
"Aku tidak bermimpi kan?" Vina menepuk pipinya sendiri seolah dia tadi mendengarkan perkataan Zidan hanya di dalam angannya saja.
"Kamu pikir jika mimpi bisa menyetir?" Tuan Zidane menggelengkan kepala dan masuk ke mobilnya sendiri. Begitu pula dengan Vina akhirnya dia juga masuk mobilnya sendiri dan mereka berjalan beriringan.
Di dalam mobil Vina sempat menggumam apabila dia tidak percaya jika Tuhan Zidane tertarik dengan gaya padahal secara dirinya lebih cantik dari Gea.
"Kok malah tertariknya sama Gea nggak sama aku ya?" Vina beberapa kali berkaca di spionnya dan mematutkan poni agar terlihat cantik.
"Ya mungkin pantas saja kalau Zidane mendapatkan Gea, karena dia itu memang cantik dari sananya dan juga cantik hatinya, alim berprestasi kurang apalagi coba?" Vina malah memuji Gea. Memang tidak bisa dielak jika Gea memiliki segalanya bahkan keluarganya pun sangat harmonis meski ayahnya sudah tiada. Yang menjadikan Vina bangga dengan berteman dengan Gea adalah sikapnya bisa membawa tempat di saat suasana sedang senang dia bisa tertawa girang, tetapi di satu sisi jika Vina membutuhkan nasehat untuk menjadi dewasa dia pun yang paling terdepan untuk menasehati Vina.
"Walaupun kamu tidak jujur padaku tapi sekarang Kak Zidane mengakui di depanku jika kamu adalah pacarnya,"! Kata Vina dari tadi terus bermonolog sambil memperhatikan kondisi jalanan yang sedikit ramai karena memasuki jam makan siang.
Berbeda dengan kondisi di mobilnya Tuan Zidane, dia terus mengerutkan keningnya sedari tadi dan sesekali menatap jalanan untuk mengontrol kondisi mobil serta jalan yang hendak ia lalui.
"Mengapa Gea seperti seolah enggan memiliki hubungan lagi dengan aku?" Beberapa kali dalam hari ini Tuan Zidane telah membuka handphonenya dan berharap ada satu pesan dari Gea tetapi harapan itu rupanya hanya menjadi sebuah angan-angan belaka saja.
"Mana dari kemarin sudah menghilang?" keluh Tuan Zidane sudah merasa bosan dengan pekerjaan kantor.
*
Sudah beberapa hari ini Tuan Zidane tidak mendapatkan kabar dari Gea.
"Re, kamu bisa datang ke kantorku sekarang juga?" pinta Tuan Zidane dari telepon.
"Oke Bro, langsung otewe situ." Langsung menutup teleponnya kemudian mengendarai motor gede dan menuju ke kantor di mana Zidane berada.
Lelaki yang berparas tampak seperti Lee Jong suk itu sampai di kantor tidak membutuhkan waktu lebih dari 5 menit perjalanan.
"Gila lo emang punya?" Tuan Zidane sampai geleng-geleng melihat kecepatan sahabat sekaligus rekan bisnisnya.
"Hehe namanya ini adik keponakannya Rossi, mohon banyak dimaklumi." Re cangesan kemudian duduk di sofa dan kakinya tidak lupa naik ke meja.
__ADS_1
Melihat tingkah laku Re yang seperti brandal pasar itu pun langsung dengan refleks Tuan Zidane menendang kaki Re agar turun dari meja.
"Umur juga doa mau kepala tiga sopan santun nggak dijaga."
"Woy, lu mirip kayak nyokap gue bro apa-apa selalu ada aturan apa-apa diatur."
"Nggak juga sama bros kayak nyokap gue apa-apa curhat apa-apa curhat," balas tuan sidang tidak kalah sengit dari perkataan Re.
"Ngomong-ngomong ada apa lo manggil gue ke sini?" Begitu mendengar Re ingin menyampaikan tujuannya, Tuan Zidane pun mengumpulkan sejenak perkataan agar tepat dimengerti oleh Re.
