Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Malam itu tuan Zidane tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya terus melayang kepada Gea.


"Ah, benarkah aku tadi melakukannya?" tanyanya kepada dirinya sendiri. Tuan Zidan pun berdiri dan menyugar rambutnya ke belakang. Ia tidak menyangka jika dirinya akan berani menyentuh Gea seperti itu bahkan sebelumnya mereka sangat berjarak tetapi tidak bagi tuan Zidane, sejak pertama kali melihat wajah gaya dia sudah merasakan ada getaran-getaran harus di dalam hatinya tetapi sebagai seorang bos maka tuan Zidane tidak begitu memperdulikan perasaan itu.


Hingga di suatu saat dia menjadi seorang pembicara di kampus Gea dan kebetulan dia duduk di depan. Tentu hal ini menjadi kesempatan bagi Tuan Zidane untuk mendekati asistennya tersebut.


Hingga jam dinding menunjukkan pukul 03.00 dini hari tuan Zidan belum bisa memejamkan matanya sama sekali. Entah bagaimana dengan perasaannya kali ini, dia sendiri tidak bisa mengartikan akan suasana hatinya saat ini.


Di kamar lain Gea pun juga sama dia tidak bisa tidur semalaman bahkan hingga menjelang waktu subuh dan sudah terdengar adzan berkumandang di masjid dekat rumahnya gaya pun belum bisa untuk mengistirahatkan matanya walau hanya sejenak.


Tempat pukul 05.00 pagi Gea bangun, matanya terlihat sangat lesu karena memang semalam sama sekali tidak bisa tidur.


"Gea, kamu semalam tidur jam berapa?" tanya Mbak Ranti memperhatikan mata Gea yang terlihat kekurangan tidur.


"Nggak tahu," jawab Gea sambil menguap matanya terasa begitu berat tetapi sekarang sudah memasuki jam kerja maka mau tak mau Gea harus turun tangan membantu Mbak Ranti memasak.


Mendadak ia pun menjadi pusing.


"Mbak, kok berputar semua?" Dia pun memegangi kepalanya seakan bumi ini berputar dia merasa begitu pusing dan memejamkan matanya dengan tujuan supaya rasa pusingnya bisa sedikit hilang. Namun ternyata salah, sakit di kepala dia semakin menjadi-jadi beberapa kali dia mencoba membuka matanya tetapi setelah itu pandangannya berubah menjadi gelap.


Mbak Ranti panik mendapati Gea pingsan di samping pintu masuk dapur. Apalagi jam sekarang pasti belum ada yang bangun. Dengan mimik wajah ketakutan Mbak Ranti pun berlari kepada satpam yang selalu standby di depan rumah Tuan Zidane dia ingin meminta bantuan kepada satpam tersebut untuk mengangkat tubuh Gea ke kamar.


"Pak, tolongin saya!" teriak Mbak Ranti sambil lari tergopoh-gopoh menemui satpam tersebut.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Itu Gea pingsan." Begitu mendengar bila Gea pingsan, satpam segera berlari mengikuti Mbak Ranti ke dapur.


Tuan Zidane sudah bangun, hanya mengenakan celana boxer dan mengambil air putih di dapur. Namun ia mengurungkan niatnya sebentar karena mendengar Mbak Ranti dan satpam saling berbicara.


"Ada apa ini?" tanya Tuan Zidane menatap Mbak Ranti yang sedang gusar.


"Ini Tuan, tiba-tiba saja Gea tadi pingsan." Tuan Zidan langsung menghentikan kegiatannya menenggak air putih tumbler yang sudah ja bawanya dari kamar.


"Sudah, bawa ke rumah sakit saja kalau begitu," saran tuan Sidan agar membawa Gea ke rumah sakit. Dia sebenarnya takut jika ada masalah kesehatan sejak kemarin Gea terjatuh ke kolam renang dan dia malah menahannya begitu lama. Tuhan Zidan merasa sangat bersalah jika benar Gea memiliki penyakit yang berhubungan dengan air serta udara dingin. Sungguh dia bukan pria yang patut dimaafkan jika hal ini terjadi lagi kepada Gea.


