Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Kesempatan


__ADS_3

Akhirnya Tuan Zidane pun berangkat bersama Grace menuju ke sebuah restoran yang sudah dipesankan oleh Nyonya Ami. Dalam hati Grace merasa senang karena bisa bersama dengan Zidane meski hanya menaiki mobil yang sama. Sepanjang mengemudi Tuan Zidane tidak pernah mengeluarkan perkataan apapun kecuali bila ada sesuatu yang sangat penting. Itupun dengan sangat terpaksa.


"Zidane, apakah kamu tidak suka gym?" Grace mencoba membuat topik pembicaraan agar tidak terasa di kuburan.


"Suka." Tuan Zidane masih fokus menyetir.


"Kapan-kapan kita bisa gym bareng, kebetulan aku sama teman aku mau buka tempat gym." Tuan Zidane menganggukkan kepala tanpa menjawab dengan kata-kata.


"Akhir-akhir ini aku sibuk."


"Ya nanti kita bisa cari waktu longgarnya bersama kapan." Tuan Zidane kembali terdiam.


Tanpa terasa mereka berdua telah sampai di restoran yang dimaksudkan oleh Nyonya Ami.


"Kalian ini lama sekali dari mana saja? Mama sudah dari tadi lho menunggu." Tuan Zidane pun bisa bernafas lega ternyata mamanya juga ikut makan siang.


"Maaf Tante, tadi sempat terjebak macet sebentar." Grace langsung memeluk Ami. Sedang Tuan Zidane hanya sebagai pelengkap saja.


Sementara mereka berdua sedang asyik mengobrol tentang dunia wanita Tuan Zidane pun juga asik dengan dunianya sendiri. Dia mengeluarkan handphone kemudian mengetikkan sesuatu untuk seseorang yang sangat dirindukan saat ini siapa lagi kalau bukan Gea.


Zidane : Hai, kamu sedang apa?


Gea : Aku sedang di kampus.


Mata Tuan Zidane langsung berbinar mendapatkan jawaban Gea yang begitu cepat.


"Zidane, kamu kenapa?" tanya Nyonya Ami tersadar melihat anaknya tersenyum sendiri padahal tidak sedang mengobrol dengan siapapun.


"Ah, nggak apa-apa, Ma. Makan siangnya ini segera datang nggak aku sedang terburu-buru." Tuan Zidane melirik ke kanan kiri mencari sang pramusaji untuk membawa makanan mereka.


Nyonya Ami sengaja mengulur pesanan mereka karena tidak mau Tuan Zidane dan Grace berlalu dari sana dengan cepat.

__ADS_1


"Kamu lihat sendiri restoran ini sangat ramai jadi kita harus sabar menunggu antrian berikutnya." Begitu alasan Nyonya Ami untuk menenangkan putra sulungnya.


Terlukis jelas di wajah Tuan Zidane jika dia tidak sabar untuk lebih lama menunggu giliran makan siang.


"Kalau begitu aku keluar saja perutku sudah melilit," inilah Tuhan sidang sebenarnya dia juga ingin mencari alasan untuk segera berlalu dari tempat tersebut dan menemui Gea di kampusnya. Ini merupakan kesempatan emas bagi dua sidang untuk bertemu dengan kekasih hatinya selain di rumah.


"Eh, jangan nanti sebentar lagi Mama minta menu ke mereka." Nyonya Ami gelagapan.


Dengan cepat Nyonya Ami bangun dari duduknya kemudian menuju ke meja kasir untuk meminta pesanannya segera dipercepat saja. Sesuai dengan permintaan sebenarnya pesanan nyonya amis sudah siap dari tadi tetapi karena dia sendiri yang meminta untuk memperlambat pesanan itu maka sang kasir harus membuat pesanan ulang dan mereka harus menunggu lagi.


"Okelah kalau begitu kita akan menunggu 10 menit lagi kalau tidak terpaksa saya akan pergi dari sini," ancam Nyonya Ami kepada pelayan tersebut.


"Baiklah, Nyonya, saya akan berusaha untuk secepatnya."


