
Nyonya Ami tidak menyangka jika Zidane ternyata menghalangi apa yang hendak ia lakukan terhadap Gea.
"Beraninya kamu menghalangiku Zidane, sejak kapan kamu berubah menjadi anak yang durhaka?" Nyonya Ami menatap tajam anaknya. Dia tidak menyangka jika Zidane akan menghalangi dirinya seperti itu bahkan rela melindungi Gea dari amukan dirinya.
"Mah, aku sangat mencintai dia tolong jangan menghalangi kami berdua," pinta Zidane dengan nada yang rendah namun penuh dengan pengharapan. Berharap jika Tuan Zidane melunak maka, mamanya mengerti akan perasaan dirinya terhadap Gea.
"Mama sampai heran dengan pikiran kamu bagaimana, Zidane?"
"Kamu dan dia itu tidak akan mungkin bisa bersatu lagi karena kalian ini berbeda diciptakan bukan untuk bersama." Nyonya Ami berbicara dengan nada lantang.
"Sampai kiamat Mama tidak akan pernah merestui hubungan kalian dan segera putuskan hubungan kalian secepatnya."
"Tidak, aku tidak akan pernah memutuskan hubunganku dengan Gea sekalipun sebagai taruhannya adalah nyawaku." Tuan Zidane berkata dengan sangat mantap sehingga Nyonya Ami merasa begitu diabaikan..
"Pikirkan ucapanmu itu sebelum Mama bertindak lebih jauh." Nyonya Ami menggebrak pintu keluar dari kamar Tuan Zidane sehingga menimbulkan suara getaran yang sangat memekakkan telinga.
Gea menatap tuansi dan dengan tatapan yang sulit dimengerti.
"Gea, jangan dengarkan kata Mama bagaimanapun juga aku pasti akan memperjuangkan dirimu." Tuan Zidane berkata dengan sangat sungguh-sungguh dia tidak ingin berpisah dengan Gea.
Namun rupanya Gea menanggapi hal tersebut dengan perasaan lain. Di sisi lain dia juga memperjuangkan cintanya untuk Tuan Zidane tetapi di lain sisi posisinya dengan Tuan Zidane memang terlampau jauh.
"Aku permisi ke kamar dulu." Gea menepis tangan Zidane kemudian berlari ke luar kamar. Air matanya pun sudah tidak terbendung lagi. Terus mengalir membasahi pipinya. Berkali-kali Gea mencoba untuk menghapus dengan punggung tangan tetapi masih saja air mata tersebut menerobos keluar.
*
__ADS_1
Seperti mahasiswa pada yang lainnya hari ini Gea juga masuk kuliah tetapi dia tidak ada semangat sama sekali untuk menyelesaikan mata kuliahnya.
"Gea, kamu galau banget hari ini?" Vina yang baru saja datang langsung nyelonong duduk di dekat Gea dan menyenggol bahunya.
"Lagi sakit gigi," jawab Gea sekenanya. Dia tidak ingin bercerita tentang kepada siapapun tentang masalahnya dengan Tuan Zidane dan keluarga.
"Aku kira kamu lagi putus cinta lagi," cerocos Vina seolah tidak ikut merasakan jika Gea memang sedang sakit hati. Memang belum putus tetapi sudah berada di ujung tanduk.
Setelah mengikuti kurang lebih selama 3 jam, akhirnya mata kuliah pun selesai. Gea berminat untuk pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Karena pada hari ini biasanya juragan kontrakan akan datang untuk menagih uang sewa kepada ibunya Gea.
"Gea, aku nggak bisa nganterin kamu soalnya harus antar Mama pengajian." Vina merasa sedih karena tidak bisa mengantar sahabatnya pulang. Padahal dia ingin bertemu dengan Bu Ranti dan sering kali ketika bermain ke sana Vina selalu bertengkar dengan Nando. Malam saja di rumah Vina tidak memiliki adik dan dia hanya memiliki seorang kakak itu saja sudah sibuk dengan dunianya masing-masing. Meski sering bertengkar dengan Nando tak jarang berakhir dengan tangisan tetapi Vina tetap menyayangi Nando seperti adiknya sendiri.
"Ya udah tidak apa-apa salam ya buat mama." Gea langsung melangkah meninggalkan Vina.
