
Matahari sudah hampir sepenggalah tingginya tetapi Gea masih malas untuk bangun. Apalagi hari ini merupakan hari libur menjadi pelayan Tuan Zidane dan dia kembali pulang. Saat momen seperti inilah Gea menggunakan waktunya untuk beristirahat agar bisa menikmati waktunya atau malah mengulur waktunya untuk rebahan sepanjang hari.
"Gea, cepatlah bangun, sudah siang," kata ibunya sambil meletakkan makan siang. Hari ini makan siangnya cukup beli gado-gado saja karena dia juga harus mengerjakan banyak sekali cucian.
"Aku masih malas, Bu." Gea masih enggan untuk menyingkap selimutnya, jarang-jarang dia bisa tidur sepuas ini.
"Anak perempuan pamali bangun siang, nanti jodohnya om-om, mau?"
"Nggak papa Bu asal omnya ganteng kayak Song Joong Ki aku juga mau aja."
"Dasar anak kalau sama Om yang itu ibu juga mau, Nak."
"Masalahnya Om Song Joong Ki emang mau sama Ibu?"
"Dih, ya jelas mau kalau misalnya kenal lah wong Ibu sengaja nggak mau mengenal dia. Pasti Mbak siapa itu yang sekarang gosip terbarunya Jong Ki, masih cantikan Ibu, kok." Pede sekali ibunya Gea sambil berkacak pinggang.
"Heem, jatah ibu bapak kontrakan sini aja deh kalau gitu," kata Gea masih meringkuk dibalik selimut, dia yakin setelah ini ibunya pasti akan murka.
"Ogah, bangkotan banget dia itu nggak cocok sama Ibu. Ibu aja masih cantik seperti ini mau kamu jodohkan sama bapak pemilik kontrakan sampai tua pun Ibu juga akan mau." Gea tambah cekikikan.
"Bedanya jika ibu menikah dengan bapak juragan kontrakan ini kita akan terbebas dari uang kontrakan itu, Bu."
"Kamu memang benar-benar anak durhaka, Gea, masak tega menjual ibunya sendiri," kata ibunya sambil tersenyum. Setelah itu dia langsung meninggalkan Gea dan kembali dengan rutinitas mengerjakan segudang cucian yang masih menumpuk di belakang.
__ADS_1
Baru sekitar pukul 11.00 siang Gea bangkit dari tidurnya.
"Sudah tidur hampir 12 jam tetapi masih capek juga kalau bekerja lama masih kuliah capek juga ini maunya badan kayak gimana sih?" keluh Gea merasa tidak pernah benar dengan badannya.
Baru saja ia menggeliatkan tubuhnya, ponsel yang terletak di atas meja bergetar. Gea segera mengangkat telepon tersebut.
"Halo Sayang," sampai tuan Zidane terlebih dahulu karena Gea sudah tidak sabar ingin melihat wajah kekasihnya lewat video call. Langsung Gea mengganti kameranya dengan kamera belakang karena dia sendiri baru bangun dari tidur dan mukanya masih berantakan tentu tidak ingin membuat Tuan Zidan merasa seperti sedang melihat hantu di siang bolong rambutnya juga masih acak-acakan.
"Halo Sayang."
"Kenapa kameranya dirubah kamera belakang?"
"Takut kalau kamu melihat hantu di siang ini."
"Heheh, aku baru bangun tidur hehehe." Mendengarkan Gea mengatakan jika saat ini dia sudah bangun tidur tentu sesuatu yang sangat asing bagi Tuan Zidane karena selama hidup hampir 30 tahun ini tidak pernah sekalipun bangun lebih dari jam 06.00 pagi. Karena ajaran dari mamanya memang begitu paling siang harus bangun jam 06.00 dan segera beraktivitas tidak hanya berdiam diri saja. Sedangkan sekarang sudah menunjukkan hampir pukul 12.00 siang dan Gea berkata jika dia baru bangun tidur.
"Kamu baru tidur dari tadi pagi atau sudah tidur lagi?" tanya Tuan Zidane setengah tidak percaya.