*


Siang yang terik menerpa bumi ini. Dengan sedikit cepat Gea melangkahkan kaki menuju ke ruang di mana kelasnya akan berlangsung. Suasana kelas sudah mulai penuh. Sedang Ac sering macet bertambah panaslah suasana di kelas karena semakin bertambahnya populasi mahasiswa yang akan mengikuti kelas kali ini. Gea tidak kurang akal dia memilih duduk dekat jendela.


"Aku boleh ya sebelahan sini," tutur Gea mendekati jendela kepada salah satu mahasiswa yang duduk di depannya agar ada sedikit angin untuk menyejukkan badannya yang terasa panas akibat terpaan sinar matahari tadi.


"Gea, kamu habis kuliah ada waktu nggak, sesekali nongki gitu biar gak kerja terus." Tiba-tiba tidak tahu datangnya Vina sudah duduk di dekat Gea. Hingga Gea sedikit kaget sebab dia sendiri sedang ngantuk berat akibat beberapa hari ini Gea tidak bisa tidur dengan nyenyak terus memikirkan bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Tuan Zidane.


"Boleh deh, tapi sejam aja." Gea mulai berpikir pikir untuk mengikuti saran dari Vina karena selama bekerja di rumah Tuhan Zidan dia belum pernah mencuri waktu istirahat walaupun hanya satu jam saja. Ini merupakan kesempatan bagi Gea karena dengan alasan kuliah dia bisa nongkrong dengan Vina sambil beristirahat sebentar.


"Nah gitu dong, sesekali kita refreshing." Vina tersenyum lebar.


Mata Vina berbinar.


Sekitar 2 jam mereka mengikuti mata kuliah yang sangat membosankan. Terkadang Gea mencari cara agar bisa terlelap sebentar.


*

__ADS_1


Vina dan Gea segera masuk mobil karena mereka sudah sepakat untuk nongkrong sekitar 1 jam sebelum Gea kembali bekerja di rumah Tuan Zidane. Tujuan Vina adalah sebuah cafe yang belum pernah mereka berdua singgahi. Tempatnya luas dan bagus serta sangat nyaman interiornya pun tak kalah.


Sembari menunggu pesanan mereka berdua datang Vina dan Gea saling mengobrol.


"Gea, gimana Tuan Zidane kamu udah punya pacar?" Gea tergagap menjawab.


"Nggak tahu deh," jawab Gea berusaha netral. Dia akan menutupi semuanya.


"Yah, emang cowok seganteng dia nggak pernah bawa cewek ke rumah gitu?"


"Nggak tahu aku sih nggak pernah, tetapi kayaknya juga nggak pernah." Gea mengedikkan bahunya.


"Menurut kamu cowok seperti Tuan Zidane itu Playboy nggak?" Rupanya topik Tuan Zidane sangat menarik bagi Vina karena dia juga diam-diam mengagumi bosnya Gea tersebut yang kebetulan menjadi kekasih Gea juga.


"Hih, kalau misalnya nggak serimg bawa perempuan pulang, fix, merupakan sebuah idaman."


"Mulai menghalu nih," ledek Gea sambil menyeruput kopi di depannya. Lumayanlah untuk mengatasi haus yang tadi terus menerus merongrong dirinya.


*


Sementara itu selesai makan siang Tuan Zidane langsung berpamitan kepada Grace dan Nyonya Ami.


"Ma, sepertinya aku ada meeting mendadak jadi Grace bisa bareng Mama."


"Beneran kamu ada meeting?" Nyonya Ami setengah tidak percaya dengan ucapan Tuan Zidane.


"Iya, permisi aku duluan." Presiden langsung memasukkan kursinya kembali dan dia segera keluar dari cafe tersebut.


Niat awalnya ingin segera menemui Gea di kampusnya. Dia akan berbicara dari hati ke hati. Tuan Zidane langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan super sehingga untuk sampai di kampus hanya perlu waktu sekitar 20 menitan saja.


Begitu sampai di parkiran Tuan Zidane langsung menghubungi Gea. Lama sekali menghubungi kawan-kawannyaa tetapi tidak ada yang diangkat sama sekali.

__ADS_1


"Sebenarnya kamu ini dimana?" tanya Tuan Zidane kepada Gea.


"Kita mau kesini. Parkiran Gea malah sekali perjalanan menuju kampus belakang sana." Maaf atas ketidaknyamanan dam kekacaukan.


__ADS_2