"Tunggu, Gea, aku ada sesuatu untuk Nando." Vina mencoba mensejajarkan langkah dengan Gea sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Apa ini?" Gea memincingkan mata sambil menjinjing paper bag berwarna coklat tersebut.
"Itu kemarin katanya dia itu pengen punya tempat pensil jadi aku kemarin mampir ke toko buku nggak sengaja lihat tempat pensil itu ya udah aku ambil buat Nando aja." Gea merasa tertegun dengan sikap perhatian Vina terhadap adiknya.
"Vin, Terima kasih banyak ya."
"Yaelah, lu kayak sama siapa aja, Ge, udah biasa kali aku seperti ini bahkan aku senang bisa dekat sama Nando berasa punya adik nggak kesepian."
"Aku pun inginnya juga begitu tetapi aku harus bekerja di luar rumah." vina menepuk bahu Gea perlahan.
__ADS_1
"Aku nanti akan bicara sama papa siapa tahu di kantornya ada lowongan jadi kalau kamu tidak keberatan boleh pindah di sana dan bisa pulang setiap hari." Gea hanya tersenyum menanggapi tawaran dari Vina.
Mereka berpisah di pelataran kampus Gea menuju ke luar untuk mencari angkot sedangkan Vina menuju ke parkiran untuk mengemudikan mobilnya.
Hampir setengah jam Gea menunggu angkot tetapi tidak ada yang datang juga. Sekarang sudah menunjukkan pukul 01.00 siang udaranya masih panas dan sedikit berdebu. Awan di langit mulai menghitam tetapi udaranya pun lembab.
Tidak berapa lama kemudian datanglah bis yang tidak begitu penuh. Gea kemudian naik. Hanya memerlukan waktu sekitar 1 jam perjalanan tibalah dia di rumahnya.
Begitu sampai kaget lah Gea karena melihat ibunya berada di luar kontrakan tersebut.
"Bu kok berada di luar?" Mata Gea memindai barang-barang mereka sudah berada di luar semua termasuk koper dan beberapa peralatan yang lain.
Terlihat Bu Ranti mengelap sudut matanya dengan ujung baju yang dia kenakan.
"Mulai hari ini kita harus pindah dari kontrakan ini." Gea mengerutkan kening tidak mengerti mengapa dia harus pindah.
"Kenapa?" Padahal Gea merasa dia tidak pernah telat membayar uang sewa sejak dirinya bekerja di rumah Tuan Zidane.
"Entahlah ibu sendiri juga tidak tahu tapi yang jelas kata mereka di sini sudah disewa oleh keluarga lain dengan harga yang lebih besar, makanya dia berani mengusir kita." Gea melihat lelaki pemilik kontrakan tersebut membereskan barang-barang.
Merasa diperlakukan tidak adil Gea segera masuk dan menemui si pemilik kontrakan tersebut.
"Tega sekali Bapak melakukan ini semua padahal kami tidak pernah telat membayar uang sewa," tegur Gea terhadap lelaki yang sedang memimpin kumisnya duduk melihat para bawahannya bekerja membereskan peralatan yang digunakan saat Bu Ranti dan keluarga menyewa di sini.
"Asal kamu tahu anak manis, kemarin itu sudah datang sebuah keluarga yang ingin mengontrak di sini dengan harga sewa dua kali. Andaikan saja itu kamu yang memiliki kontrakan pasti kamu juga akan memilih uang yang lebih besar daripada kontrakan tidak ada nilainya bayar pun terkadang." Jika sudah menyangkut tentang uang Gea memang banyak berdiam. Dia pun menyadari jika tidak memiliki uang lebih untuk membayar kontrakan bulan ini meski gajinya kemarin lumayan tetapi habis digunakan untuk membayar uang semesteran dan biaya sekolah untuk Nando.
__ADS_1
"Mengapa harus mendadak seperti ini?" Gea bergeming dari tempat duduknya.
"Mereka yang memberitahukan juga mendadak jadi kita tidak bisa berbuat banyak, sekarang pergilah dari kontrakanku ini dan cari tempat tinggal yang baru." Dia menghentakkan kaki karena kesal mendengar jawaban dari lelaki itu akan tidak memiliki rasa empati sama sekali.