"Memangnya kenapa aku memang baru bangun tidur?"
"Astaga, kamu ini perempuan loh masa bangunnya jam 12.00 siang."
"Lagi pula tidak sering juga tidak masalah toh?" Tuan Zidane mulai gemas dengan pernyataan Gea.
__ADS_1
"Ya sudah jika begitu sebaiknya kamu segera mandi dan aku dalam 15 menit akan datang ke." Tanpa basa-basi lagi telepon pun ditutup oleh Tuan Zidane secara sepihak. Gea hanya bengong sambil duduk kembali di atas ranjang yang selama ini dia rindukan.
Daripada dia membuat tongsi dan menunggu lebih baik langsung menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selama kurang lebih 2 bulan berpacaran tentunya dia sudah tahu sifat plus dan minusnya dari Tuan Zidan. Ia sangat tahu betul jika tuan Zidan adalah orang yang tidak suka terlambat dan paling menyukai dengan orang yang tepat waktu serta dia paling tidak suka dengan orang yang berkata bohong dan mengkhianati dirinya atau menusuk dari belakang.
Benar juga setelah 15 menit sebuah mobil mewah keluaran negeri Jerman terbaru itu pun langsung bertengger di halaman depan Gea. Tentu saja hal ini membuat para tetangga sebelahnya mulai penasaran siapakah yang datang ke rumah dia saat ini.
Untungnya dia sudah selesai mengenakan outfit meski sederhana tetapi dia terlihat begitu menawan di mata Tuan Zidane.
"Masuk saja ke mobil," kata Tuan Zidane mengenakan kacamata hitamnya.
"Tunggu dulu aku baru belum berpamitan dengan ibu." Gea segera berlari ke belakang untuk menyalami dan mengatakan kepada ibunya jika dia akan pergi sebentar bersama bos. Gea belum memiliki banyak keberanian untuk jujur tentang hubungannya dengan tuan Zidan takut jika ibunya menolak karena latar belakang mereka sudah berbeda bahkan di dalam sistem kasta Tuan Zidan menempati kasta yang paling atas sedangkan Gea menempati kasta paling bawah sendiri.
Selesai perubahan pimpinan sidang pun langsung masuk mobil dan menstarternya kemudian menyetir hingga keluar pekarangan. Para tetangga pun kini mulai sulit dengan Gea yang katanya dia sudah mendapatkan pacar orang kaya seperti saat ini. Iya aku mah semua orang juga tahu jika mobil yang dipergunakan tuansi dan untuk operasional hari ini memang sebuah mobil mewah dan harganya juga tidak main-main. Ada beberapa dari mereka yang secara tidak sengaja mengetahui gaya bersama dengan tuan sidang di mobil itu langsung searching harga mobil tersebut di laman Google.
"Kita mau ke mana?"
"Pergi ke salon."seperti biasa saat sedang mengemudi Tuan Zidane pun menjawab dengan seperlunya saja dan tanpa menatap Gea sama sekali karena baginya fokus ke jalanan lebih penting daripada menyempatkan diri untuk fokus kepada Gea. Keselamatan adalah hal utama baginya.
Gea mengikuti Tuan Zidane masuk ke sebuah salon kecantikan yang terkenal di kota ini. Sebelumnya Tuan Zidane sudah reservasi terlebih dahulu untuk Gea, jadi setelah sampai disana mereka langsung disambut oleh beberapa karyawannya. Kia sempat bingung karena dia begitu dihormati oleh para karyawan di salon tersebut.
"Ini mau ngapain?" tanya Gea setengah berbisik kepada Tuan Zidane yang berjalan tegak di depannya.
"Yang jelas aku tidak akan menyakitimu pergi ke salon ini." Gea mendengus kesal jawaban Tuan Zidan selalu saja seperti mengandung sebuah teka-teki. Namun Gea tetap mengikuti langkah lelaki tersebut bersama dengan beberapa karyawan salon itu. Sesampainya di sebuah ruangan dia langsung takjub. Mulutnya menganga dan matanya tidak berkedip.
__ADS_1