Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Pulkam


__ADS_3

Mereka akhirnya sudah sampai di depan rumah Gea tentu saja Tuan Zidane tercengang melihat kediaman Gea yang sangat sederhana berbanding 360° dengan dirinya yang serba ada.


"Ini rumahmu?" tanya Tuan Zidane. Gea mengangguk karena memang benar jika mereka berhenti tepat di depan rumah Gea tepatnya kontrakan. Karena rumah Gea sudah dijual untuk biaya pengobatan ayah kia sebelum meninggal. Jadi mereka beberapa tahun ini hidup dengan mengontrak bahkan sering telat uang kontrakannya. Mungkin karena itulah yang menyebabkan ibunya seringkali didatangi oleh pemilik kontrakan. Bahkan penduduk sekitar pun juga sudah hafal jika Bu Ranti sering telat membayar. Beruntungnya Gea mendapatkan beasiswa dari kampus sehingga dia bisa kuliah. Semenjak duduk di sekolah menengah dia selalu mendapatkan juara jadi tidak heran jika dia menjadi salah satu murid teladan di sekolahnya dulu.


Tuan Zidane dan Gea pun turun dari mobil. Tanpa ragu Tuan Zidane membantu Gea menurunkan barang-barang juga dari atas mobilnya.


"Sudah Tuan tidak perlu saya saja yang mengangkat," ucap Gea sungkan. Ia tidak mau merepotkan bosnya.


"Tidak masalah Gea, apa salahnya saya membantu." Gea pun tersenyum.


"Maaf sebelumnya kita tapi saya buru-buru jadi tidak bisa masuk rumah terlebih dahulu." Setelah semua barang dia sudah turun Zidane pun segera masuk ke dalam mobilnya dan beranjak dari situ.


Gea menatap Zidan dari kejauhan.


"Mbak Gea!" teriak adiknya kelihatannya baru bangun tidur. Matanya masih sembab dan mukanya masih muka bantal.


"Halo Nando!" Gembira sekali Gea bisa bertemu dengan adiknya tersebut. Mereka saling berpelukan melepas rindu karena sudah sebulan tidak bertemu kadang jika dia sudah selesai dan ibunya belum tidur mereka sering melakukan video call. Sebenarnya jarak rumah Gea dan rumah tuansi dan hanyalah sekitar 1 jam tetapi karena pekerjaan di rumah itu padat belum lagi Gea harus bisa mengatur waktu kuliahnya jadi dia memutuskan untuk tidak pulang terlalu sering.


"Ibu mana?" tanya Gea celingukan mencari ibunya namun tidak juga kelihatan.


"Enggak tahu, aku kan baru bangun, Mbak," ujar Nando mengucek matanya.


"Dasar pemalas jam berapa ini kamu baru bangun." Gea mencubit pipi adiknya dengan gemas.


"Aku semalam begadang mengerjakan PR."


"Hehehe kamu begadang sampai jam berapa anak kecil?" tanya Gea menata rambut adiknya.

__ADS_1


"Aku jam 09.00 malam baru tidur loh, Mbak rasanya sekarang masih ngantuk." Tawa Gea langsung meledak ketika adiknya mengatakan jika jam 09.00 adalah sudah sangat malam bagi Nando. Memang dunia anak kecil berbeda dengan dunia orang dewasa jam 09.00 pagi Gea merupakan jam terakhir kerjanya itupun jika Tuan Zidan belum pulang, dia harus menunggu bahkan sering sekali dia tertidur di meja makan.


"Ya udah ayo masuk Mbak bawa sesuatu buat kamu." Gea menggandeng adiknya masuk rumah.


"Mbak, dia nganterin itu siapa kok ganteng banget?"


"Itu bosnya Mbak," jawab Gea tanpa berbohong.


"Ganteng banget orangnya," gumam Nando tapi masih terdengar dari telinga Gea.


"Ya namanya juga laki, asti ganteng, kalau Mbak iya cantik."


Terlihat Bu Ranti sedang berjalan menuju rumahnya dari membeli sayur di perempatan jalan. Melihat ibunya tidak begitu sedih dia pun ikut senang.


