Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Tidak Biasa


__ADS_3

"Gea, kamu kenapa?" tanya Tuah Zidane ketika Gea terus membuka mulutnya saking takjub dengan apapun yang berada di ruangan tersebut.


"Gea," panggil Tuan Zidane dengan lembut namun dia masih tetap saja melamun. Gea sedang berpikir apakah berada di dunia nyata ataukah hanya khayalan semata.


"Gea Sayang," ucap Tuan Zidane sekali lagi kepada Gea. Namun yang namanya orang sedang melamun pasti tidak akan merespon apapun. Gea masih terdiam saja tanpa ekspresi.


Saking merasa kesal dan bercampur gemas dengan sikap Gea yang tidak biasa saja Tuan Zidane pun melayangkan sebuah kecu-pan lembut di pipi kekasihnya tersebut. Seketika itu Gea langsung tersadar dari lamunannya dan reflek memegang pipi bekas yang kecup-an oleh Tuan Zidane. Pipinya berubah memerah karena seluruh karyawan di salon tersebut sedang memandang dirinya.


"Ayo lagi ya kamu segera bersiap biarkan di makeover oleh tim yang berada di sini," titah Tuan Zidane memerintahkan Gea agar bersiap.


"Aku harus apa?" tanya Gea dengan polosnya karena dia tidak tahu menahu sama sekali tentang dunia wanita dan kecantikan, yang biasa dia lakukan sebagai seorang perempuan hanya mandi kemudian menggunakan deodoran, sisiran dan jika perlu menggunakan bedak dan lipstik secara tipis-tipis itu saja sudah lebih dari cukup. Terkadang dia melewatkan salah satunya. Hal yang paling sering dilewatkan oleh Gea adalah tidak mesti menggunakan bedak maupun lipstik.


Sejumlah tim dari salon tersebut langsung bersiaga memake over Gea dengan penuh semangat. Akhirnya Gea pun pasrah dengan keadaan.


Setelah 2 jam berlalu Gea pun sampai tertidur tetapi ternyata semuanya belum selesai.


"Mbak, ini masih berapa lama lagi?" tanya Gea dengan mata menyempit sangking menahan kantuk yang menderanya.


"Sebentar lagi sudah selesai kok, Kak."


Bener juga setelah kurang lebih 30 menit gaya sudah selesai di make over dan kini saatnya berganti baju. Sengaja di depan Gea tidak diberi kaca agar dia merasa takjub dengan wajah barunya dan penampilan terbarunya setelah di makeover oleh sejumlah tim.


Dengan sabar Tuan Zidane pun menunggu di ruang terpisah dari Gea. Rencananya malam ini Tuan Zidane ingin mengajak Gea dinner secara romantis di sebuah restoran mewah yang sudah dia reservasi juga sebelumnya.


Gea terdiam ketika sampai di ruang ganti karena semua baju yang tersedia di sana hanyalah dress dengan potongan lengan pendek atau belahan dada rendah. Semua itu tentu saja bukan selera Gea yang merupakan cewek sedikit tomboy namun tetap terkesan cantik dan imut.


"Aku nggak mau pakai baju di sini," tolak Gea dengan tegas.


"Kenapa?"


"Mana mau aku mengenakan dress aku tidak terbiasa." Dua orang yang membawa Gea ke ruang ganti pun saling memandang satu sama lain. Seolah mereka sedang bertukar pikiran untuk mengatasi bagaimana yang terbaiknya.

__ADS_1


"Baiklah saya akan keluar dulu," kata salah satu dari mereka keluar menemui Tuan Zidane.


Begitu melihat atas karyawan salon tersebut mendekati dirinya Tuan Zidane langsung bangun dari duduknya.


"Bagaimana? Sudah beres??" Tuan Zidane dengan semangat sudah tidak sabar ingin melihat perubahan diri Gea.


"Maaf Tuan, tetapi Mbak Gea mau mengenakan bajunya."


"Maksudnya??"


"Kelihatannya Mbak Gea tidak setuju untuk mengenakan dress." Tuan Zidane sudah menduga hal tersebut karena selama ini dia memperhatikan Gea tidak lepas dari celana jeans maupun pakaian casual. Tuan Zidane ingin melihat tampilan Gea berubah dari biasanya.


