
Gea menatap dari kejauhan bangunan yang selama ini dia tinggali dan mengais rezeki di sana ternyata harus berakhir sampai di sini juga. Gea menatap rumah itu untuk waktu yang lama karena mungkin dia tidak akan pernah kembali lagi ke sini.
"Tuan Zidane, semoga setelah ini kamu bisa menemukan pasangan hidup yang cocok untuk dirimu dan juga untuk orang tuamu." Gea bergumam lirih menghembuskan nafas berat karena dia harus meninggalkan Tuan Zidane dan pergi dari sana. Berat sekali rasanya hati meninggalkan tempat kerja sekaligus menjadi tempat bernaung di mana kekasihnya berada. Namun hidup tidaklah berhenti di situ. Dia masih berpikir memiliki ibu dan juga adik yang harus diperjuangkan.
Taksi online pesanan Gea akhirnya datang juga. Gea segera memasukkan barangnya ke dalam mobil sebelum dia sendiri masuk. Beruntung sekali sopir taksi kali ini memang berperilaku baik. Tanpa segan dia mau membantu Gea memasukkan semua barangnya.
"Bang, nanti berhentinya di depan masjid aja ya." Gea tahu bahwa jarak kosannya dari masjid sangat dekat dan tidak perlu mobil masuk hingga sampai depan kosnya.
"Baik Mbak," jawabnya kemudian memakai topi sebelum menjalankan mobilnya.
*
Malam ini bagi Gea adalah malam yang sangat panjang. Ibu dan adiknya pun sudah terlelap dialami mimpi tetapi dia masih saja tidak bisa tidur mungkin karena kamarnya terlalu sempit dan suasananya panas atau mungkin juga dia masih terpikiran dengan Tuan Zidane yang berada di rumah sana.
Dia mengecek ponselnya siapa tahu ada pesan dari Tuan Zidane. Gea menghela nafas panjang ternyata tidak ada satupun telepon hanya beberapa panggilan tak terjawab. Kebalik ia meletakkan handphonenya dan mencoba untuk memejamkan mata.
Sekarang sudah pukul 02.00 pagi tetapi sama saja dia hanya bergelimpungan sana sini seperti seorang anak bayi.
"Sepertinya tidak masalah jika aku tinggal sementara di rumah kosan seperti ini." Gea bangun dari tidurnya memperhatikan keadaan sekitar. Meski hanya saja tetapi ibu dan adiknya bisa tidur nyenyak itu membuat hati Gea sudah berbahagia.
*
Begitu tiba di apartemen, Re segera memapah Tuan Zidane agar tidak terjatuh. Ris segera menekan tombol lift agar cepat sampai di lantainya karena bila menggunakan tangga bisa-bisa nanti malah keadaaan Tuan Zidane tidak baik.
Re menekan password yang telah ia ingat sebelumnya kemudian membaringkan sidang tertidur di sofa terlebih dahulu karena tidak kuat jika mengangkat ke dalam kamar.
Re sudah sangat capek dia pun ikut terlelap di dekat sofa.
Pagi telah tiba.
Perlahan Tuan Zidane membuka matanya namun masih terasa berat. Kepalanya terasa sangat sakit dan juga tubuhnya merasa seperti orang kecapean.
__ADS_1
Ternyata dari dapur Re sudah menyiapkan susu hangat untuk Tuan Zidane.
"Udah bangun?" tanya Re meletakkan susu hangat untuk mereka berdua.
"Heem, aku harus segera pulang." Tuan Zidane berusaha bangkit dari duduknya tetapi masih saja kepalanya terasa begitu sakit akibat ia banyak minum semalam.
"Makanya bro gue ingetin sekali lagi kalau lo belum terbiasa minum jangan langsung minum kayak sapi gitu," sindir Re menepuk bahu Tuan Zidane.
"Gue setres banget, Bro." Tuan Zidane menggelengkan kepala.
"Masalah cewek?"
Lalu bercerita Tuan Zidane tentang hubungan asmaranya dengan Gea.
"Ya benerlah, Nyokap lo gak setuju, meski kita generasi muda begini nggak level yang namanya dijodohkan." Re bisa menilai dari dua sisi.
