Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Kejutan Pagi


__ADS_3

Tuan Zidane tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu Gea kali ini.


"Gea, kamu dimana?" tanya Tuan Zidane di balik telepon.


"Aku sedang nongkrong bareng Vina."


"Aku susul."


"No, nggak usah aku saja yang cabut dari sini." Gea langsung menutup teleponnya agar Vina tidak mendengar percakapan antara dirinya dengan tuan Zidan.


"Ada apa?" tanya Vina selalu saja kepo dengan urusan Gea.


"Nggak sih, biasa namanya juga pembantu rumah tangga pasti ya sudah disuruh ini itu," kata Gea sedikit beralasan bahkan dia berani berbohong dengan sahabatnya tersebut.


Gea meminta izin kepada Vina untuk pulang terlebih dahulu dan Vina tidak usah repot-repot untuk mengantarkannya karena di depan sana dia sudah berkata jika memesan ojek online. Begitulah alasan Gea agar Vina tidak bertemu dengan Tuan Zidane.


Jarak antara cafe dengan kampus Gea lumayan dekat tetapi sebelum itu dia sudah shareloc kepada Tuan Zidane. Di depan sana ternyata benar mobil dengan sedan telah bertengger di pinggir jalan menanti kedatangan Gea.


"Hai," sapa Gea memamerkan sepasang gigi kelinci depannya.


"Ayo masuk." Tanpa diperintah dua kali Gea langsung membuka pintu mobil Tuan Zidane.


"Aku ingin bicara denganmu," celetuk Gea menatap Tuan Zidane yang tengah mengemudi.


"Baiklah kita akan bicara setelah mobil ini selesai sekarang aku fokus dulu menyetir demi keselamatan kamu." Dia sudah paham apa yang diucapkan oleh Tuan Zidane jika dia menyetir maka tidak suka berbicara.


Sengaja kali ini Tuan Zidane membawa Gea ke sebuah tempat yang masih sepi dengan orang lalu lalang.


"Kamu ngapain berhenti di sini?" tanya Gea dengan ekspresi heran karena mereka berhenti di tengah-tengah rumput ilalang.


"Aku ingin menjelaskan sesuatu kepada kamu." Akhirnya kedua orang itu turun dan mencari tempat duduk yang nyaman. Namun senyaman nyamannya di padang rumput masih nyaman bila berada di rumah sendiri.


"Silahkan kamu duluan yang bercerita," kata Tuan Zidane.

__ADS_1


"Aku banyak sekali yang ingin aku ceritakan kepadamu."


"Ya, aku akan mendengarkan apapun itu cerita kamu." Sebelum memulai bercerita Gea seolah memiliki beban hidup yang sangat besar dan sulit ditinggalkan. Bahkan nafas ibunya terkadang juga ikut sesak saking memikirkan kehidupannya yang seperti ini.


"Apakah kamu benar-benar mencintaiku?" Bukannya menjawab sih dan malah tersenyum sambil melihat seluruh wajah Gea dari jarak beberapa centi. Kemudian tangannya menangkapkan pipi Gea untuk menatap matanya kembali.


"Lihat saja di dalam bola mataku ini, Gea, apakah aku berbohong jika mencintaimu atau hanya mempermainkanmu?" Gea mengikuti saran dari Tuan Zidane.


"Sebenarnya aku sangat takut memulai hubungan denganmu bahkan aku sudah memprediksikan jika hubungan kita tidak akan pernah berakhir bahagia." Gea menunduk sambil mengucapkan kalimat tersebut seakan beban hidupnya pun bertambah kini tidak hanya ia mengurusi ibu dan adiknya tetapi juga harus mengurusi dirinya sendiri terlebih dahulu.


"Kenapa kamu malah memiliki pikiran seperti itu?" Gea menggeleng.


"Aku belum tahu kenapa aku memiliki alasan seperti itu tetapi yang jelas, aku merasa ketakutan ketika memulai menerima cintamu" Gea terus berkilah.


"Bagaimana jika aku tidak mau memutuskanmu tetapi selalu memperjuangkan cintamu kepadaku?" Tuan Zidane sudah mulai pintar menggombal membuat dia sebenarnya tidak terlalu paham dengan apa itu cinta.


"Entahlah, tetapi aku sangat takut bila Nyonya melakukan hal-hal di luar nalar." Gea menatap langit yang biru tanpa awan sedikitpun. Tuan Zidane mengerti perubahan yang antara di wajah Gea tetapi ia juga tidak bisa berbuat apapun.


