Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Kehidupan Gea part 2


__ADS_3

Imam sengaja mampir ke rumah Gea setelah selesai tugasnya dari sekolah.


"Sebenarnya kamu masih lama nggak di desa ini?" Entah mengapa kalimat itu tiba-tiba keluar dari mulut Imam.


"Ya nggak tahu nanti nunggu sampai Nando sekolah terus ibu biar dapat pekerjaan baru aku kembali ke kota karena sayang banget sama kuliahnya." Dia menjawab dengan apa adanya tanpa ada yang ditambahi dan dikurangi.


Walaupun sebenarnya Gea sangat nyaman berada di desa karena orang-orang yang di sini yang membuatnya betah, selain ramah dan tolong menolongnya masih kuat. Di samping itu meskipun di desa tidak seperti kehidupan di kota yang serba ada dan serba mau jika ada uangnya tetapi di sini berkumpul dengan keluarga serta neneknya itu merupakan suatu anugerah Tuhan yang sangat besar mengingat saat ayahnya masih merantau di kota, mereka jarang sekali mengunjungi neneknya karena keterbatasan biaya untuk mudik. Uangnya saat itu lebih banyak digunakan untuk sekolah Gea serta perawatan nano yang masih kecil daripada digunakan untuk mudik.


"Imam, kamu mau aku bertingkah dulu?" tawar Gea karena Imam sudah terlalu lama duduk sekitar 15 menit yang lalu tetapi dia lupa tidak menawari makanan maupun minuman untuk sahabat kecilnya tersebut.


"Nggak usah repot-repot kok selain itu aku juga mau futsal hari ini." Mendengar kata futsal disebut bola mata Gea langsung berputar.


"Kamu mau ikut nonton?" Ternyata Imam begitu peka dengan isyarat yang Gea berikan.


"Boleh saja sih tapi nanti pulangnya malam nggak?"


"Yang paling jam 08.00 jam 09.00 kita pulang."


"Aku bilang sama ibu dulu nanti kalau misalnya nggak boleh ya udah nggak ikut nonton."


Imam pun akhirnya pulang dahulu ke rumah karena dia sudah diizinkan menonton jadi dia pulang cepat-cepat agar bisa menjemput Gea nonton pertandingan futsalnya hari ini.


"Tumben kamu jam segini sudah mau mandi mau ke mana?" tanya Bu Ranti begitu keheranan melihat anak gadisnya jam 03.00 sore sudah mandi padahal biasanya Gea mandi setelah adzan isya berkumandang atau tidak pukul 09.00 malam dia juga baru memulai terkena air.

__ADS_1


"Tadi Imam mengajak Gea untuk nonton futsal Bu." Setidaknya ini merupakan hiburan bagi Gea agar tidak terus-menerus memikirkan Tuan Zidane yang berada di kota Greenville sana.


Memandang ke layar ponselnya disana masih terdapat wallpaper Tuan Zidane yang tersenyum dengan begitu tampannya.


"Andai saja, Tuan, masih mengizinkan kita untuk bersama pasti suatu saat nanti kita akan bertemu lagi, Tuan." Gea bermonolog sambil memandang foto tersebut yang menjadi foto layar belakang di handphone Gea. Sebenarnya dia baru menggunakan foto ini sejak datang ke desa untuk mengusir rasa rindu kepada kekasihnya yang tidak sempat dia beritahu jika harus keluar dari kota Greenville.


Gea terus-menerus memandang foto itu hingga tanpa terasa air matanya mulai menetes. Jari-jarinya mengelus pelan layar ponsel yang menampakan tuansi dan terus tersenyum indah ke arah Gea.


"Mbak, di luar Mas Imam sudah menunggu." Ternyata Nando dari tadi berdiri di depan kamar dia namun ia tidak mengira jika adiknya itu sudah berdiri sekian lama, ia terlalu terfokus dengan foto yang dilihatnya.


"Ya suruh nunggu Mbak sebentar lagi sudah selesai kok." Langsung saja dia mengenakan hoodie berwarna hitam kemudian menyambar sepatu sneakers yang biasa digunakan untuk kuliah.


