Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Selanjutnya


__ADS_3

Gea pergi dari hadapan lelaki setengah baya tersebut menuju ke depan.


"Bu, kita pergi aja dari sini." Gea sudah emosi tidak bisa mengendalikan amarahnya.


"Terus kita mau ke mana, Nak?" Bu Ranti masih terlihat bingung karena tidak tahu arah dan tujuan mereka hendak ke mana. Apalagi saat ini mencari kontrakan tidak semudah dulu. Mencari kontrakan yang memiliki harga lebih terjangkau dan rumah yang lebih besar tentu tidak mudah.


"Entahlah aku juga belum memiliki tujuan ke mana." Gea menerawang jauh ke tepi jalanan. Pikirannya juga tengah kacau. Apalagi saat ini dia hanya memiliki uang yang cukup untuk membayar kontrakan tetapi entah karena alasan yang tidak masuk akal mereka malah diusir cara sepihak.


"Kita tunggu Nando pulang sekolah setelah itu pergi dari sini, Bu." Gea merangkul ibunya yang masih menangis. Gea terus berpikir bagaimana caranya untuk mendapatkan setidaknya kamar kos untuk mereka beristirahat malam ini.


Di ujung jalan terlihat Nando yang sedang berlari bersama teman-temannya pulang dari sekolah. Mendapati Nando berjalan menuju ke arahnya Gea langsung berdiri dan memeluk adiknya satu-satunya tersebut.


"Kenapa semua peralatan berada di luar, Mbak?" Nando langsung mendengarkan kening ke arah Gea dan ibunya setelah melihat semua peralatan mereka keluar dari kontrakan tersebut.


"Hari ini kita bakal pindah ke tempat yang baru," kata Gea tanpa menunjukkan ekspresi sedih berbeda dengan Bu Ranti yang terus-menerus menangis meratapi nasibnya yang kurang beruntung saat ini.


Sebenarnya batin Nando bertanya-tanya tetapi mungkin saja dia akan membawanya ke sebuah tempat yang lebih bagus dari ini maka Nando hanya diam dan mengangguk. Gea teringat tadi Vina menitipkan sesuatu kepada dirinya.


"Nando, ini ada titipan dari Mbak Vina." Yang menyerahkan paper bag coklat berisi tempat pensil tersebut kepada adiknya. Nando segera meraih bungkusan tersebut dari tangan Gea kemudian membukanya perlahan.


"Wah, asyil, terima kasih akhirnya Nando bisa kesampaian memiliki tempat pensil seperti ini." Nando langsung mengeluarkan tempat pensil tersebut dari paperfect dan memperlihatkan kepada Gea serta ibunya.


"Iya Nando, itu bagus banget loh," kata Mbak Gea mengacungkan jempol.


"Ya mbak sekalian bilang sama mbak Vina ucapan terima kasih ya." Gea kembali mengangguk sambil mengacungkan jempolnya, tidak lupa dia mengambil gambar Nando saat memegang pensil tempat pensilnya untuk dikirimkan kepada Vina.


Sore pun telah tiba, ini sudah hampir maghrib dan tidak mungkin jika Gea terus-menerus berada di tempat kontrakannya tadi maka dia bergegas mengemasi koper dan membawa barang-barang yang penting untuk pergi dari sana.

__ADS_1


"Malam ini kita cari kamar kos dulu yang penting bisa beristirahat dengan nyaman," kata Gea menyeret koper khusus untuk bajunya sendiri. Dia sama sekali tidak izin untuk pulang hari ini tetapi entahlah yang penting saat ini keluarganya dalam keadaan sehat dan mendapatkan tempat untuk beristirahat saja sudah sangat beruntung.


Beberapa kali Tuan Zidane menelpon Gea tetapi karena tidak mendengar maka ia juga mengabaikan ponselnya. Tujuannya saat ini hanyalah mencari kamar kos terlebih.


*


Di rumah Tuan Zidane.


Terlihat Mbak Ranti mondar-mandir sendirian menyiapkan makan malam karena sekarang sudah waktunya Magrib dan biasanya makan malam akan segera dilaksanakan oleh keluarga ini. sebelum makan malam dimulai terlebih dahulu Tuan Zidane sudah berjalan menuju ke dapur untuk melihat di mana Gea berada.


