
Tuan Zidane masih berdiam diri.
"Zidane, apakah kamu tidak mendengarkan aku berbicara?" tegur Grace dengan mimik muka yang sedih.
"No, aku mendengarkan bahkan aku sudah memikirnya jawabanku antara mau atau tidak untuk pergi ke restoran yang kamu maksud." Grace begitu bahagia mendengarkan jawaban dari Tuan Zidane demikian. Jika Tuan Zidane memang benar-benar ingin mengajaknya makan siang berarti ini adalah sesuatu awal yang baik begitu pikir Grace. Tidak masalah jika seandainya Tuan Zidane menginginkan satu syarat pasti syaratnya juga tidak berat-berat banget begitulah pendapat Grace.
"Terus bagaimana jawabanmu?"
"Oke, kita nggak masalah makan siang bersama tapi dengan satu syarat." Grace memang belum mengetahui syarat apakah itu tetapi demi bisa makan siang bersama dengan Tuan Zidane, ia rela untuk memakan apapun dalam waktu selama apapun asal masih bersama dengan sang pujaan hati.
"Oke tidak masalah aku akan menerima semua persyaratan dari kamu," ucap Grace begitu bersemangat. Tuan Zidane pun memikirkan sesuatu sambil mengetukkan tangan di meja. Kira-kira apa yang membuat Grace menjadi kapok dan tidak mau bertemu dengannya. Toh, walaupun ini bukan pertemuan pertama mereka tetapi secara intens berdua mereka bepergian barulah kali ini itupun jika Tuan Zidane setuju.
Tiba-tiba Tuan Zidane teringat akan perkataan Gea di telepon tadi. Bahwa pada siang ini sangat panas dan jika berjalan menyusuri trotoar maka panasnya semakin terasa. Jadi maksud Tuan Zidane ingin mengajak Grace untuk berjalan kaki melewati trotoar pinggiran jalan untuk menuju resto yang mereka inginkan.
"Bagaimana apa kamu setuju dengan syarat yang aku ajukan?" Tuan Zidane memandang Grace dengan tatapan mengejek, dia sangat yakin jika lawan bicaranya kali ini pasti tidak akan mau berjalan apalagi melewati trotoar. Jangankan berjalan melewati trotoar melewati langkah saja mungkin bagi Grace sangat sulit.
Syarat gila macam apa yang dilontarkan Tuan Zidane kepada Grace membuat gadis itu berpikir keras.
"Tidak masalah jika memang harus demikian," jawab Grace dengan penuh percaya diri meski dalam hatinya ia merasa tidak yakin dan membayangkan betapa panasnya hari ini belum lagi polusi yang memenuhi rongga hidungnya nanti.
Tuan Zidane terperangah mendengarkan jawaban yang santai dari Grace. Dia sebenarnya tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban Grace begitu tetapi untuk membuktikan keseriusan gadis ini Tuan Zidane pun langsung keluar dari ruangannya terlebih dahulu kemudian barulah diikuti oleh Grace di belakangnya.
"Lihat bos kita itu kemarin saja yang dibawa cewek cantik sekarang malah cewek rada gila." Salah satu karyawan yang berada di deretan itu menertawakan Grace. Presiden sebelumnya mendengar karyawannya berkata demikian tetapi dia membiarkan saja, siapa tahu Grace merasa dan kemudian malu untuk memakai baju yang kurang bahan serta dandanan yang begitu menor seperti seorang yang mau hadir ke kondangan.
__ADS_1
"Heem, cakepan yang kemarin ini sih cantik tapi sayang gak punya baju," imbuh staf yang memakai baju biru diiringi dengan cekikian anggota staf yang lain.
Ada saja di situ Tuan Zidane tidak menjaga kewibawaannya. Dia pasti sudah ikut tertawa ngakak mendengarkan kalimat tersebut. Mengatakan jika Grace menggunakan baju yang kurang bahan.