"Ibu!!" Gea sangat rindu dengan orang yang telah mengandungnya selama 9 bulan 10 hari dan melahirkan hingga merawat dirinya sebesar ini.


Mereka saling berpelukan dan Bu Ranti menitikkan air mata.


"Gea, akhirnya kamu pulang juga, Nak." Bu Ranti masih enggan melepas pelukan dari anak sulungnya itu.


"Iya Bu kiat dapat izin 2 hari jadi bisa menemani ibu dan Nando di rumah."


"Terima kasih ya sayang atas bantuan kamu kita semua nggak jadi terusir dari sini." Gea mengangguk.


"Ini semua juga karena pemilik agen itu dia dengan santainya meminjami gaya uang sebanyak Rp.5.000.000 jadi pas untuk bayar kontrakan kita." Memang Gea belum bercerita jika dia mendapatkan pinjaman dari penyalur agen tersebut. Mendengar berita demikian Bu Ranti menitikkan kembali air matanya. Dia tidak menyangka jika anaknya begitu besar berkorban untuk keluarga ini.


"Alhamdulillah, masih banyak orang-orang baik di luar sana, Nak."

__ADS_1


Untuk menyambut kehadiran Gea di rumah itu Bu Ranti sengaja memasak spesial daripada biasanya. Iya masih memiliki cadangan uang 100.000 yang rencananya digunakan untuk biaya makan dan uang jajan Nando selama seminggu ke depan tetapi karena dia datang maka Bu Ranti langsung berlari ke warung membelikan lauk-pauk yang akan dimasak nanti. Padahal tadi sudah membeli sayuran tetapi masih saja bagi seorang ibu itu belum spesial.


"Bu, saya beli ayamnya 1 kilo ya," kata Bu Ranti kepada penjual ayam di pinggir jalan.


"Tumben nih makan ayam," ledek penjual itu namun masih melayani Bu Ranti dengan baik.


"Iya, sesekali makan yang enak biar bergizi," canda Bu Ranti tanpa memasukkan kata-kata penjual tadi ke dalam hati.


"Alhamdulillah semoga selalu berkah ya Bu rezekinya." Ku nanti pun mengangguk menyerahkan selembar uang merah kepada penjual tersebut dan menunggu kembaliannya.


"Eh, Bu, bentar saya tambahin usus mau nggak?" Bu Ranti pun mengangguk senang mendapatkan tambahan jeroan ayam secara gratis dan cuma-cuma.


Sembari melihat penjual itu memasukkan sekitar seperempat kilo jeroan ayam, Bu Ranti teringat bahwa dia sedang meninggalkan kompor dengan keadaan menyala. Matanya mendadak melotot seperti ada sesuatu.


"Bang, bisa cepetan nggak soalnya saya tadi lupa mematikan kompor sebelum ke sini." Penjual itu langsung cekatan memasukkan tanpa menimbang lagi jeroan ayam yang akan diberikan kepada Bu Ranti.


"Sekali lagi Terima kasih ya, Bang." Bu Ranti langsung menyambar plastik yang berisikan ayam dan jeroannya berlari karena teringat kompornya tadi.


Sesampainya di rumah nafas Bu Ranti ngos-ngosan sebab dia berlari mungkin dari jarak setengah kilo juga ada.


"Ibu dikejar apa?" tanya Gea memperhatikan ibunya sedang mengatur nafas. Dari dalam terlihat nandu membawakan segelas air putih untuk ibunya.


"Anu, ibu tadi lupa kalau menyalakan kompor."


"Oh, itu tadi sudah dimatikan oleh Nando untuk saja ketahuan kalau nggak pasti rumah ini terbakar," canda Gea menyenggol bau adiknya.


Selanjutnya adalah Gea membantu ibunya memasak di dapur. Mereka akan memasak ayam itu di opor yang merupakan menu kesukaan Gea apalagi masakan ibunya bagi dia sangat enak dan lezat tidak ada yang menandingi meski dia berada di rumah Tuan Zidane yang terkenal akan masakannya juga enak.

__ADS_1


"Gimana Gea apakah masakan ibu berubah atau tidak?" tanya Bu Ranti melihat Gea memasukkan ayam ke mulutnya.


__ADS_2