
Mendapati Gea sudah rapi di jam 3.00 sore tentu saja batin Mbak Ranti bertanya-tanya. Tidak biasanya Gea berdandan terlebih sore begini, jika sudah selesai mengerjakan tugasnya tinggal menunggu waktu untuk makan malam. Biasanya gadis berusia sekitar 22 tahun itu mengerjakan tugas kuliah di sela-sela waktu istirahatnya.
"Gea, tumben kamu rapi sekali mau ke mana?" Mbak Ranti melihat penampilan Gea begitu berbeda dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Dengan mengenakan setelan outfit panjang dipadukan dengan rambutnya yang tergerai bebas berwarna agak kepirangan serta wajahnya yang semakin cantik padahal Gea jarang sekali menggunakan skin care tetapi tetap saja terlihat inner beautynya terpancar dari dalam. Sampai-sampai Mbak Ranti melongo melihat penampilan Gea yang berbeda 180 derajat ketika di rumah maupun saat kuliah dan sekarang entah hendak pergi ke mana, berpenampilan begitu rapi dan wangi.
Rupanya parfum yang dikenakan oleh Gea saat ini adalah parfum pemberian dari Tuan Zidanenbeberapa waktu yang lalu. Katanya itu adalah parfum mahal tetapi bagi dia parfum itu sama saja asal bisa memberikan keharuman pada tubuhnya maka dia juga akan suka tanpa harus menengok kemasan apalagi harga. Terkadang sebagai seorang yang berasal dari kalangan menengah ke bawah dalam memilih parfum dia tentu saja mempertimbangkan harganya.
Pertama kali membeli parfum Gea hanyalah seharga 7.000 rupiah dan baunya sangat enak bahkan tidak memberikan terkesan mencolok.
Baru saja melangkah sekitar 5 langkah Nyonya Ami sudah berdiri di depan kamar Gea dengan tatapan mencibir. Aroma parfum mahal itu pun tercium di indra penciuman Nyonya Ami dan menusuk-nusuk saraf hidupnya hingga sampai mengirimkan sinyal ke otak dan otak pun segera bekerja untuk menerjemahkan apa yang digunakan oleh Gea saat ini.
Dalam sekejap saja nyonya Amin langsung hafal itu adalah parfum kesukaan Tuan Zidane jadi tidak salah lagi jika Gea memang memiliki hubungan dengan Tuan Zidane. Sekarang semuanya semakin jelas.
"Masih ada apa lagi, Nyonya?" tanya Gea mengerutkan keningnya, malu ketahuan majikan jika akan keluar. Bila para pelayan yang lainnya ini sudah merupakan hal biasa karena selagi mereka beres menjalankan tugasnya dibebaskan ke mana saja asal memiliki aturan.
"Kamu mau pergi ke mana hari ini?" Tidak ada tatapan bersahabat di dalam mata Nyonya Ami semuanya penuh dengan kebencian dan keburukan tentang Gea.
"Saya akan keluar menemui teman saya sebentar saja, Nyonya," kata Gea memang sengaja berbohong daripada jujur nanti akan menjadi sebuah masalah yang besar.
"Teman kamu yang mana ya?"
__ADS_1
"Teman kampus saya masih ada tugas untuk yang belum saya kerjakan." Meski mengalami ketakutan yang luar biasa karena terus menerus berbohong, Nyonya Ami menatap seperti mengejek Gea.
"Sebelum kamu pergi ikut saya ke ruangan dulu sebentar," kata Nyonya Ami dengan muka yang serius tanpa ekspresi.
Tanpa menolak maupun mengiyakan permintaan tersebut, dia langsung mengikuti Nyonya Ami dari belakang. Hatinya berdesir cukup kencang karena Gea berpikiran jika Nyonya Ami bakal menceramahi dirinya.
Kriet…
Pintu ruang kerja Nyonya Ami terbuka Gea pun ikut masuk ke dalamnya.
"Gea, agaknya kamu salah berhadapan dengan siapa." Nyonya Ami melipat tangannya sambil memiringkan kepala menatap Gea.
"Maaf Nyonya, maksudnya apa ya?"
