Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Tuan Zidane Nakal


__ADS_3

"Stt, jangan berisik seperti itu nanti ketahuan," bisik Tuan Zidane di telinga Gea hingga menimbulkan bulu romanya berdiri merinding.


"Malulah, ini didapur," kilah Gea berusaha untuk melepaskan pelukannya dari Tuan Zidan. Takut bila ada yang melihat.


"Gea, plislah, aku kangen kamu," Tuan Zidane bukannya melepaskan malah semakin mengeratkan pelukannya hingga Gea tidak bisa berbuat apapun selain menuruti apapun yang dilakukan Tuan Zidane terhadap Gea.


Tuan Zidane mulai mengendus parfum Gea, walaupun sudah tercampur dengan aroma bau bawang, tetapi malah bagi Tuan Zidane itu sangat menggairahkan hasratnya.


"Hai, tunda saja, lihat aku sedang menumis bawang bombay," bisik Gea merasakan sensasi luar biasa dari Tuan Zidane.


"Sekali saja aku merasakan kehangatan di pagi seperti ini, andai saja kita bisa segera bersama." Tuan Zidane semakin mengendus leher Gea dalam.


*


Seperti biasa jam 07.00 pagi sarapan telah tersedia di atas meja. Seluruh anggota keluarga pun sudah berkumpul tinggal menunggu Merry saja yang belum. Hingga pukul 7 lebih seperempat, Merry belum juga nampak batang hidungnya.


"Gea, panggilkan Merry agar cepat ke sini." Nyonya Ami memberikan perintah untuk Gea tanpa menoleh wajahnya.


Dengan mengangguk, Gea langsung menuju ke kamar Merry.


"Permisi," kata Gea mengetuk pintu kamar Merry.


Namun tidak ada jawaban sama sekali. Gea mengetuk pintu sekali lagi.


"Nona Merry??" Kini Gea bersuara lebih keras lagi agar Merry terdengar, tetapi hasilnya masih sama saja tidak ada jawaban dari kamar Merry. Bahkan gadis itu tidak terdengar seperti ada di dalam kamar.


Perlahan Gea mencoba memutar kena pintunya ternyata tidak dikunci. Dia segera masuk ke dalam kamar Merry dan mendapati jika ternyata Merry sudah tidak ada di kamarnya.


"Merry!" teriak Gea siapa tahu Merry sedang berada di kamar mandi. Namun semuanya hanya sia-sia, Merry juga tidak ada di sana.


Gea meraih ponsel yang berada di sakunya kemudian menghubungi nomor Merry. Tidak berapa lama panggilan dia pun terhubung dengan Merry.

__ADS_1


"Halo kak Gea," jawab Merry di seberang sana.


"Merry, kamu sedang dimana?" Gea terdengar sangat antusias mendengarkan jawaban Merry.


"Aku semalam takut pulang karena sudah pasti Mama akan marah." Jawaban Merry terdengar seperti mengisyaratkan sebuah tekanan.


"Jadi kamu sekarang di mana?" Gea semakin penasaran.


"Aku nginep di rumah temanku, Kak." Entah di rumah ini hanya Gea lah yang membuat Merry merasa nyaman. Dia mau bercerita apa saja kepada Gea. Termasuk dengan urusan percintaan.


"Oke aku akan bilang sama Nyonya jika kamu sudah pergi berangkat tadi pagi."


"Terima kasih, Kakak atas bantuannya." Wajah Merry terlihat berbinar. Untuk hari ini mungkin dia akan lolos dari hukuman mamanya.


"Kamu harus ingat ini yang terakhir Kakak mau membantu kamu, karena jika hal ini bakal terulang lagi Kakak tidak mau ikut campur dan terserah apa yang dilakukan Nyonya kepada kamu." Gea berbicara dengan nada penuh tekanan. Dia hanya tidak ingin Merry jika terlalu bebas sehingga akan terjerumus kepada hal-hal yang kurang baik tetapi sebaliknya jika ditekan, dia juga pasti akan berusaha untuk memberontak. Menghadapi remaja yang masih lapis seperti mari memang perlu terkadang harus dilunakkan dan terkadang harus tahu kapan saatnya mengeras.


Setelah kurang lebih 2 menit mereka bertelepon akhirnya Gea pun memutuskan untuk mematikan teleponnya dan berlari ke ruang makan.