"Jika kamu tidak keberatan, aku akan mengumumkan kepada anggota keluarga agar mereka merestui hubungan kita," kata Tuan Zidane penuh dengan rasa percaya diri yang tinggi.


"Tidak, tidak mau aku." Tuan Zidane mengraih tangan Julia kemudian menggenggamnya dengan erat namun lembut berusaha untuk memperjuangkan cinta mereka yang terhalang oleh kasta.


*


Semua anggota pelayan di rumah ini sengaja dikumpulkan oleh koordinator termasuk juga Gea. Pagi begini atas perintah Nyonya Ami. Termasuk juga Gea ikut berkumpul. Sepertinya akan ada pengumuman penting menanti mereka.


"Semuanya sudah berkumpul?" tanya Koordinator.


"Sudah," jawab mereka dengan singkat.


Terdengar suara langkah kaki seseorang memasuki sebuah ruangan. Semua yang ada disana diam seribu bahasa. Dengan tatapan tajam Nyonya Ami menatap satu persatu peserta yang hadir.


"Selamat pagi semua."

__ADS_1


"Pagi Nyonya."


Gea yang paling merasa bersalah disini. Dia terus menundukkan kepala sedari tadi. Tidak mau menatap Nyonya Ami.


"Saya tidak akan bicara panjang lebar disini, hanya sekedar evaluasi saja." Nyonya Ami menatap mereka satu persatu terutama Gea. Merasa ditatap begitu dalam oleh Nyonya Ami, Gea semakin menundukkan pandangan.


"Saya ingatkan sekali lagi apa tujuan kalian bekerja disini?"


"Mendapatkan uang."


"Bagus, saya mohon tujuan kalian tetaplah seperti itu, saya tidak ingin ada tujuan ataupun kegiatan yang lain dirumah ini bagi kalian, tetap jadikan pekerjaan untuk bisa menghidupi keluarga kalian." Nyonya Ami berbicara namun sedari tadi menyapa Gea saja.


"Jika ada yang menyalahi tujuan awal kalian, maka akan ada konsekuensinya nanti, ini merupakan peringatan dari saya."


Begitu Nyonya Ami menyelesaikan pidatonya pagi ini. Para pelayan saling berpandangan satu sama lain.


"Memangnya kenapa Nyonya berbicara seperti itu?" tanya salah satu pelayan yang memiliki rambut hitam sebahu.


"Tidak tahu, mungkinkah ada yang berulah diantara kita?" Mbak Ranti dan Gea memilih untuk menjadi pendengar setia saja daripada nimbrung. Gea paling panas kupingnya, itu tadi sama saja Nyonya Ami menyindir Gea di depan umum. Hanya saja Nyonya Ami sangat pandai menutupi semuanya agar dia tidak merasa malu di depan teman-temannya.


Setelah meeting hari ini selesai, seluruh pelayan di rumah tongsi dan membubarkan diri dan melaksanakan tugasnya masing-masing. Tak terkecuali dengan Gea yang langsung menggunakan apron kemudian menyebutkan diri di dapur karena sebentar lagi jam sarapan telah tiba.


"Gea, kamu baik-baik saja?" Mbak Ranti mencoba bertanya kepada dia tentang keadaan dirinya.


"Iya, memangnya ada apa Mbak?" tanya Gea mengerutkan kening.


"Ah, tidak, aku lihat tadi maaf ya nyonya Ami memperhatikanmu terus, apa kamu buat masalah?" Gea menghela nafas panjang namun dia tidak berani mengungkapkan yang sebenarnya kepada Mbak Ranti karena takut berita ini akan tersebar.


"Iya kah? Aku sendiri malah tidak tahu." Gea berpura-pura menggelengkan kepala.


Mbak Ranti merasa semakin bersalah terhadap teman sekerjanya.


"Maafkan aku Gea, semoga kamu betah di sini dan tidak dikeluarkan oleh Nyonya." Tentu saja Mbak Ranti hanya bisa mengungkapkan dalam hati.

__ADS_1


"Sayang," kata Tuan Zidane dari belakang Gea memeluk dengan erat tubuh gadis itu.


"Eh…." Gea terkaget mendapatkan Tuan Zidane di sini. Ia celingukan.


__ADS_2