Dengan berjalan terburu-buru dari kamar menuju ke ruang tamu dia mendapati ibunya sedang memasak di dapur.


"Boleh saja, masa pulangnya tidak terlalu malam tidak masalah, atau Nando sekalian kamu bawa." Tentu saja bahagia tidak enak untuk membawa Nando untuk pergi menonton futsal tetapi karena dia bersama imam dan tadi ia tidak berkata jika Nanda boleh ikut maka dia tidak berani untuk mengajak Nando.


"Nggak berani, Bu, lain kali saja kalau misalnya Gea sendirian nonton futsal nggak apa-apa Nando ikut," ucap Gea langsung meraih tangan ibunya kemudian mengecup perlahan punggung tangan yang sudah agak keriput tersebut.


*


Perjalanan dari rumah menuju ke tempat futsal sebelum memakan waktu cukup singkat yaitu sekitar 15 menit tetapi Gea meminta agar Imam memperlambat laju motornya karena suasana sunset diperbalik pegunungan begitu indah bahkan dia sangat jarang menyaksikan pemandangan dari Tuhan yang sangat indah ini.


Dari belakang dia sibuk memotret foto sunset dengan warna cahaya merah keorenan. Pertanda sebentar lagi akan terjadi pergantian antara siang dan malam.

__ADS_1


"Gea, kamu kayaknya menikmati banget ya perjalanan hari ini?" Imam membuka percakapan karena sejak tadi dia masih sibuk dengan foto-fotonya baik berselfie maupun memfoto pemandangan bukit itu.


"Iyalah, Mam, ini kalau di kota memang sangat jarang aku menemukan pemandangan seperti ini." Gea masih asyik mengarahkan handphonenya ke matahari yang sebentar lagi akan bersembunyi di balik bukit.


*


Sudah beberapa hari ini Tuan Zidane tampak murung. Apalagi hari ini dia tidak diperkenankan oleh kedua orang tuanya untuk pergi ke kantor. Padahal selama dia tidak ada kantor lah yang menjadi tempat utama Tuan Zidane daripada rumahnya karena di rumah ini banyak sekali kenangannya dengan Gea. Sikap nyonya Ami yang terlalu arogan terhadap anaknya sendiri membuat Tuan Zidane enggan berada di rumahnya.


"Ma, Zidan hari ini ada meeting penting kalau misalnya tidak sadar kita pasti akan rugi beberapa proyek selanjutnya." Kali ini bukanlah alasan tuan sidang semata karena dia kemarin sudah berjanji kepada kelainan untuk meeting hari ini tentang proyek yang akan segera dibangun.


"Mama bilang kamu tidak usah pergi ke kantor untuk hari ini saja, masalah meeting bisa di handle oleh papamu atau Mama juga bisa." Dengan santainya nyonya Ami memberikan alasan seperti itu.


"Lagi bola kenapa sih, Ma, kalau aku ke kantor aku kan bukan anak kecil lagi?" Tuan Zidane an merasa geram dengan pengekangan yang dilakukan oleh ibunya.


"Iya sih Mama memang tahu tapi ini ada hal yang penting perlu Mama bicarakan karena beberapa hari ini kamu selalu pulangnya lewat tengah malam."


"Ya sudah kalau misalnya ada hal yang perlu dibicarakan bicara sekarang dan jam 10.00 nanti aku akan berangkat ke kantor." Tetap saja Tuan Zidane bersikeras agar dirinya tidak berada di rumah sepanjang hari ini.


"Mama akan bicara tapi setelah sarapan." Seluruh anggota keluarga menuju ke ruang makan untuk memulai sarapan pagi.


"Mbak Ranti, nanti boleh bicara sama saya." Tuan Zidane mendatangi Mbak Ranti sendirian di dapur karena dia sangat curiga dengan kelakuan Mbak Ranti beberapa hari sebelum dia pergi dari rumahnya.


"Memangnya ada apa, Tuan?"

__ADS_1


"Nanti saja setelah kita sarapan."


__ADS_2