
Tuan Zidane celingukan ke kanan dan ke kiri sambil memantau keadaan. Melihat aman tidak ada orang, Tuan Zidane kembali memeluk Gea dari belakang dan mendekapnya erat hingga Gea kesulitan untuk bernafas.
"Sudahlah, Tuan, aku akan bekerja," keluh Gea karena Tuan Zidane tidak mau melepaskan pelukannya.
"Kau semakin menarik saja bila semakin memberontak," bisik Tuan Zidane sembari mengulum daun telinga Gea hingga dia merinding karena menimbulkan sensasi geli.
"Kau jangan memanggilku 'Tuan'." Tuan Zidane kembali mengendus parfum Gea yang diusapkan tepat di leher belakangnya.
"Aku sudah tidak sabar ingin segera bersamamu untuk selamanya." Tuan Zidan berpamitan kepada Gea.
Selepas Tuan Zidane berangkat ke kantor suasana rumah menjadi sepi. Hanya Gea dan Mbak Ranti serta beberapa asisten rumah tangga lainnya tetapi mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Dari arah luar dapur terdengar ada suara high heels menuju ke dapur. Dia sudah berpikiran jika itu mungkin saja Nyonya Ami yang menginginkan makanan atau minuman ringan sebagai pendamping saat dia bekerja. Namun ternyata dugaan Gea salah.
Sebuah tangan mungil langsung memeluk Gea dari belakang persis seperti apa yang dilakukan oleh Tuan Zidane tadi tetapi bedanya ini adalah tangan perempuan.
Gea menghentikan pekerjaannya sejenak.
"Mbak Gea," kata Merry menyembunyikan wajahnya di balik punggung Gea sambil terisak.
"Lho Merry, kamu kenapa?" tanya Gea dengan ekspresi bingung karena baru saja pulang sudah menangis seperti itu.
"Aku…aku…." Sepertinya Merry tidak mampu melanjutkan perkataannya lagi dan dia pun tidak memaksa Merry untuk berbicara sekarang mungkin saatnya Merry istirahat.
"Sudahlah jika memang kamu lelah istirahat saja dulu atau mbak buatkan susu dan sandwich seperti biasanya?" Gea mencoba menghibur Merry dengan cara melupakan masalah yang kini menerpa hidup Merry sebagai seorang remaja.
Merry pun mengangguk kemudian berjalan menuju ke kamarnya. Setelah membuka pintu Merry langsung menjatuhkan pintu kamar mandi dan memutar shower dengan kencang.
__ADS_1
Ada air mata yang mengalir bersamaan dengan air yang turun dari shower tersebut.
"Untuk apa aku hidup jika harus seperti ini?" keluh Merry sambil membersihkan sisa-sisa air mata agar tidak terlihat sedih di pagi ini.
Ketika Meri sudah berada di kamarnya dia segera mempersiapkan susu hangat kesukaan Merry yaitu susu steril dihangatkan terlebih dahulu kemudian sarapannya cukup dengan roti tawar ditumpuk dan dibakar kemudian olesi dengan mayonaise dan sayuran itu saja sudah cukup untuk sarapan Merry.
Setelah berbau harum dia langsung membawakan makanan tersebut untuk mari ke dalam kamarnya.
"Permisi," kata Gea sambil membuka pintu. Sempat bingung karena tidak mendapati Merry dalam kamarnya kemudian dia langsung jalan ke kamar mandi dengan cara mengetuknya.
"Aku lagi di dalam, Mbak," jawab Merry dengan suara parau.
Gea meletakkan sarapan untuk Merry di atas nakas kemudian ia hendak keluar.
"Mbak jangan keluar dulu," pinta Merry setengah berteriak sambil meminta Gea agar tidak meninggalkan kamarnya terlebih dahulu.
Gea menurut perkataan Merry dia duduk sebentar di dekat ranjang Merry sambil memperhatikan keadaan kamar Merry. Tidak sampai 5 menit kemudian Meri sudah keluar dari kamar mandi mengenakan handuk yang dililitkan di badan kemudian rambutnya pun juga sudah dicuci bersih.
