Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Memeriksa


__ADS_3

Nyonya Ami memeriksa kalung ketika Mbak Ranti meninggalkan kamarnya.


"Kenapa kamu harus berpacaran dengan seorang pelayan Zidan?" tanya Nyonya Ami dalam kesendiriannya.


Setelah kurang lebih pukul 03.00 sore Tuan Zidane pun sesuai janjinya akan pulang lebih cepat daripada biasanya. Segera memberesi meja kacanya agar rapi kembali tanpa menunggu sekretarisnya datang ke ruangannya kemudian setelah semuanya itu beres, Tuan Zidane langsung mematikan layar datar yang kini tepat di depannya. Sang Sekertaris yang baru saja masuk hendak meminta dan tanda tangan dari Tuan Zidane pun melongo sebentar karena menyaksikan tuannya begitu aktif. Sebenarnya ini bukan bukan merupakan suatu pemandangan yang aneh tetapi tetap saja sang sekretaris itu tetap memandang dengan takjub. Namun dari banyak pengalaman di luar sana ternyata sang sekretaris hanya menemukan seorang bos demikian aktifnya membersihkan mejanya sendiri terkadang Tuan Zidane pun enggan dilayani sebagai seorang tuan muda pada umumnya, ia lebih senang mandiri sehingga dirinya terlihat begitu berkarisma.


Kemudian sekretaris itu mengatakan maksud dan tujuan datang ke ruangan Tuan Zidan. Tuan Zidane langsung menjentikkan jarinya bertanda meminta berkas yang akan ia dan ia tandatangani sebelum pulang.


"Oke, semuanya sudah beres aku akan segera pulang." Sansekertas itu pun mengangguk dengan hormat kemudian Tuan Zidane menyambar jasnya yang ia letakkan sengaja di belakang kursi kemudian tidak lupa meraih kunci mobil.


Perlahan tapi pasti langkah Tun Zidane langsung menuju ke parkiran di mana mobilnya saat ini berada. Sengaja dia lewat di depan daripada harus melalui lift yang khusus untuk dirinya dan para staf penting di perusahaan tersebut. Itulah sebabnya dia lebih nyaman menjadi posisinya sebagai orang dewasa daripada harus dielu-elukan sebagai tuan muda. Mungkin itu juga sebagai alasan kenapa Tuan Zidane lebih nyaman berpacaran dengan Gea daripada harus dekat dengan Grace.


Kondisi jalanan memang belum seramai ketika jam pulang kantor tetapi Tuan Zidane tetap menjaga fokus dan berusaha lebih cepat untuk sampai di rumah. hatinya kembali bertanya-tanya kenapa mamanya terlihat begitu sedikit ketus dengan kalimat yang diucapkan tadi siang.


"Apakah kira-kira Grace mengadu hal ini kepada Mama?" Pikiran Tuan Zidane bercabang kemana-mana. Namun ia sama sekali tidak menyangka jika mamanya sudah mengetahui perihal hubungannya dengan Gea.


Satu jam kemudian mobil pun sudah sampai di garasi dan presiden langsung memasukkan ke carport rumah itu. Tidak seperti biasanya, Gea biasanya langsung menyambut kehadirannya kali ini tetapi mungkin karena sibuk mendekati jam makan malam maka dipastikan Gea masih berkutat di dapur untuk membuat sebuah menu kesukaan dalam keluarga tersebut.

__ADS_1


Begitu sampai di ruang tamu Tuan Zidane sudah dihadang oleh Nyonya Ami.


"Halo, Ma." Meski mamanya terkenal sangat arogan tetapi Tuan Zidane tidak pernah melupakan kebiasaannya setelah pergi dari manapun ia langsung mengecup tangan dan menci-um kedua pipi mamanya dengan penuh kasih sayang.


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Nyonya Ami dengan mata terus melekat pandangannya ke arah Tuan Zidane.


"Ya, seperti yang memelihara di depan ini." Tuan Zidane mengerlingkan matanya. Dia rupanya masih belum paham masalah yang tengah menjerat dirinya dan Gea sebentar lagi.


