
Semakin hari hubungan Tuan Zidan dan Gea pun semakin dekat tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahui hubungan mereka sejauh apa karena ketika di dalam rumah Gea pun bersikap biasa saja seperti layaknya asisten dan bosnya. Bahkan Mbak Ranti yang notabene dekat dengan Gea saja tidak mengetahui jika Gea ternyata sudah menjalin hubungan dengan Tuan Zidan.
Di samping itu keduanya juga pandai bersandiwara jadi mereka sehingga dua bulan berjalan hubungannya masih saja adem ayem hanya terkadang memang dia sedikit memiliki sifat cemburu begitu pula dengan Tuan Zidane.
Seperti pagi ini, ketika Gea hendak berangkat ke kampus. Dia melirik jam di dinding sudah hampir pukul 07.00 pagi padahal mulai kuliah seharusnya pukul 08.00 pagi dan perjalanan dari rumah ke kampus memakan waktu kurang lebih 40 menit itu saja belum termasuk jika dia menunggu angkot atau bus terlalu lama lewat.
Setelah semua persiapan Gea dirasa sudah selesai. Segera dia pun mengangkat tasnya dan berangkat ke kampus. Kali ini Gea berjalan dengan langkah cepat agar sampai di halte dengan cepat pula dan tidak ketinggalan bus karena menunggu bus yang selanjutnya datang biasanya memerlukan waktu hingga 15 menit.
Namun sayang pagi ini semua bis yang lewat agaknya penuh semua. Terpaksa dia pun harus menunggu bis selanjutnya paling tidak seperempat jam lagi.
Di tengah menunggu kendaraan lewat ternyata datang kawan Gea satu kampus. Dendi menghentikan kendaraannya kemudian menghampiri Gea.
"Hai, kenapa belum berangkat?" Meski Gea dikenal tidak memiliki banyak teman tetapi dia juga akrab dengan teman-teman seangkatannya termasuk Dendi ini.
"Iya nih, tadi bisnya penuh terus." Gea berucap demikian sambil tersenyum. Dia juga tidak berharap untuk tawaran Dendi karena dia tahu Dendi memiliki pacar yang super duper protektif terhadap dirinya. Gea hanya tidak mau jika nanti akan menjadi gosip di kalangan mahasiswa kampus. Selain itu Dendi merupakan mahasiswa yang sangat terkenal.
"Ya udah bareng aku aja yuk." Akhirnya Dendi pun menawarkan tumpangan kepada Gea.
Niat hati ingin menolak tetapi apa daya karena sekarang sudah menunjukkan sekitar pukul 08.00 kurang seperempat. Meski bersama Dendi telat tetapi jika dia menunggu bis selanjutnya pasti akan lebih telat dan mungkin tidak diizinkan untuk mengikuti mata kuliah lagi. Hatinya kini pun bercabang untuk menentukan pilihan yang mana.
"Nggak usah, Den, makasih, nanti malah jadi gosip aku nggak enak," kata Gea dengan jujur.
"Gosip pret, cuma bareng aja kok jadi gosip kamu ini jangan ngadi-ngadi seperti itu, Gea."
"Enggak sih sebenarnya aku cuma takut aja sama pacarmu."
__ADS_1
"Oh si Rena, udah kamu cuekin aja." Dendi besi kuku untuk mengajak Gea bareng dengannya ke kampus.
Tentu saja itu hanya ucapan gombalan Dendi saja sebenarnya Rena memang terkenal sangat cemburu tetapi semakin lama Dendi merasa jika hubungannya dengan Rena toxic. Dia ingin segera lepas dengan Rena. Terlebih Dendi juga sebenarnya sudah ada rasa dengan Gea sejak mereka bertemu pertama kali di kampus itu. Namun rupanya Gea terlalu cuek dan menarik diri dari pergaulan teman seangkatannya sehingga Dendi pun sulit untuk mendekati gadis cantik itu.
Tanpa disangka oleh Gea ternyata Tuan Zidane sudah memberhentikan mobilnya di dekat Gea juga.
