
Jawaban Gea terdengar begitu sangat polos sehingga membuat Tuan Zidane menahan tawanya. Dia memalingkan wajah dari Gea agar tidak terlihat sedang menertawakan jawaban asisten rumah tangganya yang terkesan konyol dan sangat jujur sekali.
"Karena saya bos kamu jadi kamu hari ini bertugas menemani saya." Bukannya dia mengangguk tetapi malah bengong dan mulutnya terbuka kemudian membentuk huruf O. Gea memang terkadang suka telmi atau telat mikir.
"Gea, kamu paham apa yang saya bicarakan?" tanya Tuan Zidane menatap Gea.
"Jadi hari ini saya libur pekerjaan rumah, begitu?"
Tiba-tiba ponsel Tuan Zidane pun berdering sehingga ia menghentikan pembicaraannya dengan Gea dan mengangkat teleponnya tersebut.
"Halo," jawabnya sambil menjauh dari Gea.
"Tuan, hari ini ada rapat mendadak dengan para pemegang saham jadi saya minta Tuan segera datang ke kantor sekarang juga." Tuan Zidan mengeram keras rencananya ingin refreshing untuk hari ini saja ternyata tidak bisa harus ada rapat mendadak.
"Tidak bisa kah jika diadakan besok atau lusa?" tanya tuan Zidan mencoba negosiasi dengan stafnya.
"Maaf, Tuan, kami sudah menentukan jadwalnya hari ini jadi kalau misalnya ditunda hingga besok atau lusa takutnya malah mereka marah atau akan menjual sahamnya." Tuhan Zidane pun berdecak kesal.
"Oke, tunggu aku 15 menit sampai kantor."
Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi Tuhan Zidan langsung mematikan ponselnya kemudian menyeret tangan Gea masuk ke sebelah meja kemudi dan dia duduk di sebelahnya. Gea heran melihat Tuan Zidane yang sepertinya sedang marah tetapi dia diam saja karena juga takut kena amukan Tuan Zidane padahal dia sendiri tidak tahu masalah apa yang sedang menimpa pada tuannya itu.
Mobil meninggalkan parkiran kampus dengan kecepatan yang diatas rata-rata apalagi ditunjang dengan kondisi jalanan yang terlalu sepi sehingga membuat Tuan Zidane dan menguasai jalanan bak milik sendiri. Gea yang baru pertama kali naik mobil dengan kecepatan begitu tinggi, dia berpegangan kuat-kuat pada seal beltnya dan sambil terus menghafalkan doa-doa agar selamat sampai tujuan meski dia tidak tahu kemanakah tujuan Tuan Zidan kali ini
Tidak sampai 15 menit mobil pun sudah sampai di parkiran yang begitu luas Gea mengira bahwa ini memang perusahaan tuan Zidane.
__ADS_1
Tentu saja dia tidak tahu harga buat apa harus turun atau tetap stay di dalam mobil.
"Gea, ayo turun." Begitu mendengar perintah dari bosnya dia langsung membuka pintu tanpa tuan Zidan membukakan pintu terlebih dahulu karena dia juga sungkan dengan bosnya.
Untuk beberapa saat dia langsung tercengang melihat keindahan yang berada di lobi perusahaan Tuan Zidane sungguh ini merupakan interior yang sangat bagus. Dia langsung menilai jika tuan Zidane memiliki jiwa seni yang sangat tinggi.
Hawa dingin yang berasal dari AC menusuk tulang Gea berbagai pandangan dari karyawan tuan Sidan menatap dirinya dan Gea hanya bisa membalas dengan anggukan kepala ketika ada karyawan yang mengajaknya tersenyum, dia tidak tahu harus bagaimana sikap yang terbaiknya.
Sepertinya Tuan Zidane cuek dan terus menggandeng tangan Gea sambil melewati beberapa meja stafnya sebelum sampai di ruangan yang bertuliskan CEO. Di dalam hati Gea merasa senang tetapi dia juga risih karena dari tatapan karyawan tersebut bertanya-tanya siapakah yang digandeng oleh bosnya saat ini.
"Maaf, Gea, saya harus meninggal kamu di sini terlebih dahulu karena ada meeting bersama dengan para petinggi."
