Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Hidup Baru Part 2


__ADS_3

Setelah pelayan itu pergi dari hadapannya. Tuan Zidane segera menuju ke kamar Gea di mana dia bisa tahu kenyataannya bila Gea berada di kamar atau tidak.


"Maaf Tuan mau ke mana?" tanya Mbak Ranti tiba-tiba muncul dari depan dapur.


"Oh ya Mbak Ranti, tahu Gea di mana?" Sekarang tuan sidang tidak perlu lagi menutupi hubungannya dengan dia karena selain dia ingin mengakui jika Gea adalah kekasihnya kekasihnya dia juga ingin membuat Gea merasa nyaman di rumah ini.


Mbak Ranti tidak langsung menjawab pertanyaan Tuan Zidane tetapi dia menunduk memandangi ubin kamar tersebut barulah kemudian dia berbicara.


"Maaf Tuan, dia sebenarnya sudah pergi dari rumah ini."


"Mbak, ini masih pagi loh nggak usah ngeprank saya ya." Tuan Zidane sama sekali tidak percaya dengan ucapan Mbak Ranti, mana mungkin Gea akan keluar tanpa berpamitan dengannya lagi pula apa masalahnya keluar hanya karena dimarahi oleh mamanya, Gea dengan begitu mudah keluar dari rumah ini padahal mencari pekerjaan di luar sana sangatlah sulit.


"Nggak mungkin Mbak, kapan dia keluar dari sini?" Tuan Zidane sama sekali belum percaya dengan ucapan Mbak Ranti bila Gea sudah pergi dari rumah ini.


"Benar Tuan, saya tidak berbohong,buat apa saya berbohong jika Gea memang sudah pergi dari rumah ini semalam." Mbak Ranti berbicara dengan nada yang sangat meyakinkan hingga Tuan Zidane pun melengong dibuatnya.


"Jadi beneran Gea pergi dari rumah ini ?" Mbak Ranti mengangguk kemudian seperti ada kesedihan yang menyelimuti hatinya. Tuan Zidane tanpa berpamitan langsung meninggalkan Mbak Ranti di depan kamar Gea. Dia akan sekali jika mamanya pasti dalang dibalik semuanya ini.


"Mama!" teriak Tuan Zidane di depan pintu kamar sama mama.


"Kenapa Zidane?" Dengan santainya Nyonya Ami menghampiri Tuan Zidan yang tengah berdiri di depan kamarnya.


"Mama pasti yang telah mengusir Gea dari rumah ini?"


"Kamu menuduh Mama?" Nyonya Ami tampak tidak senang jika putranya menuduh sembarangan.


"Bukankah itu fakta?"


"Kamu ada buktinya?" Masih saja Nyonya Ami mengelak jika Dian telah mengusir dia dari rumah.


"Lalu siapa lagi kalau yang berkuasa di rumah ini selain Mama!" Tuan Zidane berbicara dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Kamu selalu omong kosong saja, Zidane." Nyonya Ami melangkahkan kaki meninggalkan situasi dan di sana sendiri.


"Mama berhenti dulu," titah Tuan Zidane dengan tenang dan nada yang datar.


"Iya Mama yang mengusir Gea dari rumah ini Zidane." Nyonya Ami tanpa menoleh arah kepada Zidane.


"Kenapa Mama begitu tega dengan Gea?"


"Mama memang harus melakukan semua ini demi kamu dan keluarga kita, Zidane."


"Bukan itu, tapi karena Mama egois."


"Terserah kamu mau bilang apa yang jelas sekarang kamu dan dia harus putus bahkan kalian tidak boleh bertemu lagi." Kali ini ancaman yang disampaikan oleh Nyonya Ami seolah-olah menjadi sebuah kenyataan bukan hanya omong kosong belaka.


*


Di tempat kost yang baru dia sudah bangun terlebih dahulu daripada ibu dan juga Nando. Dia memeriksa amplop sebagai pesangon dari rumah tuan Zidan kemarin.


