Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Di Desa


__ADS_3

Di dalam bus baik Nando maupun Bu Ranti banyak tertidur, berbeda lagi dengan Gea yang sadari tadi masih terjaga karena dia tidak tahu tanggapan keluarga di kampungnya seperti apa.


Dulu keluarga mereka memang berasal dari kampung, tepatnya mendiang ayah Gea adalah orang yang dari kampung dan ibunya asli berbeda daerah. Karena suatu hal ayahnya memutuskan untuk merantau serta Gea yang masih kecil juga ikut. Pertama datang ke kota Greenville, kehidupan Gea lumayan baik karena ayahnya merupakan seorang sopir pribadi dengan penghasilan yang lumayan cukup. Keadaan ini bertahan hingga Nando terlahir. Namun semua keadaan itu berbanding terbalik ketika ayah Gea meninggal. Bu Ranti sebagai seorang istri yang tidak diizinkan suaminya bekerja mendadak kaget mendengar suaminya meninggal begitu saja. Awalnya kehidupan mereka masih cukup ditampung oleh asuransi ayahnya yang masih banyak tetapi itu hanya bertahan beberapa tahun saja setelah semuanya habis maka berhenti harus berusaha sendiri untuk mempertahankan hidupnya sendiri serta hidup kedua anaknya.


Gea yang masih duduk di bangku sekolah menengah, dengan semangat mencari pekerjaan sampingan demi bisa membantu ibunya. Tak jarang dia juga kerap kali menjual makanan untuk menambah uang saku agar setiap harinya bisa menabung dan jajan sedikit. Walaupun keadaan dia hanya biasa saja bahkan mendekati garis kemiskinan tetapi Gea tidak mau bergantung kepada orang lain.


"Gea ayo turun kita sudah sampai," kata Bu Ranti menyenggol bahu kiri Gea perlahan.


"Oh, iya, Bu." Meski matanya terjaga tetapi ternyata tidak dengan hatinya dia malah asik bernostalgia dengan mendiang sang ayah di alam bawah sadarnya sehingga tidak mengetahui jika bus yang mereka tumpangi telah sampai di terminal menuju ke desa di mana ayahnya berasal.


Untuk sampai ke desa tujuan ternyata masih membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan dan menggunakan angkudes yang lewat. Cukup lama mereka menunggu hingga 1 jam ternyata belum ada angkudes yang datang.


Kata penduduk setempat untuk saat ini memang sedikit sulit mencari anggota karena banyak sekali yang sudah memiliki kendaraan pribadi dan memilih untuk mengendarainya.


Dengan kesabaran yang berlebih akhirnya Gea dan ibu serta Nando berjumpa dengan angkudes tersebut. Setelah terjadi tawar-menawar harga akhirnya mereka sepakat dan melanjutkan perjalanan hingga ke desa.


Suasana di desa tentu jauh berbeda ketika berada di kota Greenville. Lamaran sawah luas sedang menghijau serta beberapa anak desa yang terlihat berlari kesana kemari seperti tidak memiliki beban apapun meski hidup mereka sederhana tetapi tampak bahagia. Begitu pula dengan orang tua yang seolah mata sinar matahari terik sudah menjadi teman akrabnya sehari-hari bahkan ada juga pak petani yang sedang mencangkul tanpa mengenakan baju hingga terlihat kekarnya otot mereka serta legamnya kulit mereka terlihat begitu sangat eksotik.


Sepanjang perjalanan ini Gea sangat menikmati alurnya. Ini bisa mengalihkan pikirannya dari Tuan Zidane.


*

__ADS_1


Masih seperti rutinitas biasa, tuan Zidane berangkat ke kantor namun tanpa ada semangat dan orang yang menyemangatinya telah pergi entah ke mana bahkan dia telah memblokir kontaknya. Namun sebagai seorang yang tidak mengenal putus asa sedan pun segera pergi ke kampus untuk menemui Vina karena dia tahu teman Gea jika tidak final maka Mia tetapi yang paling dekat adalah Vina.


