
Dengan langkah tegap Gea sudah mantap meninggalkan tempat parkir di kampus dia segera berlari ke jalan. Secara kebetulan ternyata disana sudah ada angkot yang hendak berangkat dia pun segera naik dan angkot pun berjalan.
Tidak mau kehilangan jejak tuan Zidan langsung berlari menuju ke mobilnya dan menstarter mobilnya mengejar kemana Gea pergi.
Gea terus menoleh ke arah belakang ternyata tidak berapa lama kemudian Tuan Zidan sudah berada tetap di belakangnya. Gea hanya berharap semoga sopir angkot tadi bisa lebih cepat berjalan.
"Pak, bisa cepat sedikit?" Gea menatap gusar kearah mobil tua Zidan yang semakin lama semakin mendekat.
"Ya neng ini juga cepat kok." Nama secepatnya mobil angkot tentu masih kalah dengan mobil Zidan. Begitu dia dapat mendahului angka tersebut lalu mematangkan jalan agar si pengendara angkot berhenti.
"Astaga ini kenapa lagi?" Tidak mau mencari masalah dan melibatkan orang lain dia pun segera membayar angkot dan turun dari mobil.
"Maaf tuan mengapa anda menghalangi jalanku?" Presiden segera turun dari mobil dan menemui Gea, dia sudah sangat rindu dengan kekasihnya itu hendak ingin memeluk, tidak peduli dilihat banyak orang bahkan posisi mereka sekarang membuat macet kendaraan di belakangnya.
__ADS_1
Baru saja tangan Zidan merentang ternyata Gea langsung memundurkan diri beberapa langkah.
"Lebih baik berhenti di situ, Tuan."
"Gea, ada apa denganmu?" Tentu saja Zidan menatap semuanya ini dengan aneh karena biasanya dia selalu antusias bila bertemu dengan dirinya dimanapun itu.
"Aku mohon jangan mendekati diriku lagi."
Deretan mobil di belakang angkot itu semakin banyak hingga membuat pengendara lain tidak sabar mereka mengklakson akan tuai dan memikirkan mobilnya.
"Gea, apa aku salah bila merindukanmu?"
"Ya, kamu salah karena aku mulai menyadari jika antara kita ada satu sekat yang tidak mungkin bisa kita tembus."
__ADS_1
"Aku tahu Gea tapi bukan berarti kita tidak bisa hanya kita harus berusaha." Air mata Gea lolos dari pertahanan. Emangnya diucapkan oleh tuan Zidane tidak sepenuhnya salah dan tidak juga benar. Pasalnya jika hal ini menyangkut orang tua maka dia lebih baik meninggalkan cinta sejatinya daripada orang tuannya arus menderita.
"Aku sudah sangat berusaha Tuan, tetapi apa? Aku sebagai kalangan bawah merasa tertindas dengan tindakan Nyonya, Dari sini aku menyadari jika memang cinta itu tidak mesti harus bersama karena di sana masih ada keluarga yang membutuhkan aku dan di situ pun aku mulai menyadari jika aku memilih uang untuk kehidupan agar keluargaku bisa layak daripada aku harus mempertahankan cinta yang begitu menyakitkan." Gea memejamkan mata merasakan betapa pedihnya hati saat ini seakan bumi tempatnya berpijak pun melayang. Mengucapkan kalimat itu terasa sangat sakit namun tidaklah berdarah dan tidak juga terlihat.
"Mulai sekarang aku mohon Tuan, jangan pernah menemui aku lagi dan jangan pernah menggangguku lagi. Kita masih tetap hidup tetapi melanjutkan kehidupannya masing-masing," imbuh Gea sesekali mengusap air matanya agar tidak jatuh dan berusaha menguasai diri.
Bak patung, Tuan Zidane hanya bisa berdiri dengan tatapan kosong mendengarkan kalimat Gea mendayu di telinga.
"Memang menyayangi orang yang berada di depanmu ini, maka aku mohon sekali lagi hubungan kita harus berhenti sampai di sini dan kita tidak akan pernah merasakan luka masing-masing."
Gea mulai beranjak dari tepi jembatan itu. Dia sudah tidak kuat lagi menahan segala perasaan yang terus-menerus mendera dirinya.
"Gea, tunggu!!" Teriak Tuan Zidane namun dia sudah tidak menggubris panggilan Tuan Zidane. Dia terus berlari meninggalkan jembatan sebagai saksi perpisahan antara Tuan Zidane dan Gea.
__ADS_1
Terkadang memang mengikhlaskan sesuatu itu sulit tetapi seiring berjalannya waktu akan menjadi terbiasa bahkan ada yang tidak butuh waktu lama untuk menemukan sebuah gantinya demi keberlangsungan hidup ini.
Sekian