
Bu Ranti bingung kedua anaknya tidak ada di rumah dan pergi tanpa pamit. Cuciannya masih belum selesai masih satu bak lagi tetapi dia langsung menuju ke ruang tamu untuk memanggil Gea dan Nando.
"Gea, Nando, kalian dimana!" panggil Bu Ranti dengan suara yang kencang tetapi sayang tidak ada jawaban di rumah itu. Bu Ranti sempat bingung kehilangan kedua anaknya. Hatinya sudah gundah. Takut bila ada apa-apa dengan kedua buah hatinya tersebut. Bu Ranti pun keluar.
Dari arah jalanan terlihat Gea dan Nando sedang menikmati sebuah es krim berbentuk jagung. Nando sangat bahagia bisa membeli es krim hari ini apalagi dengan rasa kesukaannya. Selain itu Gea juga membelikan Nando berbagai cemilan untuk agar adiknya lebih giat belajar lagi.
"Kak, makasih ya cemilannya aku sangat suka." Nando menggandeng tangan kakaknya.
"Kamu itu belajarnya yabg rajin ya, Dek." Gea mengangguk.
Begitu sampai di rumah Gea langsung membantu ibunya untuk menjemur cucian agar besok bisa kering dan langsung disetrika.
Tin…
Terdengar suara klakson di depan rumah Bu Ranti. Namun tetap saja Bu Ranti cuek karena dia hanya berpikiran jika itu adalah mobil tetangga yang lewat atau numpang parkir sebentar di halamannya. Berbeda dengan Gea, begitu mendengarkan klakson dia langsung meletakkan jajanan dan berlari keluar.
"Ya, benar disini,Pak, rumahnya," ucap Gea langsung membuka pintu rumah tersebut.
Bu Ranti tentu saja merasa heran karena dia tidak merasa membeli alat elektronik berupa mesin cuci tetapi di halamannya malah bapak tersebut menurunkan mesin cuci.
"Maaf, bisa saya cek alamatnya pak mungkin anda salah," kata berhenti dengan penuh keyakinan sebab tidak hanya sekali saja rumah mereka mengalami kesalahan pengiriman jadi untuk meminimalisir lebih baik Bu Ranti mengecek ulang.
Bu Ranti langsung meraih kertas yang dipegang oleh sang pengantar tadi dia pun membaca dengan seksama. Matanya menyipit ketika membaca namanya tertulis kisahnya beserta dengan alamat yang lengkap bahwa itu benar dirinya.
"Sekali lagi saya minta maaf ya pak tetapi saya tidak merasa membelinya," ucap Bu Ranti masih gagah mempertahankan jawabannya jika dia tidak sedang membeli sebuah alat elektronik lagi pula bagi seorang buranti yang pekerjaannya hanya sebagai tukang cuci keliling maupun asisten rumah tangga panggilan tentu sangat sulit untuk membeli sebuah mesin cuci.
__ADS_1
"Nggak kok, Bu, itu benar." Gea menimpali sanggahan dari ibunya.
"Terus yang beli siapa?" tanya Bu Ranti masih diliputi oleh rasa ketidak percayaannya. Gea pun memilih untuk berdiam diri.
"Ini sudah ada nota pembeliannya jadi memang benar bila kami mengantarkan ke rumah ibu," jelas karyawan toko itu sambil menyerahkan nota transaksi. Bu Rani hampir tidak percaya jika yang membelinya adalah Gea.
"Gea, kenapa kamu repot-repot membelikan ibu mesin cuci padahal kamu pasti sangat memerlukan uang itu," ucap berhenti dengan sedikit rasa tidak enak kepada anak perempuannya.
"Bagiku itu tidak masalah lagipula daripada ibu mencuci dengan tangan lebih baik jika mencuci dengan mesin saja selain itu ibu masih bisa mengerjakan hal yang lainnya secara bersamaan
Bu nanti memang tidak menanyakan secara langsung berapakah gaji Gea sebulan tetapi dia yakin dengan gaji seperti itu dia masih bisa menabung.