"Tuan Zidane??" Pupil Gea melebar melihat siapakah yang datang di sampingnya saat ini.
"Kenapa kamu menatapku seperti ada hantu?" Tuan Zidane pun tidak kalah menatap Gea.
"Tidak, kamu hanya aneh saja kenapa datang secara tiba-tiba?"
"Tidak boleh?" Tuan Zidane tidak memperhatikan dengan Dendi yang berada di situ juga. Dia bahkan tidak menganggap Dendi itu ada dan di halte ini hanya dirinya dan Gea saja.
"Bukan tidak boleh tetapi kamu seharusnya bekerja."
Gea menurut dengan perintah Tuan Zidane. Sebelum masuk mobil dia pun mengangguk kepada Deni sebagai ucapan tidak enak karena sudah menolak ajakan dari Dendi.
Di dalam perjalanan tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka berdua. Semuanya sibuk dengan pikirannya sendiri. Tuhan Zidane pun sebenarnya mulai curiga dengan Gea jika sampai dia mengkhianati dirinya tetapi sebaliknya Gea juga merasa andaikan suatu saat nanti Tuan Zidan telah menemukan yang lebih dari dirinya maka dia tidak akan segan-segan untuk meninggalkan Gea.
"Gea, bisakah kamu jelaskan siapakah lelaki yang tadi berdiri bersamamu di halte?" Tuan sidang sudah tidak sabar untuk menahan pertanyaan yang terus mengganggu kepalanya daripada dia berburuk sangka lebih baik langsung bertanya kepada Gea bagaimanakah jawaban yang keluar dari kekasihnya tersebut.
"Namanya Dendi dia teman seangkatanku." Dia menjawab dengan tidak ada berbohong yang sama sekali.
"Hanya itu saja?"
__ADS_1
"Iya, aku memang tidak terlalu dekat dengannya."
"Bagus," sahut Tuan Zidane dengan cepat dan dia pun langsung menambah kecepatan mobilnya juga.
*
Setelah menurunkan Gea di kampusnya Tuan Zidane segera berangkat ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda hari ini. Rencananya hari ini akan mengunjungi sebuah proyek terbaru dari perusahaan mereka. Namun berhubung tonsidan sedang tidak enak pikirannya masih cemburu dengan gaya bersama Deni tadi pagi maka dia langsung membatalkan untuk kunjungan proyeknya ditunda besok saja.
Di depan layar datar Tuan Zidane pun bekerja sambil berusaha untuk menghubungi salah satu orang kepercayaannya.
"Ada apa, Bos?" tanya seseorang itu dari balik telepon.
"Aku ada tugas buatmu."
"Katakan saja apa yang harus aku lakukan."
"Selidiki siapakah Dendi itu," titah Tuan Zidane. Jawaban ambigu dari transisi dan menyebabkan kebingungan dengan orang kepercayaannya itu. Bagaimana mungkin dia akan mencari Dendi yang dimaksud oleh Tuan Zidane sedangkan nama Dendi di dunia ini sangat banyak sekali.
"Yang Anda maksud dari siapa?"
"Dari kampus xxx dan merupakan seangkatan dengan Gea."
"Baiklah kalau begitu Anda bisa menantikan kabar selanjutnya dari saya."
Langsung saja Tuan Zidan menutup teleponnya dan berusaha untuk terfokus kembali dengan pekerjaan. Namun rupanya itu tidaklah mudah karena setiap kali ingin berusaha fokus ternyata bayangan Gea dan Dendi yang berada di halte sempat mengobrol dengan akrab tadi masih sangat mengganggu pikiran Tuan Zidane sehingga dia sulit berkonsentrasi.
__ADS_1
"Beginikah rasanya jika sedang jatuh cinta?" Tuan Zidane mengacak rambutnya sendiri saking ia tidak bisa terfokus dengan pekerjaan, tetapi disisi lain hatinya pun sudah merasa tenang karena menemukan sang tambatan hati yang selama ini sudah dinanti sejak lama. Meski sebagai seorang Tuan Muda, bukan berarti Tuan Zidane pandai bermain wanita. Hatinya hanya tertambat untuk Gea.