
Gea pun menoleh ke belakang dia hafal dengan suara tuan Zidane.
"Maaf, Tuan memanggilku?" Secepat kilat dia langsung mengangkat kakinya dan menghadap Tuhan sidat tetapi entah kemalangan apa yang menimpa dirinya di saat bersamaan kaki yang satunya terpeleset sehingga Gea pun hampir tercebur masuk ke dalam kolam tetapi dengan sikap tangan Tuan Zidane menahan lengan kanan Gea. Entah karena keseimbangannya kurang atau karena di bibir kolam licin keduanya pun malah tercebur bersamaan ke dalam kolam.
Gea langsung merasa panik karena selama ini dia tidak bisa berenang. Berbeda dengan tuan Zidan yang begitu mahir dalam olahraga air ini. jel langsung berpegangan erat pada tubuh tuan Zidan saking takutnya akan tenggelam padahal itu semua hanya dipikiran Gea. Kolam ini hanya tingginya sekitar satu setengah meter dan tidak mungkin dia yang memiliki tinggi sekitar 155 sentimeter dengan mudahnya akan tenggelam dan mati konyol di dasar kolam renang.
"Ya Allah, Tuan aku takut!" teriak Gea di tengah keheningan malam. Gea semakin erat memeluk Tuan Zidane, ia sudah tidak peduli lagi jika yang dipelukan adalah bos.
Dada Tuan Zidane pun berdetak kencang ketika Gea menempelkan tubuhnya. Dia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari gadis yang tengah dipeluknya saat ini.
"Tidak, tidak mungkin aku jatuh cinta kepadanya," kata Tuan Zidane dalam hati.
Memang dia sudah merasa tertarik kepada dia tetapi bukan berarti tertarik itu adalah cinta begitulah dalam pikiran Tuan Zidane.
Tuan Zidane pun berjalan menuju ke pinggir tetapi bukannya dia tenang malah semakin berteriak.
"Tuan!! Aku takut tenggelam!"
"Gea, diamlah ini malam hari, jangan membuat kekacauan tengah malam seperti ini." Tuan Zidan membopong tubuh Gea hendak membawanya ke pinggir. Gea memejamkan mata sambil tangannya terus memeluk leher tuanya. Dari keremangan malam dibantu oleh sinar bulan dan sinar lampu yang berada di samping kolam, Tuan Zidane bisa melihat bagaimana wajah Gea saat ini. Meski sedang ketakutan tetapi gadis itu terlihat sangat lucu dan menggemaskan bagi Tuan Zidane. Tanpa sadar dia menatap Gea untuk beberapa saat namun dia tentu saja tidak tahu karena dia memejamkan mata dari tadi akibat takut tenggelam.
Tuan Zidane pun mulai terpana dengan bibir Gea yang berkomit-amit merapalkan sebuah doa. Dia menelan salivanya dan hasrat lelakinya hanya mulai timbul. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Gea hingga mendengar deru nafas gadis yang dibopongnya saat ini.
Tanpa bisa diprediksi sebelumnya, Tuan Zidane langsung menempelkan bibirnya ke bibir Gea. Mata Gea langsung membuka sempurna saat kulit bibir mereka saling bersentuhan. Tidak percaya dengan kenyataan yang terpampang jelas di depan matanya. Merasa tidak ada perlawanan dari Gea, Tuan Zidane pun mencoba untuk melu-mat sedikit bibir Gea.
__ADS_1
Gea cukup terkejut dengan perlakuan Tuan Zidane malam ini. Secara tiba-tiba dia berani menci_um bibirnya tanpa permisi. Dalam hati Gea ingin sekali menolak tetapi bibirnya berkata lain.
Terjadilah malam itu suasana yang romantis di tengah kolam renang dan bulan sebagai saksinya.
Tuan Zidane melahap bibir Gea cukup lama hingga Gea menepuk dada Tuan Zidane untuk melepaskan kec-upannya saat itu juga. Merasa ada kode dari Gea, Tuan Zidane langsung paham.
