Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Kehidupan Gea di Desa


__ADS_3

Suasana pagi ini sangat cerah, matahari sudah menyembulkan cahaya sinarnya di balik bukit begitu pula dengan Gea yang semenjak dua hari yang lalu dia berada di desa di mana ayahnya berasal. Sedikit demi sedikit dia sudah melakukan sebuah adaptasi di tempat yang baru. Namun bukan berarti dia tidak akan kembali lagi ke kota. Untuk beberapa waktu ini dia akan membolos kuliah sampai keadaannya membaik. Setidaknya ia bisa mengurus sekolah Nando terlebih dahulu.


"Gea, ayo kita bangun nanti kesiangan loh kamu." Bu Ranti sudah keluar dari kamarnya mengenakan hijab berwarna biru yang sedikit pudar dan mengenakan daster panjang yang sudah menjadi pakaian wajibnya setiap hari.


Mereka kali ini menumpang di rumah ibu almarhum dari ayahnya Gea. Sang nenek sudah terlihat renta dan kebetulan hanya tinggal sendirian di rumah ini jadi Gea dan dan keluarga disambut dengan rasa bahagia. Terlebih mendiang saudaranya ayahnya Gea, mereka bisa bahagia karena sekarang di rumah nenek sudah ada temannya. Jadi jikalau mereka pergi merantau ke daerah lain untuk beberapa waktu yang lumayan lama tidak khawatir dengan orang tuanya karena sekarang sudah ada Bu Ranti dan juga Nando.


"Iya Bu sebentar lagi aku keluar dari kamar." Memang sudah sejak tadi dia membuka matanya.


Hari ini rencananya Gea akan mendaftarkan Nando ke sekolah yang baru. Setelah mempersiapkan semua berkasnya kedua orang itu menuju ke sekolah terdekat. Sedang Nando ikut planet menuju ke ladang untuk mengambil buah pisang yang katanya sudah masak di pohon.


Tinggal di desa tentu bukan merupakan suatu bencana bagi Nando malah merupakan berkah karena dia bisa merasakan ke alam yang bebas dan ternyata hidup di desa juga tidak seburuk yang ia bayangkan sebelumnya. Baru menetap dua hari di sini Nando sudah memiliki beberapa teman. Anak-anak di sekitar sini cepat akrab dengan orang baru begitu pula dengan Nando yang merasa senang karena seringkali dia bermain dengan anak-anak di sini.


Dengan mengendarai sepeda onthel Gea dan ibunya menuju ke sekolah yang terletak di ujung jalan.


"Bu, bagaimana kalau kita nanti ke pasar dulu untuk membeli perlengkapan atau sayuran supaya ibu dan nenek tidak terbebani?" Udara masih pagi dan masih segar walau di sini siang tetapi udara tidak seperti di kota yang penuh dengan polusi. Kia sengaja memperlambat laju sepedanya agar lebih lama menikmati pemandangan alam berupa hamparan sawah yang hijau dan juga tanaman-tanaman lain yang mulai berkembang. Para petani sibuk mengerjakan sawah mereka dengan semangat.


"Boleh saja kalau misalnya kamu mau."


"Atau kalau ibu mau nanti bisa jualan di depan rumah nenek jadi bisa membantu perekonomian."


Bu Ranti telah berencana demikian ia ingin membuka warung kecil di depan rumahnya agar anak-anak yang bermain dapat jajan apalagi depan rumah mereka merupakan jalan utama di desa itu jadi ia berpikir tidak ada salahnya untuk mencoba berjualan.

__ADS_1


"Kalau begitu kita coba jualan makanan Frozen saja bagaimana?" Berhenti menemukan ide untuk berjualan makanan seperti sosis, tempura dan teman-temannya. Karena ketika ia masih bekerja sebagai tukang cuci panggilan, seringkali mendapati anak-anak jajan demikian.


"Oke bukan itu yang buruk kok Bu kita coba saja apalagi di rumah juga ada kulkas jadi kita tidak kesulitan untuk menyimpan barang dagangan apabila belum habis."