"Mbak, menurut kamu bagaimana kisah cintamu dengan Kakak Zidane selanjutnya?" Pertanyaan itu lagi keluar dari mulut Meri padahal selama ini dia tidak pernah memberitahukan kepada siapapun jika dia memiliki hubungan dengan Tuan Zidane termasuk keluarga dekat mereka sendiri pun juga tidak tahu tapi mengapa Merry malah tahu?
"Memangnya kamu dengar gosip dari mana jika aku dan Tuan Zidane berpacaran?" Gea malah balik tanya.
"Tuhkan, ngaku kalau seperti ini," ledek Merry sambil tersenyum hingga matanya berubah menjadi sipit. Andai saja di dalam ruangan itu tidak hanya Gea dan Merry saja pasti dia sudah sangat malu mendengarkan ledekan yang keluar dari mulut Merry.
"Sebenarnya Mbak tanpa kalian kasih tahu saja aku sudah tahu jika kamu dan Kakak Zidane itu berpacaran."
"Maaf ya, Mer, jika kamu tidak setuju aku berpacaran dengan Tuan Zidane lebih baik aku juga mundur dari sini." Dia merasa tidak enak kepada Merry dan meminta izin untuk segera keluar dari tempat kerjanya yang sekarang.
__ADS_1
"Mbak yakin akan keluar dari sini?" Merry menatap dia dengan seksama.
"Yakin sekali," jawab Gea dengan begitu percaya diri.
"Untuk biaya kontrakannya bagaimana?" Merry salah mengingatkan kepada Gea bila bekerja di sini adalah untuk keluarga dan agar emak serta adiknya tidak menjadi gelandangan karena diusir dari rumah kontrakannya tersebut
Mendengar jawaban yang terlontar oleh Merry dia pun merenungkan dirinya.
"Memang benar jika bekerja aku bisa membayar kontrakan tetapi entahlah setiap aku cari sampingan, di sini aku pasti akan kesulitan lagi untuk mencari pekerjaan," kata Gea dengan menyesal.
*
Suasana pagi masih menyelimuti kota Greenville. Kabut tipis turun menghadang bumi. Untuk beberapa saat Tuan Zidane memilih memarkirkan mobilnya karena masih dalam keadaan berkabut. jadwal Tuam Zidane hari ini lumayan padat mulai pagi hingga sore hari dipenuhi oleh jadwal meeting, baik bersama kolega maupun bersama dengan para petinggi di dalam perusahaan tersebut. Mungkin dia akan pulang lebih malam daripada biasanya.
Tuan Zidane : Gea, aku ingin bertemu kamu nanti jam 04.00 sore di taman.
Hari ini juga dia tidak ada jadwal kuliah jadi dia seharian full di rumah mengerjakan tugas rumah tangga yang sudah menjadi bagiannya. Mendengar handphonenya berbunyi dia pun langsung membuka pesan yang tertera di bilah layar. Sudah bisa dipastikan jika itu adalah Tuan Zidane.
*
Sekitar pukul 03.00 sore, Gea sudah rapi hendak pergi ke taman yang yang telah disepakati oleh mereka berdua. Tuan Zidane sengaja mencuri waktu di sela-sela meetingnya. Seharian meeting pasti Tuan Zidane memerlukan kesenangan tersendiri.
"Tuan Zidane, jika anda berkenan malam ini saya akan mengajak anda ke sebuah klub yang mewah di kota Greenville ini," ajak salah satu kolega bisnisnya dengan sok akrab.
Sebenarnya Tuan Zidane sangat ingin pergi ke klub malam tetapi rasa rindu ingin bersama dia lebih besar daripada rasa ingin pergi bersama dengan teman-temannya.
"Maaf, Pak tetapi saya masih ada urusan yang lain," jawab Tuan Zidan dengan hormat.
__ADS_1
"Wah ini sayang sekali padahal saya tadi sudah memesan penari yang sangat eksotik dan saya jamin Tuan Zidane pasti sangat menyukainya." Klien Tuan Zidane itu pun tersenyum kecut mendengar jawaban Tuan Zidane yang terasa sok sibuk, dia juga sibuk, sibuk ingin bertemu dengan Gea.
"Anda tidak usah khawatir saya akan tetap menunggu Anda di dalam klub tersebut." Kolega bisnisnya itu menambahkan sesuatu di tangan Tuan Zidane.