"Mbak, Gea ke mana kok cuma sendirian saja?" Sontak Mbak Ranti kaget karena tadi tidak ada orang sama sekali dan sekarang Tuan Zidane datang tiba-tiba langsung bertanya tepat di belakangnya.


"Wah, kalau itu kurang tahu mas soalnya tadi dia kuliah tetapi biasanya jika sudah jam segini dia juga pulang." Mbak Ranti melihat jam yang terpampang di dinding menunjukkan sekitar pukul 06.00 sore.


Tuan Zidane manggut-manggut mendengar keterangan dari Mbak Ranti kemudian dia meninggalkan Mbak Ranti sendirian di dapur menuju ke kamarnya untuk menghubungi Gea lewat telepon.


Gea dan adik serta ibunya pun berjalan menyusuri jalanan malam. Beruntung sekali cuacanya malam ini sangat cerah sehingga tidak mengganggu ketika mereka melakukan istirahat di masjid terlebih dahulu sebelum menemukan kos-kosan di sekitar.


"Permisi Pak, maaf mau nanya apakah di tempat ini ada kos-kosan ya?" Gea memberanikan diri bertanya kepada marbot masjid yang kebetulan melintas di depannya.


"Oh ya kebetulan sekali saya memang memiliki tempat kost di sini." Gea melakukan bibirnya pertanda ada sebuah petunjuk yang begitu terang.


"Benarkah? Kalau begitu apakah kamarnya masih?"


"Setahu saya masih, maaf sebelumnya bukan punya saya tapi anak saya yang mengelola." Gea langsung mengangguk dan mendekati ibunya jika mereka akan diantarkan oleh bapak pengurus masjid tadi ke tempat kos.


Sekitar 5 menit berjalan akhirnya mereka berempat sampai di tempat kos-kosan.

__ADS_1


"Maaf hanya kamu seperti ini saja yang bisa kami berikan karena sudah terisi semuanya." Gea melihat sebenarnya kamar ini tidak terlalu buruk karena memang hanya ada satu kasur lusuh dan satu lemari plastik saja tetapi ini lebih baik daripada mereka malam ini tidur di jalanan.


"Jika mbaknya tidak berkenan tidak apa-apa." Pemilik kosan itu agaknya juga mengetahui pikiran Gea.


"Oh tidak masalah yang penting ibu dan adik saya bisa beristirahat di sini." Selanjutnya mereka langsung menegosiasi tentang harga dan karena kamarnya ini termasuk kamar yang paling sempit serta masih harus dibersihkan terlebih dahulu maka Gea mendapatkan harga hanya separuhnya saja.


*


Selesai dengan urusan kos-kosan ibu dan adik segera Gea kembali ke tempat kerjanya.


"Semoga saja pintunya belum ditutup," kata Gea melirik arloji yang sudah menunjukkan sekitar pukul 09.30 malam.


Sengaja malam ini dia menaiki ojek online agar cepat sampai di rumah karena bila menunggu angkut pasti sudah malam dan menimbulkan kesan seram.


Begitu sampai di gerbong dia langsung membukanya namun kemudian ada sesuatu yang menggelitik pikiran Gea.


"Loh Pak kenapa tas saya berada di sini?" tanya Gea begitu melihat tasnya berada di pos satpam.


"Maaf ya saya kurang tahu tetapi tadi Mbak Ranti yang membawanya ke sini coba kamu tanyakan saja ke dalam memangnya ada masalah apa." Pikiran Gea sudah tidak enak sama sekali.


Begitu sampai di depan pintu ternyata Nyonya Ami sudah mendungnya di ruang tamu. Dengan duduk menyilangkan kaki serta tangannya bersedekap di dada dan mengenakan kacamata putih membuat dirinya semakin cantik tetapi sayang sikapnya kepada Gea tidak ada toleransi.


"Sekarang kamu bukan lagi pelayan di rumah ini dan silakan meninggalkan rumah ini untuk barang-barang Mbak Ranti sudah mengemaskan semuanya untukmu." Gea tertegun sejenak mendengarkan kalimat yang keluar dari mulut Nyonya Ami.


"Artinya saya dipecat?"


"Perlu saya menjelaskan lagi?" sahut Nyonya Ami kemudian meninggalkan Gea dan melemparkan amplop berwarna coklat kehadapan Gea.

__ADS_1


__ADS_2