
Tuan Zidane menunduk mendengarkan penjelasan dari dokter. Beberapa kali ia pun menanyakan keadaan Gea.
"Calon istri anda memang keadaannya kurang baik mungkin dia mengalami kelelahan yang luar biasa bisa jadi dia juga mengalami stress pikiran." Tuan Zidane pun mengangguk mendengarkan penjelasan dari dokter. Dia memang tidak mengetahui secara utuh bagaimana kisah kia sebelumnya tetapi dia juga pernah mengantarkan dia pulang dan kelihatannya Gea memang sebagai tulang punggung keluarga sekaligus dia masih menempuh pendidikan perguruan tinggi. Pikiran Tuan Zidane pun langsung melayang, membayangkan betapa lelahnya menjadi Gea yang harus pandai mengatur waktu dan mengatur keuangan tentunya. Dengan bekerja di rumahnya dia merasa gajinya cukup kecil.
"Terima kasih dokter atas penjelasan Anda." Setelah mendapat kejelasan tentang penyakit yang diderita oleh Gea, tuan Zidane langsung keluar menuju ke kamar inap Gea.
Sengaja Tuhan Zidan memilihkan kamar yang berfasilitas lengkap untuk asistennya. Sebenarnya dari pihak koordinator pelayan di rumah Tuhan sidang setiap pelayan yang mengalami sakit sudah di cover oleh asuransi tetapi Gea ini berbeda karena tuan Zidane yang meminta agar perawatan rumah sakit kali ini menggunakan jaminan dirinya.
Sesampainya di kamar tuan Zidane perlahan membuka pintunya. Terlihat Gea sedang tertidur pulas di atas ranjang. Tuansi dan pun tidak mau mengganggu Gea agar nyenyak beristirahat apalagi saran dokter, untuk beberapa hari ini dia tidak boleh melakukan kegiatan yang begitu berat artinya dia harus cuti dari pekerjaannya. Bagi tuan Zidane itu tidak masalah mengizinkan Gea untuk berhenti sebentar sampai kondisi kesehatannya benar-benar pulih.
Beberapa kali ponsel Tuan Zidane pun bergetar tetapi ia enggan mengangkatnya. Sebab dia tahu panggilan itu berasal dari seseorang yang tidak dia inginkan saat ini. Siapa lagi kalau bukan Grace, wanita pilihan mamanya untuk dijadikan calon istri bagi Tuan Zidane. Namun Grace bukanlah wanita tipe Tuan Zidane. Grace adalah seorang yang glamor dan sebenarnya cantik tetapi dia terlalu manja, merupakan anak dari salah satu rekan mamanya.
Mereka memang belum resmi kenal hanya sebatas diperkenalkan oleh kedua orang. Tuan Zidane juga enggan untuk melanjutkan perkenalan tersebut karena dia merasa tidak penting kehadiran Grace di dalam hidupnya. Baginya karir lebih penting daripada pernikahan apalagi seorang wanita.
Meski dikelilingi oleh banyak wanita cantik, kaya dan glamor tetapi entah mengapa hati Tuan Zidane langsung terpaut kepada Gea saat pertama kali bertemu. Mungkin inilah uniknya cinta. Tidak pernah memandang kasta, harta maupun tahta.
Panggilan telepon itu sangat membuat Tuan Zidane merasa terganggu. Tanpa basa-basi ia langsung meraih ponselnya dan menekan tombol power off. Dengan begitu presiden bisa terbebas dari gangguan Grace.
*
Sepanjang hari ini Tuan Zidane sudah menunggu Gea, kini saatnya dia pulang untuk makan malam bersama Merry. Jelas dia tidak ingin mengubah adat kehidupannya bersama dengan Merry, apalagi waktu bertemu dengan Merry hanyalah saat di meja makan saja itu pun pada waktu malam hari. Jika di pagi hari dia sudah tidak sempat sarapan jikalau sempat hanya menyeruput susu dan langsung berangkat ke kantor.
__ADS_1
Presiden mengendarai mobilnya menuju ke rumah dan meninggalkan Gea sendirian. Sejujurnya dalam hati, Gea merasa sangat takut berada di rumah sakit sendiri tetapi ia juga tidak ingin membuat Tuan Zidan repot harus menunggunya sepanjang hari.