"Jika ada yang kamu butuhkan silakan kamu menghubungi sekretaris saya di depan sana," imbuh Tuan Zidane sambil menunjukkan meja yang berada di luar ruangan tuan Zidane. Gea lagi-lagi mengangguk.
Sungguh sungguh saat ini Gea seperti berada di dalam ruangan yang terpenjara tetapi mewah. Dia tidak berani untuk sekedar memindahkan kakinya dari tempat duduk saja. Gea terlalu canggung untuk berada di ruangan tuan Zidane saat ini.
Gea membaca pesan dari Vina yang ternyata masih menunggunya di parkiran. Ia merasa bersalah dengan tidak berpamitan kepada sahabatnya terlebih dahulu tetapi tunggu, bukankah Vina akan cemburu jika nanti Gea mengatakan bersama dengan Tuan Zidane? Karena dari mimik dan gerak-geriknya saja terlihat jika sahabat Ghea itu memendam perasaan terhadap Tuan Zidan entah dia kagum ataukah memang tulus dari lubuk hatinya.
Gea : Maaf, aku sudah pulang duluan.
Saat ini hal yang paling baik bisa dilakukan oleh Gea adalah berbohong karena dia tidak mau menyakiti hati sahabatnya tersebut. Memang status Gea saat ini sebagai asisten rumah tangga Tuhan sih dan tetapi namanya orang cinta itu pasti buta dan jika Gea mengatakan sebenarnya bisa jadi Vina cemburu.
Hampir 2 jam lamanya tuan Zidane meeting bersama petinggi perusahaan dan dia hanya rebahan di sofa yang berada di pojok ruangan.
"Gea bangun," kata tuan Zidane menggunakan lengan Gea perlahan.
__ADS_1
Gadis itu langsung membuka matanya dan bangkit dari tidur.
"Maaf Tuan, saya ketiduran," ucap Gea menundukkan kepala.
"Sudah saatnya kita pulang," ajak Tuan Zidane mengeluarkan kunci mobil dari sakunya kemudian keluar dari ruangan diikuti oleh Gea.
Tentu saja pemandangan itu masih sama seperti tadi dia hanya menunduk ketika mata para karyawan menatap dirinya dengan penuh tanda tanya.
"Itu emang siapanya Tuan Zidane?" Meski mereka berbisik-bisik tetapi dia masih mendengar percakapan itu terlontar dari salah satu mulut karyawan tuan Zidane.
"Tau, mungkin saja pacarnya atau malah calon istrinya."
"Dih, gak rela banget itu cewek kusam loh, mana mau Tuan Zidan bersama dia."
Gea terus mendengarkan selentingan itu entah disengaja atau tidak.
*
Karena tadi siang dia sudah absen bekerja malam ini dia harus bekerja hingga larut begitulah peraturan yang ditetapkan oleh koordinator pelayan rumah Tuan Zidane. Sebagai gantinya Gea harus menunggu hingga Tuan Zidane selesai bekerja karena jika dia sedang bekerja akan membutuhkan kopi ataupun cemilan. Bagi Gea ini bukanlah sebuah masalah tetapi memang kesalahannya tadi ia malah ikut dengan tuan Zidane.
"Gea, aku tidur dulu ya," kata Mbak Ranti berpamitan setelah mencuci piring selesai.
Kini hanya tinggal Gea sendirian. Beberapa kali ia telah menguap tetapi untuk malam ini karena Tuhan sidang benar-benar lembur untuk proyek terbarunya maka dia tidak boleh sedikitpun tertidur. Untuk mengusir rasa kantuknya Gea mencoba berjalan-jalan ke tepi kolam renang yang terletak di belakang rumah.
Pantulan air berwarna biru ditambah dengan cahaya bulan membuatnya semakin bersinar. Gea mencoba duduk di tepi kolam sambil melihat ke arah langit. Sengaja kakinya ia masukkan ke air. Ada sensasi dingin masuki kulitnya ketika dia menyentuhkan kaki ke air.
__ADS_1
"Aku mencarimu kemana-mana ternyata ada di sini," kata Tuan Zidane mengagetkan Gea dari lamunannya.