Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Pergi


__ADS_3

Mbak Ranti mengintip apa yang tengah terjadi dengan Gea dan juga Nyonya Ami. Begitu majikannya pergi Mbak Ranti pun segera keluar dari persembunyiannya. Dia memungut amplop tersebut karena merupakan haknya selama bekerja di sini, tetapi dia juga merasa harga dirinya tercabik-cabik hanya karena dia miskin maka Nyonya Ami tidak pernah merestui hubungannya dengan Tuan Zidane.


"Gea, maafkan Mbak ya." Mbak Ranti ikut menunduk saat dia mengambil amplop tersebut. Tanpa terasa mata kita begitu panas dan mengeluarkan buliran bening dari kelopak matanya.


"Kia kamu masih marah sama Mbak Ranti?" tanya Mbak Ranti semakin merasa bersalah setelah Gea tidak menjawab perkataannya.


"Tidak Mbak mungkin ini memang sudah jalan takdir yang harus Gea jalani saat ini." Kayak berusaha bangkit dari duduknya dan beranjak pergi dari ruang tamu.


Mbak Ranti ikut menyusul Gea di belakangnya.


"Gea, sebenarnya aku ingin minta maaf sama kamu karena telah membuat hubunganmu dengan Tuan Zidane seperti ini." Gea menghentikan langkahnya sebentar kemudian menoleh ke arah Mbak Ranti yang tepat berada di sampingnya.


"Maksud Mbak?" Sebenarnya Gea sudah tahu jika yang melaporkan ke Nyonya Ami pasti Mbak Ranti tetapi dia masih belum memiliki bukti dan dia hanya sekedar menerka-nerka tanpa bisa menuduh Mbak Ranti lah pelakunya.


"Sudahlah Mbak semuanya sudah menjadi bubur lagi pula aku yakin jika barang tidak diperintahkan oleh nyonya Amien pasti tidak akan pernah melakukan semuanya," kata kia berusaha bersikap dewasa meski hatinya begitu sakit. Namun lebih sakit lagi ketika dengan hinanya keluarga mereka diusir dari kontrakan yang notabene mereka tidak pernah menunggak bayaran ketika dia sudah bekerja di tempat Tuan Zidane.


"Mbak Ranti jaga diri baik di sini dan ingat kita selalu berteman," ucap dia merangkul pundak Mbak Ranti kemudian menangis tersedu-sedu di sana. Sebagai sesama wanita berarti semakin merasa bersalah bahkan ia pun hendak ingin menahan diri tempat ini tetapi di sini bukan kuasanya dan sekarang dia hanya bisa menangis sambil meratapi kepergian salah satu teman terbaik dalam rumah Tuan Zidane.


Tiba-tiba terdengar guntur yang memakan telinga Gea segera meraih koper dan tasnya untuk pergi dari sana. Karena sudah malam dia pun memesan taksi online untuk mengantarkan sampai di kosannya.


*


Tuan Zidane memasuki sebuah klub malam didampingi oleh beberapa kolega bisnis dan temannya.


"Halo bro akhirnya lo keluar juga," kata salah satu sahabat akrabnya menabok bahu tuan Zidan dengan sedikit keras.

__ADS_1


"Sesekali lah daripada di rumah berantem terus sama nyokap,"jawab Tuan Zidane dengan santai.


"Makanya lu buruan nikah biar nggak ada yang recokin hidup lu termasuk nyokap lu." Suara musik semakin malam terdengar semakin memecah gendang telinga. Itu saja tetapi aroma minuman beralkohol serta asap rokok pun menghiasi kelamnya malam ini.


Seperti pada lelaki umumnya Tuan Zidane meminum sekitar dua gelas saking dia merasa stress akibat tekanan dari mamanya satu lagi juga dia tidak ingin berpisah dengan Gea. Saat ini Tuan Zidane tidak tahu apa yang tengah terjadi kepada Gea karena tadi ponsel Gea pun tidak diangkat ketika ia telepon.


