
Ketika Gea memasuki ruang untuk mengurus cuti. Vina memilih di luar saja sambil mengoperasikan ponselnya. Dia sengaja melakukan ini karena ingin menghubungi Tuan Zidan agar jika dia masih berminat untuk bertemu dengan dia segera ke kampusnya bila tidak maka Vina akan mengajaknya keluar.
Vina : kalau kamu berminat bertemu dengan Gea sekarang dia berada di kampus.
Tuan Zidane membuka pesan tersebut dari Vina tetapi saat ini dia masih terjebak macet di jalan. Masalah mamanya bisa diatasi tetapi untuk bertemu dengan Gea, dia tidak bisa menunda hal ini karena rasa rindunya sudah semakin memuncak dan begitu dalam tidak bertemu dengan gadis pujaannya selama kurang lebih 7 hari.
Tuan Zidane : oke aku akan segera sampai ke sana tapi tolong jangan kamu pergi dulu.
Vina membaca pesan tersebut lantas geleng-geleng kepala ternyata sebutin itu tuan Zidane terhadap gadis yang begitu ia cintai. Tidak salah jika dia memilih Tuan Zidane sebagai pacarnya saat ini.
Kondisi jalanan kini sudah mulai lancar Tuan Zidane segera menambah kecepatan kuda besinya agar cepat sampai di kampus kia karena dia tidak ingin kehilangan kesempatan emasnya.
Terlambat sedikit saja Vina pasti sudah membawanya pergi dari kamus itu karena dia hari ini tidak ada jadwal kuliah.
__ADS_1
"Vin ayo kita pulang saja hah aku males di kampus lama-lama begini." Gea merajuk meminta ingin segera pulang karena dia masih merasa mengantuk.
"Nanti Gea aku masih ingin bertemu dengan seseorang."
"Siapa?" tanya Gea memiringkan kepala menatap Vina.
"Udah kamu diem aja di tempat situ nanti kalau misalnya dia datang kamu juga tahu sendiri siapa yang datang." Gea mulai mencerna perkataan Vina. Hatinya sudah mengatakan jika yang akan datang pasti Tuan Zidane tetapi dia tidak mau berburuk sangka kepada Vina. Sahabatnya yang satu ini juga tidak tahu dan tidak akrab dengan Zidane. Hanya saja dia memberitahu jika dirinya dan tuan Zidan berpacaran itu saja.
Bak artis yang baru naik daun. Begitu tuaji dan keluar dari mobilnya dia langsung menjadi pusat perhatian beberapa mahasiswa wanita yang memandang tanpa berkedip. Bahkan ada di beberapa di antara mereka yang sampai melongo.
Tuan Zidane melangkah dengan cuek kemudian ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Vina.
"Aku sekarang sudah berada di parkiran," katanya sambil memasukkan tangan satunya ke saku celana.
__ADS_1
"Oke tunggu jangan bergerak di situ aku dan dia akan segera datang." Begitu Vina mematikan ponselnya ia langsung menarik tangan Gea.
"Vin, kita mau ke mana?"
"Udah kamu nurut aku aja nggak bakal aku culik." Vina terus menyeret tangan Gea hingga sampai ke tingkat parkiran.
Seketika itu dia sudah tahu dari punggungnya jika lelaki yang berada di seberang parkiran itu adalah Tuan Zidan. Gea menghentikan langkahnya sejenak.
"Kamu mau mempertemukan aku dengan Tuan Zidane?" Vina mengikuti kia berhenti.
"Aku tahu kamu sebenarnya juga masih menginginkan bertemu dengan Kak Zidane, tolong hargai perjuangan dia hingga sampai ke sini."
Gea masih belum beranjak dari tempatnya. Hatinya berkecamuk menjadi satu antara ia ingin bertemu tetapi ia juga tidak ingin pertemuannya kali ini malah mengundang sesuatu hal yang tidak baik.
__ADS_1