*
Liburan telah berakhir. Kini saatnya Gea kembali kediaman Tuan Zidane. Kia turun dari kendaraan ojek online yang tadi telah dipesannya dari rumah menuju ke kediaman Tuan Zidane.
"Gea, kamu ada kuliah jam berapa?" Mbak Ranti mengingatkan kepada Gea bila hari ini adalah jadwal kuliahnya padahal dia saja lupa.
"Astaga benar Mbak Ranti, aku hari ini ada kuliah di sore hari." Gea langsung cepat-cepat mencuci piring dan sendok yang masih tersisa kemudian dia pun berlalu ke kamarnya untuk mengganti baju terlebih dahulu sebelum berangkat ke kampus.
Siang ini cukup terik matahari pun tidak segan-segan memancarkan sinarnya yang begitu memanggang kulit. Tanpa ada penghalang awan begitu bebasnya matahari menyinari bumi di siang ini. Jarak kampus dan rumah majikan Gea sekitar setengah jam perjalanan dengan jalan kaki tetapi karena sedang malas begitu panas dia akhirnya berhenti menunggu angkot yang lewat.
Tanpa diduga Tuan Zidane sedang istirahat siang ingin pergi pulang menikmati masakan di rumah. Kebetulan hari ini Tuan Zidane menyetir mobilnya sendiri karena sopir yang biasanya mengantarkan dirinya kemanapun ia pergi sedang mengambil cuti bulanan.
Begitu melihat Gea tengah menunggu angkot sambil berpanas-panasan, dia langsung berhenti di depan Gea dan membuka kaca mobilnya.
__ADS_1
"Gea, kamu ngapain disana?" tanya Tuan Zidane melemparkan senyuman ramah. Dia memang tidak pernah melihat mana pembantu mana bosnya, yang jelas mereka adalah partner.
"Lagi nunggu angkot, Tuan." Seketika Itu, Tuan Zidane langsung memutuskan untuk memutar balik mobilnya ke arah kampus Gea yang kebetulan letaknya berlawanan arah.
"Sudah naik saja," kata Tuan Zidane membuka pintu sebelah kemudi.
Gea tidak bisa menolak permintaan tuannya. Tidak ada pilihan lain baginya kecuali masuk mobil dan ikut Tuan Zidane.
Krucuk…
Di tengah perjalanan perut Gea pun berbunyi.
"Kamu pasti belum makan?" Tanya tuan Zidane tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Gea.
Gea pun mengumpat dalam hati bahwa perutnya tidak bisa diajak berkompromi. Mana lagi sama bosnya malah perutnya berbunyi itu sama saja memalukan.
"Eh, iya Tuan, saya tadi belum sempat makan lupa jika ada jadwal kuliah hari ini makanya buru-buru." Gea pun nyengir kuda.
Tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Gea, Tuan Zidane pun langsung memutar balikkan mobilnya kembali. Tujuannya kali ini bukanlah pulang tetapi untuk mencari sebuah restoran yang terkenal enak di kota ini dan letaknya berlawanan arah dengan kampus.
"Lho, kita mau ke mana?" Dia bingung ketika tiba-tiba tuan Zidan memutar mobilnya ke arah lain.
"Jadwal kuliah kamu masih satu jam lagi kan jadi kalau kita makan tentu saja tidak akan telat," kata Tuan Zidane.
Gea mengangguk setuju, sekaligus dia juga heran kenapa Tuan Zidane bisa tahu jika hari ini jadwal kuliahnya adalah jam 2.00 sore. Padahal dia tidak pernah memberitahukan jadwal tersebut kepada siapapun kecuali Mbak Ranti yang menjadi partner kerjanya.
__ADS_1
Akhirnya mereka tiba di sebuah restoran yang cukup ramai dikunjungi banyak orang karena memang ini adalah jam makan siang. Dia merasa risih dan tidak nyaman dengan tempat ini karena notabene mereka yang datang adalah kebanyakan mereka menenteng tas mahal, berarti bisa disimpulkan pengunjungnya adalah orang kaya.