Tidak peduli saat ini sedang jam kerja tetapi Tuan Zidane tetap saja memutuskan untuk pergi ke kampus di mana Gea belajar. Ia sudah hafal dengan jadwal Gea kapan pergi kuliah dan kapan istirahat.


Mungkin karena masih pagi, kondisi parkiran belum begitu ramai jadi situasi dan bisa leluasa memilih memarkirkan mobilnya di mana. Dia sengaja tidak keluar terlebih dahulu dari mobil karena menunggu Vina datang.


Sekitar 15 menit pun berlalu akhirnya mobil putih dari ujung jalan pun mulai nampak. Tuan Zidane sangat yakin jika itu adalah mobil Vina. Bersiap untuk turun tidak lupa ia mengenakan kacamata hitamnya agar tidak begitu dikenali oleh mahasiswa maupun dosen di sana karena dulu saat kuliah Tuan Zidan termasuk mahasiswa favorit, takut bila ada yang fans dan meminta tanda tangan. Ya sampai di sini Tuan Zidan memang terkesan sangat narsis.


"Vina, tunggu aku." Vina mencari asal suara yang tengah memanggil dirinya.


"Apakah aku tidak nampak sebesar ini?" Tuan Zidane sengaja berdiri di belakang Vina.


"Oh bosnya Gea, ada apa?"


"Bukankah dia sekarang bekerja di rumahmu seharusnya kamu tahu ke mana Gea pergi." Vina malah menuduh Tuan Zidane.


"Astaga Vina jika aku tahu aku tidak akan bertanya seperti ini kepada kamu." Vina hanya menjelekkan kepala, kemudian dia mengeluarkan ponsel dari sakunya untuk menghubungi dimanakah Gea berada.


Ternyata nomor siapa sama sekali tidak aktif, baik nomor telepon umum maupun nomor whatsapp-nya bahkan media sosial pun juga off semua.


"Emangnya Gea ada masalah?" Tuan Zidane menatap Vina beberapa saat seperti ingin menimbang apakah dia pantas curhat dengan wanita ini atau tidak.

__ADS_1


"Akulah sumber masalah Gea." Tuan Zidane menunduk karena dia merasa bersalah.


Sebetulnya dia sudah pernah bercerita kepada Vina bila dia dekat dengan seorang lelaki kaya tetapi Vina tidak menyangka jika itu adalah Tuan Zidane. Meski juga paket tetapi Vina terus berusaha untuk bersikap biasa saja.


"Sejak kapan dia menghilang?"


"Sejak beberapa hari yang lalu dia tidak kembali lagi ke rumah setelah kuliah." Foto Vina mulai memutar memori yang terdahulu jika kurang lebih 2 hari yang lalu mereka sempat masuk kuliah bersama dan Gea berkata jika tidak bisa mengantarkan Gea pulang.


"Oh, aku ingat sekarang mungkin dia berada di kontrakannya, karena pada saat itu aku tidak bisa mengantarkan dirinya dan katanya dia akan pulang menemui ibunya."


"Iya aku nanti akan coba kesana, terima kasih atas bantuannya."


Setelah mendapatkan informasi dari Vina tuan Sidan langsung memutar balikkan mobil ke arah dimana kontrakan Gea berada.


Meski jalanan cukup padat tetapi Tuan Zidane memang harus pandai untuk mencari celah agar bisa bertemu dengan kekasihnya.


Begitu sampai di depan kontrakan ternyata masih sepi tidak ada orang. Tuan Zidane pun turun dari mobilnya kemudian melihat kondisi sekitar siapa tahu dia sedang bersih-bersih di seberang sana.


"Maaf Mas, mau cari siapa?" Seorang emak-emak cester kuning agak lusuh berdiri menghampiri di mana Tuan Zidane duduk sekarang.


"Ini Bu, ini kontrakan Gea dan keluarga?" Tuan Zidane berkata demikian karena dia takut jika salah alamat.

__ADS_1


"Bukan kemarin orangnya baru saja pindah diusir oleh pemilik kosan itu." Seorang ibu muda itu tadi menunjuk arah kepada pengguna tas.


__ADS_2