"Jika uang ini digunakan untuk modal di kampung pasti cukup tapi kalau di sini kehidupan akan seperti ini terus," kata Gea bermonolog dengan dirinya sendiri.


Sedang asyik melamun Bu Ranti akhirnya terbangun.


"Gea, kamu dari semalam tidak tidur?"


"Gea udah bangun kok Bu." Memang benar semalam dia tidak bisa tidur dan untuk mengusir rasa jenuhnya pagi ini Gea mencoba mencari sarapan untuk mereka bertiga.


Sarapan yang dibeli Gea cukup sederhana hanyalah nasi dengan telur dan tempe orek saja itu sudah cukup. Sembari menunggu ibunya beraktivitas di kamar mandi dia membatasi pakaian yang sempat di bawa kemarin.


Hari ini Nando libur sekolah dulu karena jarak sekolah dengan kosan mereka saat ini cukup jauh, mungkin nanti dia akan mengurus surat pindahan Nando saja.


Gea dan ibunya duduk di depan pintu kos-kosan mereka.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita memulai hidup baru di kampung, Bu?" Gea menatap ibunya dengan penuh kasih sayang. Raga itu semakin tua matanya pun cekung karena banyak begadang menyelesaikan pesanan baik itu kue maupun laundry.


"Jika kita di kampung apakah kamu memiliki modal?" Ya kemudian mengeluarkan amplop pemberian n


Nyonya Ami semalam.


"Semalam aku dapat pesanan dari Nyonya."


"Jadi kamu berhenti bekerja dari rumah itu?" Gea menggangguk.


"Aku ingin fokus dengan Ibu dan Nando dahulu karena jika tidak aku tidak tenang terus di sana." Demi menjaga ketentraman hati ibunya, dia rela berbohong bahwa dirinya sebenarnya dipecat dari rumah Tuan Zidane.


Bu Ranti memeluk giat dengan erat karena dia merasa sangat beruntung memiliki anak sulung seperti Gea yang mau mengerti keadaannya di saat sulit seperti ini.


"Jika ibu setuju hari ini aku akan mengurus surat kepindahan Nando dan besok kita akan segera pergi ke kampung, tapi sepertinya Gea tidak bisa ikut dulu."


"Iya, tidak masalah Gea kamu di sini juga harus kuliah, Ibu hidup di kampung mungkin juga bisa bekerja di kampung."


Panas terik begini tetapi tidak menyurutkan niat Gea untuk mengurus kepindahan Nando secepatnya dari sekolah itu. Tidak perlu menunggu waktu hanya sekitar 1 jam setelah dia datang surat kepindahan pun selesai diurus. Ini saatnya Gea untuk pulang.


Meski Gea tidak memiliki uang lebih tetapi dia memilih untuk memesan taksi online daripada harus naik angkot. Pengalaman terdahulu memberikan pelajaran yang begitu bermakna sampai sebuah trauma untuk menaiki angkot. Untuk segi keamanan mungkin lebih baik menggunakan taksi online saja.


Itu juga Julia dan keluarganya berangkat menuju ke kampung dengan bus. Ada tangis sedih karena berpisah dengan ibunya tetapi dia harus kuat karena dia menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu barulah akan menyusul ibunya untuk pulang kampung.


"Kak, nanti kalau kangen jangan lupa telepon Nando ya." Gea mengangguk dan mengusap kepala Nando.


"Mana mungkin Mbak lupa dengan adik sendiri." Meski begitu Gea tetap akan mengantarkan ibunya terlebih dahulu ke kampung kemudian kembali lagi ke kota karena tidak tega jika membiarkan mereka berdua untuk pulang sendiri.


Dengan membawa oleh-oleh yang dirasa cukup untuk keluarga di sana sekarang tinggal menuju busnya saja yang datang. Gea memang sengaja memblokir semua aksesnya dengan Tuan Zidane. Termasuk nomor Tuan Zidane sengaja dia hapus.


Akhirnya bus pun datang, Gea segera naik mencari tempat duduk di dalam bus tersebut tidak lupa diikuti oleh Nando dan juga ibunya.

__ADS_1


__ADS_2