"Iyalah, cakep yang kemarin manis," ucap seorang staf laki-laki sambil membayangkan Gea kemarin berjalan di samping Tuan Zidane. Mendengar ada suara laki-laki yang bersuara tuan sedang pun menghentikan langkahnya sebentar dan menatap karyawan pria tersebut. Karena merasa Tuhan sudah memperhatikan dirinya maka karyawan laki-laki itu berusaha untuk mengerjakan sesuatu yang mungkin sudah selesai agar terlihat bekerja dan tidak makan gaji buta semata.
Sebenarnya tujuan Tuan Zidane melirik karyawannya itu adalah ingin mengatakan jika wanita yang mereka bicarakan sebagai wanita manis dan cantik, saat ini merupakan kekasih baru dari Tuan Zidane.
"Ayo Zidane, mengapa jalanmu lambat sekali?" kata Grace sudah terlebih dahulu keluar dari pintu. Tidak mau kalah, Tuan Zidane pun menyusul mempercepat langkahnya.
"Kali ini kita mau makan di mana?" Tuan Zidane pun nampak berpikir sejenak kira-kira restoran mana yang letaknya begitu jauh dari kantor ini sehingga Grace akan memohon untuk menyerah dan dia akan kembali sendiri ke kantor.
"Begini saja, bagaimana kalau kita pergi ke restoran steak AB steak?" Restoran itu memang terkenal sangat menggoyang lidah tetapi jaraknya dari kantor Tuan Zidane ternyata lumayan jauh sekitar 2 KM.
"Zidan, kenapa jauh sekali?"
"Kelihatannya enak jika makan steak saat seperti ini." Itulah alasan Tuan Zidane agar Grace tetap ikut dia makan siang dan setelah ini Tuan Zidane sangat yakin pasti dia kapok dan tidak akan menemui dirinya lagi.
"Ya sudah kalau begitu aku ngikut tapi aku minta tolong pinjam jasmu sebentar," pinta Grace memandang Tuan Zidane dengan penuh harap.
Pria memiliki tinggi 180 cm itu pun terpaksa melepas jaketnya untuk diberikan kepada Grace. Dengan senang hati calon tuan calon tunangan Tuan Zidane tersenyum bahagia.
Jadilah siang ini mereka berdua berjalan menuju ke AB steak. Matahari sungguh terik. Bahkan beberapa kali terlihat Grace meneduhkan diri di bawah pohon besar tapi lagi-lagi Tuan Zidane mengajak Grace untuk berjalan lebih cepat.
__ADS_1
"Ayolah Grace, kita harus bergerak cepat nanti kalau sampai stiknya habis aku tidak mau tahu," kata tuan sidang terus bersemangat melaju beberapa langkah di depan Grace.
Muka Grace sudah berubah menjadi merah dan kini keringat membasahi keningnya. Bagi seorang Grace berjalan di tengah terik matahari begini adalah siksaan yang luar biasa. Belum lagi memang benar dugaan Grace dia menerima suitan nakal dari para pengguna jalan maupun pedagang yang berjualan di dekat trotoar tersebut. Tentu saja Grace menjadi tambah malu sedang situasi dan terlihat begitu acuh dan tidak peduli dengan Grace sama sekali.
Dengan penuh perjuangan akhirnya Grace dan Tuan Zidane tiba di restoran yang mereka tuju.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Grace masih ngos-ngosan mengatur nafasnya.
"Terserah kamu yang penting di sini paling recommended apa," jawab Tuan Zidane cuek malah meraih ponselnya.
Berarti kemudian memanggil pelayan dan menyebutkan menu yang ingin mereka santap untuk siang seperti saat ini. Untuk minum gres memesan dua gelas jus jeruk sedangkan Tuan Zidane hanya air putih saja.
Tuan Zidane mengirim pesan untuk Gea.
Tuan Zidane : Aku mau PAP dong.
Gea : Gak mau.
Jawaban Gea singkat hanya 2 kata tetapi mampu membuat Tuan Zidane seperti bertanya-tanya.
Tuan Zidane : Kenapa.
Tidak berapa lama Gea pun melakukan panggilan video kepada kekasih barunya.
__ADS_1