"Selamat malam, Nona Gea, saya akan mengecek kondisi Anda terlebih dahulu," kata suster berlesung pipi memamerkan senyum termanisnya membuat Gean merasa sedikit nyaman dengan kondisi rumah sakit.
"Silahkan."
*
Begitu sampai di rumah Tuan Zidane langsung melirik arlojinya ternyata jam 07.00 masih kurang 5 menit artinya dia belum telat sampai di rumah. Tidak lama kemudian tuan Zidane pun masuk disusul dengan Merry yang ternyata baru bangun tidur.
"Astaga, kamu baru bangun tidur, Dek?" tanya Tuan Zidane dengan ramah menatap adiknya yang masih muka bantal.
"Iya, Kak, sehabis pulang dari les piano aku merasa lelah sekali jadinya aku tertidur malah kebablasan." Presiden pun tersenyum mengangguk artinya alasan adiknya kali ini bisa diterima oleh akal. Menjadi Merry sangatlah melelahkan. Dari jam 07.00 hingga jam 16.00 harus belajar di sekolah setelah itu dilanjutkan dengan berbagai les setiap harinya yang berbeda-beda. Sebenarnya tuan sidang sudah memperingatkan kepada mamanya agar tidak memasukkan Merry ke berbagai les dan fokus dengan satu bidang saja tetapi rupanya pandangan mamanya ternyata berbeda.
"Iya, Kak, Merry inginnya seperti itu tapi bila ketahuan Mama, Merry takut Mama pasti marah." Tuan Zidane menghela nafas. Dia pernah mencoba memberikan saran kepada mamanya tetapi tetap saja tidak bisa diterima. Mungkin nanti dia akan mencobanya sekali lagi demi kesehatan mental Merry.
"Aku dari tadi kok tidak melihat Mbak Gea?" Merry celingukan.
"Dia sakit." Tuan Zidan menjawab tanpa menoleh adiknya. Dia malah sibuk mengunyah ayam goreng buatan Mbak Ranti.
"Kok Kakak tahu?" Gadis berusia 17 tahun itu mengejutkan bibirnya kepada Tuan Zidane.
__ADS_1
"Ya, Kakak tadi menunggunya di sana."
"What??" Mata Merry hampir keluar dari tempatnya mendengar penuturan dari tuan sidang jika dirinya tadi menunggu Gea sepanjang hari di rumah sakit.
"Kenapa? ada yang salah?" Tuan Zidane mengerutkan keningnya.
"No, tapi memang ada yang salah sedikit." Merry menganggukan kepala dan menggaruk alisnya yang terasa tidak gatal tetapi ini aneh jika Tuan Zidane sampai menunggui Gea rumah sakit seharian. Ini tidak lazim.
"Apa?"
"Kakak beneran menunggu Mbak Gea atau ketemuan sama Grace itu?" Merry mengerlingkan matanya sebelah menggoda kakaknya yang sudah dijodohkan dengan Grace.
"Huh, ngawur kamu, Kakak tidak mau dengan dia."
"Makanya kalau nggak mau, cari calon sendiri, dan dibawa pulang, dikenalkan ke mama biar mama tidak memburu-buru Kakak untuk menikah terus menerus." Merry berbicara kurang jelas karena sambil mengunyah nasi yang tinggal satu suapan lagi.
"Kau pikir cari calon itu semudah beli es krim di setiap swalayan pasti ada?" Tuan Zidane menggeleng dengan pendapat adanya yang masih terlalu dangkal untuk mengetahui masalah percintaan orang dewasa.
"Lho asalkan satu visi misi pasti yo jadi." Merry masih belum mau kalah dari abangnya.
"Iyain aja deh, daripada kamunya ngambek." Tuan Zidane menoel bahu Merry seraya meninggalkan adiknya sendirian di ruang makan karena dia sudah selesai terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kok aku ditinggal," protes Merry mencomot satu paha ayam yang masih tersisa, tidak lupa mencocolkan paha ke sambal instan. Merry pun berlari mengikuti Kakaknya ke ruang keluarga.