Di ruangan lain, Gea tetap bersikukuh tidak mau mengenakan dress yang dia rasa kurang bahan tersebut.


"Ayolah Nona, kita gunakan dress ini." Sang pelayan memberikan sebuah dres berwarna hijau sage dengan aksesoris bunga kecil di dada atas.


Sebenarnya dress tersebut sangat cantik dan menawan tetapi bagi Gea ia tidak suka dengan potongan dadanya terlalu rendah.


"Aku tidak suka belahan dadanya yang rendah," ucap Gea dengan tegas.


Pelayan itu akhirnya menemukan sebuah ide untuk membuat agar belahan dada dress tersebut tidak terlalu rendah maka dia menambahkan kain sebagai penutup dada.


"Sekarang lihatlah, bagaimana?" tanya pelayan tersebut memperlihatkan dia sudah memodifikasi dress menjadi sesuai dengan permintaan Gea.


Ada senyum tersirat di bibir Gea setelah menyaksikan dress tersebut diubah oleh pelayan.


"Nsh, aku mau." Gea langsung mencobanya di kamar pas dan kemudian keluar dari sana. Bersamaan dengan hal ini, Tuan Zidane kebetulan masuk ke ruangan.


Gea langsung terperangah melihat penampilan Gea berbeda 180 derajat dari biasanya.


"Luar biasa," bisik Tuan Zidane tanpa bisa didengar oleh siapapun saking rendahnya suara Tuan Zidane berbicara. Gea terlihat seperti Barbie yang hidup. Gaun yang dikenakan oleh Gea malam ini memang sangat cocok dengan bentuk tubuhnya.

__ADS_1


"Terima kasih telah menyulap bidadariku menjadi lebih cantik," ucap Tuam Zidane kepada para team di salon tersebut.


Baru pertama kalinya mengenakan high heels tentu saja cara berjalan Gea sangat berbeda dari biasanya. Ia takut terjatuh. Dengan telaten Tuan Zidane membimbing Gea berjalan hingga memasuki mobil.


"Pelan-pelan saja," kata Tuan Zidane dengan penuh kesabaran. Gea mengangguk.


Gea sedikit merasa risih dengan baju yang dikenakan saat ini tetapi tetap mencoba untuk tetap bersikap tenang. Tuan Zidane rupanya juga mengetahui jika Gea merasa tidak begitu suka dengan gaunnya malam ini tetapi dia ingin mengajarkan kepada Gea agar suatu saat nanti bisa terbiasa mengenakan dress maupun gaun di acara-acara formal ketika mendampingi dirinya.


Tibalah Gea dan Tuan Zidane di sebuah restoran mewah di kota ini. Dengan langkah elegan, Tuan Zidane menggandeng tangan Gea.


"Jangan terlalu gugup, anggap saja semua ini sudah terbiasa." Tuan Zidane berusaha terus menerus mengingatkan sekaligus menenangkan Gea agar tidak usah grogi.


Keringat dingin sekaligus hawa dingin menusuk tulang Gea. Namun dengan setia Tuan Zidane terus menggandeng tangan Gea hingga ke tempat tujuan.


"Selamat malam, atas nama Tuan Zidane?" Seorang pramusaji sudah bersiap menyambut kedatangan Tuan Zidane dan Gea.


"Silakan duduk selamat menikmati makan malam Anda," kata pramusaji sambil menurunkan menu yang sudah dipesan Tuan Zidane sedari tadi.


Gea terus menerus menatap Tuan Zidane.


"Ayo duduk, Gea," kata Tuan Zidane memundurkan kursi untuk Gea.


"Terima kasih," kata Gea menunduk kemudian menempati tempat duduknya di depan Tuan Zidane.


Suasana malam ini sungguh penuh romantisme, makan malam ditemani dengan alunan musik yang syahdu membuat Gea merasa sangat berbahagia diperlakukan dengan istimewa oleh Tuan Zidane.


"Tuan, eh maaf Sayang, terima kasih untuk malam ini." Gea menatap Tuan Zidane penuh kebahagiaan.


"Aku akan melakukan semuanya demi dirimu, Sayang."


"Udah gak usah gombal lagi," sanggah Gea sambil tertawa.

__ADS_1


__ADS_2