Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Coklat Dari Tuan Zidane


__ADS_3

Menu makan siang Gea dan Tuan Zidane pun akhirnya datang. Meski makan satu bangku tetapi mereka sibuk mengisi perutnya masing-masing tanpa ada suara hanya suara sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring.


Bagi Gea sebagai seorang yang berasal dari kalangan bawah tentu mengandung makanan yang di suguh belikan oleh tuan Zidane sangatlah mahal dan rasanya pasti enak karena itu mungkin menjadi makanan paling terenak yang pernah Gea rasakan selama ini.


Masih begitu tapi dia tetap menjaga imagenya, Gea hanya terdiam tapi dalam hatinya ingin berteriak dan mengatakan jika makanan ini sangatlah lezat.


Tuan Zidane sebenarnya diam-diam juga memperhatikan Gea baik dari cara makannya sampai cara gadis itu duduk di sampingnya.


"Jika sudah selesai aku akan antarkan kamu kembali ke kampus." Tuan Zidane berdiri dan meminta izin kepada Gea untuk pergi ke toilet terlebih dahulu.


Dia menghela nafas panjang ketika dia sudah selesai menghabiskan isi piring dan saatnya makan dessert. Membayangkan betapa enaknya mempunyai kehidupan dengan uang yang bercukupan dan bisa makan di tempat yang seperti ini. Semuanya serba ada tinggal memilih tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana besok akan makan atau tidak yang dipikirkan hanyalah besok mau masak menu apa dan hari ini apa. Membayangkan nasib dirinya dengan takdir tuan Zidane tentulah sangat jauh. Kita memang terlahir di bumi yang sama tetapi belum tentu takdir kita juga sama kita menjalani kehidupan di dunia ini dengan takdirnya masing-masing dan akan berakhir dengan caranya masing-masing.


Kenyataan di intinya memandang interior desain di cafe ini sangatlah indah dan mewah namun juga tidak melupakan dari aspek kenyamanan. Menu makanan di sini sebenarnya juga tergolong familiar tetapi rasanya sangat lezat dan menggoyang lidah.


Tuan Zidane pun akhirnya kembali dari toilet.


"Ayo, Gea, kita berangkat," titah Tuan Zidane meletakkan beberapa lembar uang berwarna merah di bawah piring sisa mereka tadi. Dia berpikir mungkin Tuan Zidane memberikan tips kepada pelayan.

__ADS_1


Mereka berdua memasuki mobil. Tidak ada yang menyangka jika Gea dan tuan Zidane adalah majikan dan asisten rumah tangganya. Memang dia tidak terlihat seperti anak kampung meski hanya menggunakan outfit yang begitu sederhana.


Mobil pun melaju membelah jalanan menuju ke kampus kea yang akan segera dimulai sekitar 15 menit lagi. Tuan Zidane terus memacu mobilnya agar dia tidak telat mengikuti kuliah baginya pendidikan memang sangat penting.


Dalam hati, tuan Zidane pun merasa kagum dengan Gea yang masih mau berusaha meraih cita-citanya di tengah keterbatasan dan diharuskan bekerja keras di dalam waktu yang bersamaan.


Singkat cerita mereka sampai di depan pintu gerbang masuk ke kampus Gea.


"Tuan, Terima kasih ya atas tunggangannya maaf selalu merepotkan Tuan saja," kata Gea melepas sabuk pengaman dan hendak turun dari mobil.


Tiba-tiba tanpa disangka oleh Gea, Tuan Zidane pun memegang tangan Gea. Tentu saja hal ini membuat Gea tercengang.


"Ini, jika kamu lapar bisa memakan ini," kata Tuan Zidane memberikan sebuah kotak yang berisikan coklat blok. Tentu saja bagi seorang yang belum pernah menerima hadiah dari seorang cowok hatinya berbunga-bunga meski hanya sebuah coklat, itu apakah sebuah hadiah yang sangat istimewa.


"Ini apa?" Gea menanyakan apa maksud Tuan Zidane memberikan kotak berisi coklat itu kepada dirinya.


"Aku dulu ketika masih kuliah seperti kamu, selalu membawa dan membuka coklat ketika merasa mengantuk karena suasana di kampus seringkali membuat kita bosan dan aku juga jarang memiliki teman." Gea mengerutkan kening, bagaimana bisa dirinya dan tuan Zidane sama-sama kurang suka bergaul dengan orang lain kecuali jika mereka sudah sangat dekat.

__ADS_1


"Te-terima kasih, Tuan," ucap Gea menundukkan kepala sebagai tanda terima kasih kepada Tuannya.


Sebelum pergi itu asidan pun melambaikan tangan kepada Gea yang membuat hati gadis itu semakin berdebar-debar tidak karuan.


"Cie, Gea dianter cowok," ledek Vina salah satu teman dekat Gea yang kebetulan juga baru berangkat.


"Heheh, majikan itu, Vin." Ia pun berbicara apa adanya kepada sahabatnya itu bahwa dia saat ini memang bekerja sebagai seorang pelayan di keluarga Zidane.


"Nah, aku juga mau dong, Gea, kalau bekerja sama barang tuan itu," imbuh Vina cekikikan.


"Dasar otak, kalau ada yang bening langsung deh." Gea menggelengkan kepala heran dengan perilaku sahabatnya.


"Eh, tapi beneran loh itu majikan kamu super duper ganteng, Park Jimin aja udah kalah," kata Vina lagi sambil menatap jalanan yang baru saja dilalui oleh mobil tuan Zidane. Seakan bekas Tuan Zidane masih tertinggal disana.


"Udah nggak usah banyak ngomong ayo kita nanti telat loh, mata kuliahnya Pak Sadewo kalau telat bisa disate kita," ungkap Gea sambil menghadang tangan sahabatnya agar segera masuk ke dalam ruangan sebelum pak Sadewa datang membawakan mata kuliah tentang bisnis dan manajemen.


Mereka memasuki gedung. Gea dan Vina segera mencari tempat duduk di ruangan itu karena tak lama setelah mereka duduk Pak Sadewo sudah datang dengan wajah killernya ya sudah mencari di ciri khasnya sejak dulu. Tidak ada yang satu mahasiswa pun yang berani membolos di mata kuliahnya karena beliau tidak segan untuk memberikan nilai D kepada mahasiswa yang ketahuan membolos lebih dari 1 kali di jam kuliahnya. Kalau sudah begitu maka ancamannya mereka tidak akan lulus. Tentu saja sebagian dari teman angkatan Gea tidak mau terus-menerus bertemu dengan pak Sadewa bahkan mereka ingin cepat-cepat lulus agar tidak bertemu dengan dosen yang super killer dan menyebalkan tersebut. Meski mereka harus mengerjakan tugas yang sangat banyak demi bisa lulus dan tidak bertemu dengan Pak Sadewo kembali.

__ADS_1


Meski terkenal killer tapi di tengah-tengah mengikuti mata kuliah, Gea mengantuk mungkin karena dia juga kelelahan sehabis bekerja di pagi harinya dan nanti setelah pulang kuliah dia pun juga harus menyiapkan makan malam untuk keluarga Zidane.


"Hoam…." Gea menguap karena letih mengikuti pelajaran Pak Sadewo yang terlalu monoton. Matanya hampir 5 watt tetapi dia terus berusaha mengikuti pelajaran dosen killer itu. Tiba-tiba teringat akan coklat yang diberikan oleh tuan Zidan tadi.


__ADS_2