Ketika sedang asyik menikmati rokok dan minuman tadi tuan Zidane didatangi oleh wanita yang mengenakan pakaian serba mini dengan dandanan sedikit menor namun tetap terlihat kecantikan di wajahnya.


"Malam Ganteng, sendirian aja nih?" tanyanya langsung duduk di sisi Tuan Zidane tanpa berbasa-basi meminta izin terlebih dahulu tentu saja perlakuan seperti itu membuat Tuan Zidane merasa risih dia menggeser tempat duduknya hingga ke samping.


"Boleh berkenalan namanya siapa?" Yang modalan seperti ini tentu akan menghabiskan kantong yang banyak tonsi dan tidak mau meneladani wanita seperti itu kemudian dia turun ke lantai untuk ngedance sebentar.


"Ih sombong amat cuma diajak kenalan aja nggak mau," gerutu wanita tadi membanting rokok yang berada di tangannya.


"Bro, lu mau balik kapan?" tanya teman Zidane.


"Bentar lagi gue bakal balik kok." Zidane sudah asik dengan dunianya kini kembali menambahkan minuman hingga malam ini dia habis sekitar 6 gelas cocktail. Ini sangat luar biasa karena biasanya Tuan Zidane tidak pernah merasakan minuman seperti itu.


Kepalanya sedikit pusing dan pandangannya pun mulai mengabur. Sang peracik minuman sempat melarang Tuan Zidane untuk menambah lagi namun karena dia sedang dilanda stress maka tuan sidang tetap memaksa sang barista untuk meracikan minuman kepadanya.


Salah satu teman Tuan Zidane mendatangi sang barista tadi.


"Tuan, agaknya temanmu ini mabuk parah jadi aku tidak berani membuatkan minuman lagi." Ia mengangguk kemudian memapah Tuan Zidane keluar dari klub tersebut.


"Gea, aku tidak mau berpisah denganmu aku ingin terus bersamamu." Begitu rancaunya sambil terus berjalan sempoyongan.

__ADS_1


Dengan rasa kesetiakawanan yang tinggi teman sekaligus kolega bisnis Tuan Zidane tadi mengemudikan mobil Tuan Zidane untuk mengantarkan dia pulang ke rumah.


"Re, jangan antarkan aku pulang antarkan saja aku ke apartemen." Meski dalam keadaan mabuk tetapi Tuan Zidane masih ingat jika pulang pasti Gea akan merasa syok melihat keadaan dirinya yang tengah tidak sadarkan diri dan acak-acakan dengan baju yang sudah tidak beraturan.


Re menuruti permintaan Tuan Zidane untuk membawa ke apartemennya. Re kasihan melihat kondisi Tuan Zidane yang tidak baik-baik saja.


Re membawa mobil dengan kecepatan tinggi apalagi kota grand final saat malam jalanan terasa lengang, dia merasa menjadi raja jalanan.


Di tengah perjalanan Tuan Zidane terus saja merancau tidak jelas dan hanya menyebut nama Gea.


"Gea, aku merindukan kamu," ucap Tuan Zidane seolah sekarang ia bersama dengan Gea.


Re menjadi geli karena tangan Tuan Zidane tidak tinggal diam.


"Eh, Bro, ini gue Re." Re berusaha untuk mengelak tangan Zidane agar tidak melingkar di lehernya. Namun karena kondisi yang terpengaruh oleh alkohol, tetap saja Tuan Zidane tidak mengindahkan jika itu adalah Re.


"Bro, sekali lagi lo meluk gue, gak peduli gue turunin lo di jalan." Re manatap Tuan Zidane dengan tajam agar menurunkan tangannya dari leher pemuda tersebut.


"Gea, kamu maukan berjuang bersamaku?"


"Woalah, gemblung ini orang." Re langsung menambah kecepatan mobilnya supaya lebih cepat lagi sampai di apartemen karena dia risih dengan tangan Zidane yang terus menerus menggerayangi Re.


"Gea, aku cinta kamu!" teriak Tuan Zidane memekakkan telinga Re.


"Bikin rusuh aja lu sekali mabuk udah bikin gue stres." Re menggelengkan kepala.

__ADS_1


__ADS_2