"Maksudnya saya lupa tadi pagi Merry sudah berangkat awal sekali." Gea menundukkan kepala dihadapan Nyonya Ami. Dia terpaksa berbohong karena tidak mau jika Merry terus-menerus dimarahi oleh Nyonya.


Seluruh badan remaja 17 tahun itu terasa seperti remuk karena semalam dia sengaja menghabiskan malam yang panjang dengan pacar barunya. Meski dia tahu besok tidak ada libur tapi dia juga pantang menolak permintaan kekasih hatinya tersebut untuk bertemu. Awalnya niat Merry hanya ingin datang, melihat anggota keluarga, sebuah tempat karaoke di dekat rumahnya.


"Sayangku, bagaimana hari ini jika kita libur saja?" tanya pacar baru Merry membersihkan rambutnya.


"Aku harus pulang sebelum Mama tahu aku tidak pulang." Merry menunjukkan wajah sedihnya.


Tidak berselang lama ponsel Merry pun berdering pertanda ada suara telepon.


"Aku tadi sudah bilang kepada Mama jika kamu sudah berangkat sekolah pagi-pagi sekali." Ternyata yang menelpon Marry sudah diberitahukan yaitu Gea sendiri.


"Sekali lagi Terima kasih banyak, Kak Gea." Wajah Merry pun kini menjadi bersinar setelah mendengarkan perkataan dari salah satu customer yang sering berlangganan sosis sukses.

__ADS_1


Merry segera membereskan tempat tidurnya, perlu diketahui bahwa malam ini Merry menginap di sebuah hotel kawasan elit di kota ini.


Cukup tergesa Merry berjalan menuju keluar. Dia sengaja sudah memesan ojek online untuk mempermudah jalannya menuju ke rumah.


Sekarang sudah pukul 10.00 pagi saatnya Merry untuk pergi dari lobi hotel itu. Namun lagi-lagi ia teringat akan sesuatu.


Merry : Kak Gea, bagaimana keadaan di rumah?


Gea : Nyonya sepertinya sudah keluar dari tadi sedangkan Tuan Zidane bekerja seperti biasanya.


Membaca jawaban dari Gea hati Merry terasa senang. Dia segera masuk ke sepeda ojek online yang sudah dipesankan.


*


Tuan Zidane penasaran dimana Merry saat ini, karena dia tidak percaya jika Merry berangkat sekolah sepagi itu. Hari ini Nyonya Ami mendapatkan undangan untuk arisan di kalangan ibu sosialita.


Selesai makan dan minum Nyonya Ami segera bertolak ke kamarnya tanpa menoleh kepada Tuan Zidane. Sementara itu Tuam Zidane hanya tersenyum dan terlihat seperti biasanya.


Arisan yang akan diadakan di sebuah hotel yang mewah membuat Nyonya Ami harus mempersiapkan diri sedini mungkin. Pada kesempatan ini dia tidak akan menyia-nyiakan untuk kembali mempromosikan Tuan Zidane kepada salah satu anggota agar mereka bisa berbesanan dan Tuan Zidane ternyata sangat membenci hal ini.


Secara bersamaan mobil yang ditumpangi oleh Nyonya Ami masuk parkiran hotel saat persamaan itulah kendaraan online yang dipesan oleh mari datang. Meri sangat terkejut begitu melihat mobil mamanya namun ia tak kehilangan akal dengan menggunakan hoodie besar dia berusaha menutupi wajahnya.


"Atas nama Mbak Merry??"


"Iya saya sendiri," jawab Merry langsung masuk ke dalam mobil.


Tanpa membuang banyak waktu Merry segera menyuruh sopir tersebut untuk jalan namun tetap saja hatinya was-was jika dia ketahuan oleh mamanya.


Sebelum berangkat ke kantor Tuan Zidane terlebih dahulu menyusul Gea ke dapur.


Cup…

__ADS_1


Sebuah kecyupan hangat mendarat di bibir Gea dengan singkat. Gadis itu kaget untuk beberapa saat kemudian dia bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apapun.


"Aku akan selalu merindukan dirimu," catatan mengecyup tengkuk Gea sekali lagi sebelum akhirnya dia berangkat ke kantor.


__ADS_2