Dengan cepat Tuan Zidane pun berganti pakaian mengenakan jeans panjang tapi tidak mengganti kaosnya karena waktu sudah mepet dan terburu-buru.


"Apakah tuan yakin akan membawa kiat rumah sakit sendirian?" tanya Mbak Ranti menyelidiki.


"Iya, aku akan membawa dia ke rumah sakit hari ini juga dan kamu jangan lupa tugasmu di rumah ini serta pak satpam menjaga keamanan di rumah ini." Tegas Tuan Zidane sebelum menjalankan mobilnya meninggalkan rumah untuk ke rumah sakit demi pengobatan Gea.


Sengaja dia dituduhkan kursi belakang agar tidak jatuh saat dibawa oleh tuhan sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Situasidah tidak lepas begitu saja ia terus mengawasi kondisi Gea hingga gadis itu benar-benar pulih.


"Maafkan aku, Gea, seharusnya aku tidak melakukan hal ini lagi kepadamu," sesal Tuan Zidsne ingin mengembalikan waktu agar dia bisa kembali sehat.


Sampailah mereka berdua di sebuah rumah sakit yang terkenal di kota itu begitu. Tuan Zidane sampai di sana ia tidak langsung mencari parkiran tetapi menghentikan mobilnya di dekat ruang resepsionis tanpa berbasa-basi Tuan Zidane pun segera turun dan langsung menuju ke meja resepsionis agar segera menangani Gea yang tiba-tiba pingsan.

__ADS_1


Beberapa perawat sudah siap sedia memindahkan Gea dari mobil menuju ke ruang gawat darurat. Untuk melihat pengobatan lebih lanjut, Taun Zidane pun ikut masuk menemani Gea diperiksa kesehatannya.


"Maaf, apakah Anda keluarganya?" tanya dokter sambil memeriksa dada Gea dengan stetoskop. Tentu saja Tuan Zidane sedikit bingung dengan jawaban yang harus diberikan jika saat ini Gea memang bekerja dengannya.


"Dia calon istri saya." Mulut Tuan Zidane langsung menjawab demikian. Entah apa sebabnya dia bisa menjawab demikian.


"Baiklah, akan kami tes di laboratorium dahulu, ada apa dengan calon istri Anda." Dokter itu tampak tersenyum sekilas memandang Tuan Zidane.


Sambil menunggu hasil lab Gea keluar, tuan Zidane terus berada di samping Gea hingga wanita itu membuka matanya.


"Tuan Zidane," ucap Gea lemah. Dengan sigap Tuan Zidane yang tadi posisinya menyembunyikan kepalanya di antara tangan langsung berdiri ketika mendengar Gea menyebut namanya.


"Gea, kamu sudah sadar?" Ia mengangguk dan memaksakan tersenyum meski bibirnya terlihat pucat.


"Tuan, aku harus dibawa ke rumah sakit protes Gea sebenarnya dia sangat takut dengan rumah sakit. Sejak kecil Gea jarang sekali menginjak yang namanya rumah sakit bahkan dia pernah memiliki pengalaman ketika akan disuntik dokter Gea kecil malah menggigit tangan dokter tersebut dan menendangnya hingga dokter tersebut kepalanya terbentur dengan kursi. Setelah itu Gea langsung berlari saking ketakutan keluar dari rumah sakit.


Melihat ada ketakutan terekam di wajah Gea, Tuan Zidane pun berusaha untuk menenangkan asistennya tersebut.


"Kamu disini akan baik-baik saja," kata Tuan Zidane menggenggam tangan Gea dengan erat. Gea memandang Tuan Zidane kemudian beralih ke tangan yang digenggam oleh tuannya.


"Maaf, aku hanya tidak ingin melihatmu cuma seperti itu." Sejenak suasana di ruang IGD itu menjadi hening.


"Pasien atas nama Gea di mohon walinya mendatangi dokter." Seorang perawat berdiri di dekat tuan Zidan yang sedang duduk.

__ADS_1


"Baik, terima kasih, Sus." Tuan Zidane pun beranjak dari tempat duduknya dan tersenyum kepada Gea.


__ADS_2