Tak terasa mereka mengobrol hingga sampai di depan gerbang sekolah. Gear dan peranti segera menuju ke ruang kepala sekolah berada. Proses pendaftaran pun cepat dan besok Nando sudah bisa mulai sekolah.


"Terima kasih pak atas bantuannya semoga adik saya betah sekolah di sini," kata Gea sambil mengeluarkan tangan kepada kepala sekolah itu tadi diikuti oleh Bu Ranti.


*


Gea dan buranti menyusuri koridor sekolah mereka juga selain ingin mendaftarkan Nando juga ingin melihat kondisi bagaimana sekolah barunya Nando nanti. Meski terlihat berbeda dari sekolah Nando sebelumnya tapi setidaknya disini aman karena dekat dengan rumah penduduk apalagi penduduk di sini juga terkenal dengan ramah dan sangat peduli terhadap lingkungannya.


"Gea!" Tiba-tiba saja dari arah belakang ada seseorang yang memanggil nama Gea. Segera dia pun menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah suara itu.


"Ternyata kamu masih ingat ya sama aku."


"Ya masih lah masa aku nggak inget sih sama teman sendiri waktu kita sering main di kali itu dan sudah dipastikan pak nenek akan marah lalu memukul dengan sandal." Gea langsung teringat masa lalunya ketika masih berada di desa. Dia sangat sering mandi di kali secara diam-diam dan mengikuti para lelaki yang bermain di sana. Bahkan seringkali dia menjadi sasaran kemarahan neneknya.


"Hehe kamu udah dewasa tapi masih ingat aja ya memori seperti itu."


"Ya pastilah itu pada pengalaman paling konyol yang pernah aku lakukan sama kamu."

__ADS_1


"Wah sekarang kamu keren ya sudah menjadi guru di sini." Tanpa sadar Gea memuji sahabat kecilnya ini karena dulu di sekolah Imam terkenal sebagai murid yang tidak terlihat begitu pandai.


"Belum jadi Gea tapi aku ini masih praktek. bagaimana dengan dirimu?"


"Aku masih di semester 4, hehe mau ngasih kuliah rasanya tuh masih males apalagi sambil kerja." Kian jenggot kuda menyadari keterlambatannya sudah selama berkuliah.


"Kamu emang nggak pernah berubah ya dari dulu kalau makan sesuatu yang berarti pasti ngeluh."


"Namanya juga manusia," jawab Gea sekenanya.


"Oh ya kamu di sini ngapain?" Imam bingung karena di sisi Gea adalah ibunya tidak mungkin juga dia akan mendaftar sekolah di sini.


"Ini aku lagi mendaftarkan adikku besok dia pindah sekolah di sini." Imam tambak manggut-manggut mendengar penjelasan dari Gea kemudian ia menyalami ibu Ranti.


*


Menjelang sore sekitar pukul 02.00 siang dia masih sibuk di halaman rumah menata berbagai macam tanaman yang telah ditanam oleh neneknya dalam pot. Di sini memang dia tidak memiliki kesibukan kecuali jika Gea menjadi kesibukan sendiri seperti contohnya saat ini ia merapikan vas bunga dan juga menebar beberapa benih bunga yang sengaja dibeli tadi dari pasar. Berbagai macam bunga serta sayuran sengaja gaya beli dari pasar untuk ditanam di halaman neneknya karena halaman itu sangat luas dan tidak berisi apapun jadi sangat sayang jika tidak dimanfaatkan.


"Gea, rupanya kamu masih rajin di menanam bunga-bunga seperti ini?" Secara tidak sengaja imam sudah berdiri di belakang Gea hingga membuat gadis itu kaget.


"Apa kupikir kamu tadi setan tiba-tiba datang nggak tahu asal usulnya dari mana."

__ADS_1


"Hehehe sengaja ingin menakuti kamu." Imam langsung duduk di samping Gea.


__ADS_2