"Jadi gini sebenarnya…." Kemudian mengalah cerita dari mulut Tuan Zidane hingga akhirnya dia pergi dari rumahnya termasuk dari kontrakan dan kini tidak diketahui keberadaan gadis itu bersama dengan keluarganya.
Re yang mendengarkan cerita dari tuan sedan langsung mangguk-mangguk paham apa yang telah dirasakan oleh sahabatnya ini.
"Lagian ngapain lu pacaran sama pembantu? Semok yaa??" Pikiran Re langsung travelling ke mana-mana.
"Woy, hati-hati kalau lu ngomong." Tuan Zidan langsung meninju bahu Re dengan pelan kemudian mereka tertawa bersama.
Sampai di sini Re sudah paham arah dari pembicaraan Tuan Zidane.
"Tapi emang sih kalau pelayan lo itu masuk kriteria." Re nyengir kemudian ditempuh oleh Tuan Zidane agak keras karena kalau sudah menyangkut kia dia tidak akan bermain-main meski itu dengan sahabatnya sendiri.
"Agaknya emang lu kayak dipelet sama itu cewek ya?" Pantas sekali jika Re merasa heran dengan perubahan kuat sikap Tuan Zidane selama ini.
"Amit-amit tanpa gue pelet, tanpa dia pelet kalau aku dan dia itu sudah menyatu,Re."
"Udah gue eneg ngomong ngobrol terus sama Lo. Sekarang gua ada tugas buat lo." Tuan Zidan mendekatkan diri ke arah
Re.
"Apa? Kalau bisa tugasnya review makanan juga boleh." Lagi-lagi membuat Zidan melengkungkan bibirnya. Ternyata di mana-mana itu sama jika seorang kakak perempuan atau laki-laki. Tinggal mereka yang menyikapinya.
__ADS_1
"Gundulmu itu. Mafia kok sukanya review makanan?" Tuan Zidane menyindir sahabatnya yang terkenal garang disegani baik lawan maupun kawan.
"Lho, aku ini lagi suka loh datang ke kondangan terus dapat makanan gratis. Itu rasanya lebih nikmat daripada masakan emak di rumah." Re yang biasanya terlihat sangar kini malah menunjukkan wajah lucunya dan ternyata dia bisa berkomedi.
"Norak ah, sekarang gue minta lo cari di mana Gea berada."
"Secinta itukah kamu dengan wanita itu?"
"Kalau bisa nggak usah bacot, masalah ini gue serius, Re!" Terlihat sekali jika Tuan Zidane tidak ingin diganggu apalagi diledek oleh siapapun.
"Terus gue harus cari di mana?" Inilah pertanyaan yang paling dibenci oleh Tuan Zidan karena dia ahli dalam menghack apapun tapi untuk mencari Gea saja dia bertanya harus mencari kemana.
"Asal nggak lo cari di rumah semut," tukas Tuan Zidan hampir gila harus menerangkan sedetail mungkin dengan Re.
"Masalahnya lo sukanya perfect gitu loh."
"Gue gak peduli, kamu harus cari dia."
"Perlu diseret kemari?"
"Lo pikir pacarku itu kambing, heh?" Tuan Zidane berdiri melotot ke arah Re.
"Oke deh, nanti gue kerjain hari ini gue mau molor dulu." Tanpa memperdulikan Tuan Zidane, Re kemudian beranjak meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah Re pergi begitu saja Tuan Zidane kembali fokus dengan pekerjaannya tetapi sama sekali dia tidak bisa terfokus. Pikirannya hanya menuju ke Gea.
"Tega banget sih, kamu Gea meninggalkan aku tanpa pesan," rancaunya tanpa sengaja didengar oleh sekretaris yang kebetulan masuk ke ruangan Tuan Zidane.
"Sejak kapan kamu berdiri disitu?" Samg sekretaris senyum kecil pasalnya sejak.ia bekerja sama dengan Tuan Muda itu, baru sekali ini saja Tuan Zidane merasa galau, bahkan kurang lebih seperti anak SMA yang sedang harum-harumnya menepuk cinta monyet di sekolah.
"Tuan ternyata bisa galau juga," sindir sekretaris sambil menaruh map berisi dokumen yang harus ditandatangani oleh Tuan Zidane.
__ADS_1