Gea langsung meraup udara sepuasnya ketika tuan Zidane melepaskan ci-umannya. Dia merasa bebas bernafas.
Bisa dikatakan ini adalah pengalaman pertama bagi dia tetapi tidak bagi tuan Zidane.
*
"Tunggu saja disini, aku akan mengambilkan handuk dahulu," kata Tuan Zidane meninggalkan Gea sendirian di tepi kolam. Ia duduk di kursi dekat kolam.
Sepeninggal Tuhan Zidane masuk ke rumah dia langsung memegangi bibirnya. Dia terus meraba-raba bibirnya.
Di kamarnya Tuan Zidane mencoba melihat bibirnya di cermin apakah meninggalkan bekas di sana atau tidak.
"Ah, beneran gadis yang polos," kata Tuan Zidane tertawa meraba bibirnya sedikit jontor akibat ulah Gea.
Tuan Zidane segera memberikan handuk untuk Gea yang tengah merasa kedinginan karena ini tengah malam. Gigi Gea masih bergemeletuk menahan hawa dingin merasuki dirinya.
"Gantilah, aku akan membuatkanmu minuman hangat." Bagai kerbau dicucuk hidungnya, Gea mengangguk dan berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Gea, apa kamu akan ke kamarmu?"
"Iya Tuan, gantiku disana."
"Tidakkah kau merasa khawatir, jika Ranti bangun dan melihatmu kondisi basah kuyup begini?" Gea mulai mempertimbangkan ucapan Zidane.
Setelah berapa lama berpikir, dia pun akhirnya menuruti saran tuan sidang untuk berganti di kamar tuannya saja karena jika Mbak Ranti sampai tahu maka akan terjadi sebuah pertanyaan besar di dalam benak Ranti dan itu pasti akan berdampak kepada pekerjaan Gea selanjutnya karena dia tahu jika Mbak Ranti adalah mata-mata dari mamanya tuan Zidane.
Gea membuka kamar mandi tuan Zidane dengan canggung.
"Masuklah, tapi aku tidak memiliki ganti baju wanita," kata Tuan Zidane menyerahkan kaos polo dan celana boxernya. Yang penting Gea tidak kedinginan terlebih dahulu.
Saat Gea berganti baju, Tuan Zidane menuju ke dapur membuatkan sisi jahe untuk Gea. Dia sangat mahir membuat minuman hangat.
Sekarang sudah jam 12 malam, banyak sekali pekerjaan Tuan Zidane yang belum selesai karena terhalang oleh malam ini bersama Gea. Melihat Gea memakai bajunya, Tuan Zidane melihat Gea semakin cantik apalagi rambutnya basah.
Perlahan Tuan Zidane mendekati Gea kembali yang baru keluar dari kamar mandi. Tentu saja secara reflek Gea memundurkan langkah namun ternyata baru dia langkah saja ia sudah mepet tembok. Tuan Zidane terus maju hingga tubuhnya dan tubuh Gea menempel tidak ada jarak. Keduanya bisa merasakan degupan jantung masing-masing. Tuan Zidane pun kembali melahap bibir Gea dengan rakusnya. Kali ini Gea tidak mau bodoh, ia mengimbangi permainan Tuan Zidane. Tanpa sadar oa melingkarkan tangannya ke leher Tuan Zidane dan menekan kepala Tuan Zidane agar semakin dalam men-ci-um dirinya. Mereka saling menautkan bibir selama.kuramg lebih lima menit.
"Maafkan aku Gea," ucap Tuan Zidane begitu melepaskan bibirnya.
Gea tidak menjawab karena dia juga bingung harus bagaimana.
"Saya permisi ke kamar saya Tuan," kata Gea langsung meninggalkan kamar Tuan Zidane.
__ADS_1
Malam itu adalah malam yang indah sepanjang dia berada di rumah Tuan Zidane. Sedari tadi dadanya terus berdetak cepat. Ingin sekali memejamkan mata tetapi tidak bisa.
"Apakah Tuan Zidane mencintaiku?" Hatinya terus menerus membayangkan hal yang berada di kamar Tuan Zidane maupun di kolam renang.