"Saya pelayan di rumah ini, Nyonya."
"Bagus jika kamu menyadari posisi kamu di rumah ini. sekarang saya ingin bertanya sekali lagi kepada kamu?" Dia menundukkan pandangan, hari-harinya pun terasa lebih sulit daripada kemarin.
"Pantaskah seorang pelayan berpacaran dengan tuan rumahnya?" Nada bicara nNyonya Ami memang terdengar sangat lembut tetapi penuh dengan tekanan.
__ADS_1
"Maaf Nyonya jika saya lancang, tetapi bukankah cinta dan kasta itu berbeda?" Meski berani menjawab tetapi dia merasakan keringat dingin mengucur di punggungnya bahkan mungkin pakaiannya saat ini bagian belakang basah.
"Kamu mencoba menggurui saya?" Nyonya Ami menatap tajam Gea merasa dirinya direndahkan oleh anak ingusan macam Gea.
"Tidak nyonya sama sekali saya tidak menggurui anda tetapi saya juga mencintai Tuan Zidane."
"Heheh, kamu ini masih muda sudah berlagak seperti orang yang sudah berpengalaman di bidang percintaan. Tahukah kamu Gea jika Tuan Zidane, anakku itu apakah pantas harus bersama kamu? Apakah kamu kira aku akan merestui hubungan kalian?" Gea mencoba menelan saliva yang terasa begitu tercekat karena mendadak tenggorokannya terasa sakit sekali. Dia mencoba mengepalkan tangannya agar matanya tidak keluar air karena menangis di depan Nyonya Ami tentu akan lebih mempermalukan dirinya sendiri.
"Sekali lagi maafkan saya jika saya salah, Nyonya, saya sama sekali tidak ingin hubungan antara nyonya dan Tuan Zidane menjadi memburuk karena hubungan kami berdua, saya bahagia jika Tuan Zidane dan Nyonya dapat seperti dahulu. Saya sudah menyadari sejak awal jika Nyonya tidak akan pernah setuju dengan hubungan saya terhadap Tuan Zidane."
"Mulai sekarang saya minta kamu putuskan hubunganmu dengan anak saya."
"Saya belum bisa menjawabnya sekarang, Nyonya." Ini terlalu sulit bagi Gea. Baginya Tuhan sedan adalah cinta pertama Gea satu-satunya lelaki yang mampu membuka hati Gea, tetapi harus terhalang restu orang tua dan juga kasta mereka berbeda. Gea hanya ditakdirkan menjadi seorang pelayan, sedang Zidane ditakdirkan untuk menjadi tuan muda. Jarak mereka sangat jauh bagaikan langit dan bumi.
"Saya beri waktu kamu berpikir selama 2 X 24 jam dari sekarang dan ingat sekali lagi jangan pernah memberitahukan hal ini kepada Zidan karena jika kamu memberitahu maka keluargamu yang akan menjadi taruhannya." Nyonya Ami menjentikkan jarinya sebagai isyarat agar Gea segera keluar dari ruangan tersebut. Bila sudah menyangkut tentang keluarga maka dia akan memikirkan hubungannya dengan Tuan Zidane sekali lagi.
*
Pertemuan kali ini merupakan pertemuan yang sangat diidamkan oleh Tuan Zidane tetapi ternyata khayalan tidak sesuai dengan kenyataan. Mereka memang jadi bertemu di taman tetapi sikap Gea berubah menjadi pendiam bahkan untuk sekedar mengobrol saja agaknya Gea enggan membuka mulut.
__ADS_1
"Gea, apakah kamu sedang sakit?" Dia hanya menggeleng menatap lurus ke depan sana terlihat ada seorang pemuda dan pemudi berpacaran dengan sangat mesra dalam hati pun Gea ingin seperti itu. Andai saja tadi sebelum berangkat Nyonya Ami tidak memanggilnya ke ruangan pasti mood Gea tidak akan sehancur ini.
"Gea, kenapa sih kamu tiba-tiba berubah kepadaku?" Iya tidak langsung menjawab tetapi menatap Tuan Zidane dengan dalam seolah Tuan Zidane sudah tahu bagian apakah yang akan dijawab oleh Gea.