"Iya bener juga ya tapi kamu tahu nggak aku malah seperti seorang yang gak laku gitu." Mamaku sering banget mengajak membawa wanita-wanita pergi ke dalam rumah.
*
"Semalam kemana saja?" Nyonya Ami meletakkan majalah dan menatap Zidane serta Re dengan bergantian.
"Biasa Tante, Zidan kemarin di rumah Re, kita minum sampai pagi." Tuan Zidane langsung menyepak kaki Re yang berkata terlalu jujur kepada mamanya.
"Direm woy," desis Tuan Zidane, sebab jikalau nyonya Ami tahu Zidan meminum alkohol lagi maka dia akan marah persis seperti waktu terakhir Zidane meminum yaitu zaman masih duduk disekolah menengah. Sebagai hukumannya dia pernah tidak diberi uang saku selama sebulan karena ketahuan meminum alkohol di kulkas simpanan papanya.
"Benar itu, Zidane?" Nyonya Ami menatap Zidan dengan tatapan mengintrogasi agar dia mengaku jika apa yang dikatakan oleh Re memang benar adanya.
"Yes, Ma." Tuan Zidane pasrah karena memang itu kenyataannya dan dia tidak bisa menutupi semalam yang telah terjadi.
"Astaga, kenapa kamu melakukan ini?"
__ADS_1
"Zidan tidak tahu, aku masih lihat dulu, kamu pulang saja sana, Re." Tuasidan langsung bertolak menuju kamarnya tanpa menghiraukan jika Re masih berdiri di ruang tamu dan Ami masih ingin berbicara dengan banyak.
Kini giliran Re yang diintrogasi oleh Nyonya Ami.
"Kamu duduk dulu Tante ingin bertanya sesuatu." Mengangguk sambil melengkungkan bibirnya tetapi dengan terpaksa karena dia gagal kabur dari sana pasti Tante Ami akan menanyai berbagai macam hal tentang Tuan Zidan semalam.
"Baik Tante."
Mereka duduk saling berhadapan.
"Mbak Ranti, buatkan minuman ya satu."
"Baik Bu," Mbak Ranti menyahut dari dalam dapur.
Suasana ruang tamu mendadak hening karena Rey hanya bisa terdiam sambil menerka apa yang akan ditanyakan oleh nyonya Ami sedangkan nyonya Ami pun juga sama dia sebenarnya memiliki banyak sekali pertanyaan kepada Re tetapi melihat Re yang sedikit panik maka Nyonya Ami akan meredam pertanyaannya terlebih dahulu agar Re merasa nyaman di sini.
"Re, tanda tanya sama kamu." Dengan antusias Re pun mengangguk sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Apakah selama ini kamu melihat Zidane bersama dengan wanita atau dia sering bermain?"
"Kalau untuk Zidane aku bisa jamin Tante, itu semua nggak bakalan dia lakuin." Re menjawab dengan keyakinan jika Tuhan Zidan memang tidak pernah berbuat demikian baru semalam saja dia berusaha mabuk berat.
*
Begitu tiba di kamar Tuan Zidan langsung merebahkan tubuhnya yang masih terasa sangat capek tetapi dia tidak lupa membuka ponselnya siapa tahu ada pesan dari Gea.
"Aku dari tadi tidak melihat Gea, kira-kira kemana dia?" Tuan Zidane hendak menghubungi Gea lewat telepon tetapi dia terburu ingat jika sekarang adalah jam kerja Gea, jadi tidak mungkin dia akan mengangkat ponselnya.
Tuan Zidane kemudian bangkit lagi dari tidurnya dan berjalan ke dapur dengan tujuan untuk melihat Gea. Namun sesampainya disana ternyata ia tidak menjumpai Gea.
"Eh, ini Gea libur ya?" tanya Tuan Zidane kepada salah satu asisten rumah tangga yang kebetulan melintas di dekatnya.
__ADS_1
"Maafkan saya juga tidak tahu di mana Gea soalnya dari kemarin dia tidak terlihat." Pelayan itu kemudian pergi seolah menyimpan sesuatu ketakutan yang tidak bisa diutarakan di depan Tuan Zidane.