"Mama ada kejutan buat kamu." Mata Tuan Zidane pun meredup sebentar tetapi Nyonya Ami tidak ambil pusing ia langsung berjalan menuju ke kamarnya dan di belakang itu dua sedan mengikuti mamanya.


"Zidane, Mama ingat sekali kamu menjadi Zidane yang jujur seperti dulu." Zidan pun sedikit bergetar hatinya mendengarkan mamanya berkata dengan demikian. Jika dulu Nyonya Ami sudah mengatakan untuk berkata jujur artinya adalah sesuatu yang Tuan Zidane sembunyikan.


"Kenapa Zidane? Ada yang salah?" Nyonya Ami memandang kalung tersebut dan bergantian dengan wajah Tuan Zidane.


"Mama dapat kaleng itu dari mana?" Tuan Zidane merasa sangat penasaran dengan perihal dari manakah mamanya mendapatkan kalung yang notabene sudah ia berikan kepada dia beberapa bulan yang lalu.


"Kamu tidak perlu tahu dari mana mama mendapatkan kalung ini tapi ada pertanyaan lebih penting ingin Mama sampaikan kepada dirimu." Tuan Zidane hanya diam sambil menatap mamanya dalam-dalam.

__ADS_1


"Tolong kamu jelaskan ke Mama ada apakah antara kamu dan pemilik kalung ini?" Zidane mulai menangkap jika mamanya sebenarnya sudah tahu bahwa kalung ini adalah milik Gea. Presiden pun terdiam untuk beberapa saat karena ingin mencari jawaban yang tepat agar tidak membawa masalah bagi Gea dan dirinya.


"Kenapa kamu hanya diam saja, Zidane?" tanya Nyonya Ami melihat perubahan yang tentara di wajah Tuan Zidane.


"Untuk apa mama mengurusi siapakah pemilik kamu itu apakah itu terlalu penting untuk Mama?" Tuan Zidane berusaha mengelak.


"Apakah kamu ingin jadi seorang pengecut?" Nyonya Ami terus-menerus mencecar Tuan Zidane dengan berbagai pertanyaan yang menjebak sampai Tuan Zidane mengaku.


"Oke, aku mengaku semuanya kepada Mama jika itu milik dia dan asal Mama tahu aku sangat mencintai gadis itu." Meski jawaban Tuan Zidane terdengar sangat sederhana dan dengan nada datar tetapi bagi Nyonya Ami itu merupakan sebuah tamparan keras baginya. Bagaimana tidak seorang tuan muda yang sudah digadang-gadang melanjutkan usahanya nanti di bidang bisnis malah jatuh cinta dengan pembantunya sendiri, itu sangat memalukan.


"Apakah kali ini Mama salah dengar, Zidane?" Sekali lagi Nyonya Ami berusaha bertanya kepada Tuan Zidane berharap jawabannya akan berubah.


"Tidak, Mama sama sekali tidak pernah salah mendengar tentang aku dan Gea, aku memang begitu mencintainya sejak pertama kali bertemu." Pengakuan Tuan Zidane terdengar sangat tulus sehingga membuat Nyonya Ami naik darah.


"Apakah kamu tahu, Zidane, perkataanmu itu sangat melukai Mama?" Tuan Zidane pun menyugar rambutnya ke belakang dan menghela nafas sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari Nyonya Ami.


"Maaf, Ma, jika aku mencintai seorang gadis yang bukan dari kalangan kita tetapi aku tidak tahu itukah namanya cinta. Bersama Gea aku bisa merasakan bagaimana perasaanku ini tumbuh berbeda sekali dengan gadis-gadis yang pernah Mama tawarkan untuk berkenalan denganku bahkan berkencan buta denganku." Tuan Zidane menjawab dengan mantap pernyataan mamanya.

__ADS_1


Kami yang mendengarkan penuturan keluar dari mulut Tuan Zidane pun berusaha untuk menggelengkan kepala. Dia sama sekali tidak setuju jika Tuan Zidane harus berpacaran dengan Gea.


"Jika begitu segera putuskan saja pacarmu dan kamu mengikuti permainan Mama." Dengan mantap Tuan Zidane langsung menggelengkan kepala. Nyonya Ami kembali menatap tajam anaknya.


__ADS_2