : Gea, kamu sampai di mana?
Gea langsung membaca pesan yang dikirimkan oleh sang pujaan hati. Memang Tuan Zidane tidak bisa secara romantis seperti halnya lelaki yang lainnya tetapi bagi Gea ini sudah lebih dari cukup. Mungkin juga karena jarak usia mereka memang terlampau cukup jauh. Jadi definisi romantis bagi Gea mungkin berbeda dengan apa yang dimaksud romantis oleh Tuan Zidane.
Gea : aku sekarang sudah berada di angkot.
Setelah itu sudah tidak ada balasan apapun dari Tuan Zidane. Gea kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas kecil yang dibawanya sejak kemarin.
Di dalam angkot itu ada sekitar 5 orang penumpang termasuk sopir dan Gea. Seorang penumpang perawakan tinggi rambut gondrong serta kumis yang menyeramkan terus-menerus menatap Gea. Sontak saja Gea menjadi takut dan langsung mendekat tasnya erat-erat karena dia sudah tahu niat lelaki itu kalau tidak mencoba pasti akan menjambret tasnya. Untuk antisipasi hal itu Gea kemudian mengubah tempat duduknya yang semula berada di pojok sekarang berada di dekat pintu.
Jarak ke rumah Tuan Zidane masih cukup jauh ini baru separuh perjalanan. Ingin sekali dia segera turun tetapi entah kenapa sopir angkot itu juga tidak mendapatkan penumpang dari tadi malah yang membuat Gea lebih heran ada seseorang yang ingin menyetop tetapi sopir angkot tersebut pura-pura tidak tahu atau bagaimana yang jelas dia hanya lewat saja tanpa berhenti.
__ADS_1
"Pak, saya turun depan situ saja ya," kata Gea sedikit gemetar apalagi lelaki itu terus menatap Gea.
"Dimana Neng?" tanya sopir angkot sambil memantau keadaan di belakang sana.
"Itu perempatan situ saja, Pak." Gea menuju jalan kebetulan di depan sana ada sebuah perempatan tetapi sama saja kondisi jalanan itu sepi.
Melihat Gea mengulurkan uang kepada sopir angkot tersebut lelaki itu juga ikutan turun. Gea sudah sangat yakin jika lelaki itu memiliki maksud yang tidak baik terhadap dirinya.
Kaki Gea pun segera melangkah turun diikuti oleh laki tersebut. Gea segera mempercepat langkahnya mencari suasana yang lebih ramai tetapi agaknya dia salah perhitungan karena di sana hanya ada sebuah rumah yang mungkin tidak berpenghuni.
Gea terus mempercepat langkahnya, demikian pula dengan lelaki tersebut juga mempercepat langkahnya hingga mensejajari Gea. Tidak mau kehilangan kesempatan dia segera meraih ponselnya dan menekan nomor Tuan Zidane.
Saat ini Tuan Zidane sedang berada di atas ranjang sambil memainkan ponselnya sejenak. Hari ini rencananya dia akan masuk setengah hari karena menepati katanya untuk menjemput Mama ke bandara bersama dengan Grace.
"Menyebalkan sekali harus mengikuti saran dari Mama," gerutu Tuan Zidane sambil melemparkan ponselnya.
Namun tak berapa lama ponselnya kembali berdering. Dia sangat malas untuk mengangkat telepon karena transition yakin jika itu adalah panggilan dari Grace tidak mungkin Gea akan menelponnya terlebih dahulu.
Dia segera berlari mendekati benda persegi yang berteknologi tinggi tersebut dan langsung melihat siapa nama yang tertera di sana. Ternyata adalah Gea. Tuan Zidane langsung menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan dari Gea.
Anehnya Tuan Zidane tidak mendengarkan suara apapun. Dia terus menampilkan telinganya di telepon karena penasaran apa yang ingin diucapkan oleh Gea.
"Halo, Gea." Kali ini suara yang didengarkan oleh Tuan Zidane hanyalah gemerisik seperti seorang yang sedang berjalan terengah-engah.
"Tolong aku." Gea hanya berucap demikian.
Seketika itu Tuan Zidane langsung bergerak cepat.
"Kamu dimana?" Setelah bertanya demikian telepon pun mati. Transistor semakin tidak karuan karena dia khawatir dengan Gea.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang, Tuan Zidane langsung menyambar kunci mobil dan turun ke garasi.
*
Lelaki itu semakin mendekati Gea bahkan jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah lagi.
"Gadis manis, ayo berhentilah sebentar saja." Lelaki berkumis panjang itu berusaha untuk menyetop Gea.
"Ada perlu apa?" tanya Gea tanpa menghentikan langkah kakinya. Di sepanjang jalan ini dia tidak bertemu dengan seorang pun.
"Aku sepertinya pernah melihat dirimu?"
"Kita tidak pernah bertemu," sanggah Gea secara cepat.
Gea sempat sherlock dengan Tuan Zidane. Jadi jika ada kemungkinan yang tidak baik, dia sudah menghubungi Tuan Zidane terlebih dahulu.
"Tolong jangan ikuti aku lagi," kata Gea semakin bergetar dengan nada ketakutan. Lelaki tersebut rupanya tidak menggubris apa yang diucapkan oleh Gea dia terus berusaha mensejajarkan langkah dengan Gea.
Tuan Zidane langsung tancap gas menuju lokasi yang telah di share oleh Gea. Dia tidak mau terjadi apapun dengan kekasihnya itu. Pikiran Tuan Zidane hanyalah satu Gea harus selamat dan tidak boleh terluka. Dalam hati ia juga sedikit menyesal karena menuruti permintaan Gea untuk kembali ke rumahnya tidak bersama-sama tetapi malah menginap di tempat Mia.
Lelaki berkumis itu akhirnya tidak hanya mampu mensejajarkan langkah dengan Gea tetapi mampu menghalangi tepat di depan Gea.
"Manis, mau lari ke mana lagi kamu?" tanyanya sambil memilin kumis dengan senyuman menyeringai merasa sudah menang dari Gea.
"Bisakah kau minggir aku ingin segera pergi dari sini."
"Tentu saja aku akan minggir, tetapi sebelum itu aku akan memberikanmu dua pilihan."
"Apapun pilihanmu aku tidak akan pernah memilih salah satu diantara itu," tandas Gea dengan berani meski hatinya merasa ciut.
__ADS_1
"Wow, gadis pemberani juga ternyata dirimu." Posisi Gia semakin terjepit karena lelaki itu mendekati Gea dan jarak mereka hanya tinggal beberapa senti sedang di tempat itu memang sepi dengan orang.
Dengan satu hentakan saja dia sudah terjengkang jatuh. Lelaki itu semakin menatap dia dengan penuh nafsu. Bibir dia sudah bergetar ingin berteriak tetapi suaranya hanya tertahan di tenggorokan saja. Ponselnya juga sudah terjatuh.