Lepaskan Aku, Tuan Muda!

Lepaskan Aku, Tuan Muda!
Grace yang Keras Kepala


__ADS_3

Grace sedari tadi memandangi Tuan Zidane sedang asyik bermain dengan ponselnya merasa terabaikan oleh pria tampan tersebut.


"Zidane, apa kau tidak menganggapku ada?" tanya Grace dengan menyeruput minuman di depannya atap tuan Zidane yang masih sibuk dengan ponselnya. Dengan cuek Tuan Zidane pun meletakkan ponsel kemudian ikut meminum air putih berkata apapun kepada Grace. Tak berapa lama handphone milik Tuan Zidane pun berdering kembali. Grace pun menjadi penasaran siapakah yang sedang menelpon Tuan Zidane di saat mereka makan siang secara berdua seperti ini. Grace menjadi kesal.


Tuan Zidane langsung mengangkat telepon tanpa menunggu ponsel berdering untuk kedua kalinya. Melihat Gea melakukan panggilan video call membuat Tuan Zidane semakin bahagia.


"Hai," sapa Tuan Zidane seolah tidak ada siapapun saat ini di hadapan dirinya. Gea mengerutkan kening.


"Kamu lagi sama siapa?" Gea mulai nyerocos, feeling cewek memang selalu tajam dan memang saat ini tidak bisa dipungkiri jika Tuan Zidane bersama dengan Grace.


"Sendiri," jawab Tuan Zidane berbohong setidaknya ia mencoba untuk berbohong kepada Gea ingin mengetes kepekaan Gea.


"Yakin cuma sendiri aja?" Tuhan Zidan pun kembali menganggukkan kepalanya dan langsung mengacungkan jempol tangan pertanda jawaban Gea memang benar dia sendiri.


"Sudah kubilang, jangan berbohong!" Gea sudah mulai merajuk ketika Tuan Zidane tidak menjawab dengan jujur.


"Sudah ya, Sayang nanti aku telepon lagi, agaknya aku harus segera kembali ke kantor."


"Oke deh, maaf udah ganggu," jawab kiatus kemudian menekan tombol merah dan telepon pun terputus. Ingin sekali Tuan Zidane mau ngobrol panjang lebar dengan Gea tetapi saat ini masih ada Grace di depannya tentu ia tidak nyaman karena hubungannya diketahui oleh orang lain beruntung saja Grace tidak pernah tahu siapakah sosok wanita yang telah mengisi hati Tuan Zidane saat ini.


Grace melirik tajam ke arah Tuan Zidane.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"


"Tentu saja aku cemburu."


"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Tuan Zidane dengan nada mengejek.

__ADS_1


"Tidak, aku memang cemburu." Grace tidak memindahkan pandangannya dari Tuan Zidane.


"Woow, kamu jangan terlalu berani kita baru pertama kali ketemu loh, ups, maaf pertama kali bertemu secara berdua seperti ini."


"Ini sama saja dengan kencan 'kan?" tanya Grace penuh percaya diri.


Pertanyaan Grace yang satu ini sangat konyol terdengar di telinga Tuan Zidane. Bayangkan saja bagaimana mungkin seorang Tuan Muda Zidane jatuh cinta dengan gadis yang berperilaku aneh dan manja seperti Grace.


"Kamu ini terlalu pede atau bagaimana aku saja tidak pernah mengutarakan isi hatiku kepadamu tapi kamu sudah dengan percaya dirinya mengatakan jika cemburu denganku." Tuan Zidane pun tertawa melirik Grace yang mungkin


"Memangnya kenapa aku jatuh cinta denganmu, Zidane?" Grace berbicara dengan nada yang serius.


"Oke, itu semua adalah hakmu tetapi aku mengatakan jika aku tidak tertarik dengan dirimu dan aku mohon pertunangan ini segera dibatalkan."


"Aku tidak setuju." Grace berkata dengan sangat mantap.


"Terserah, aku akan membatalkan semua ini." Setelah berkata demikian, tuan Zidane pun segera angkat kaki dari kafe itu tidak lupa sebelum pergi dia membayar tagih semua tagihannya termasuk apa yang dimakan oleh Grace.


Dengan susah payah Grace berusaha mensejajarkan langkah dengan Tuan Zidan.


"Zidane, kita pulangnya juga jalan kaki?" tanya Grace melihat Tuan Zidane terus berjalan dan tidak berusaha untuk menghentikan taksi atau order ojek online.


"Menurutmu?' malas sekali Tuan Zidane berbicara dengan Grace.


Dari tadi jawaban Tuan Zidane pun terdengar ketus sehingga membuat Grace merasa kesal tetapi ia bukan tipe wanita yang mudah menyerah begitu saja untuk mendapatkan hati Tuan Zidane. Sebab dia sangat yakin sekali jika suatu saat nanti Tuan Zidan pasti akan bersamanya karena kedua orang tua mereka sudah setuju, tinggal menentukan tanggal pertunangan dan pernikahan mereka. Bagi Grace saat ini Tuan Zidane tidak mencintainya juga tidak masalah tetapi cinta itu akan hadir ketika saling bersama dalam waktu yang lama.


"Ayolah Grace, demi masa depan yang lebih baik, kamu harus bisa menjalani semua rintangan ini." Grace memberikan semangat untuk dirinya sendiri sambil terus berjalan dibawah terik matahari.

__ADS_1


Grace sangat khawatir tubuhnya pasti saat ini sudah menggelap akibat terpanggang sinar matahari siang yang terik.


*


Gea tiba-tiba merasa kesal dengan Tuan Zidane. Pekerjaannya sudah selesai kini saatnya dia bebas untuk beristirahat sebelum jam makan malam tiba. Sengaja kaya merebahkan diri di kasurnya terlebih dahulu sebelum nanti dia menyiapkan semua makan malam.


Tok…tok…


Mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu dia pun segera berdiri dan membukakan siapakah yang bertamu ke kamarnya saat ini.


"Mbak Ranti, ada apa?" tanya Gea menguncir rambutnya seperti ekor kuda.


"Males banget, Gea, di kamar sendirian."


"Kita jalan-jalan ke taman saja, yuk." Tiba-tiba saja Gea mendapatkan ide untuk keluar dari kamar. Tidak hanya Mbak Ranti saja yang sumpek berada di kamar tetapi dia sendiri juga merasakan hal yang sama.


"Wah, ide bagus, siapa tahu bisa dapet gebetan kayak Verrel." Mbak Ranti girang.


"Mbak Ranti kebanyakan nonton sinetron." Gea segera keluar dari kamar dan tidak lupa mengunci pintunya terlebih dahulu sebelum dia pergi.


*


Begitu tiba di kantor. Presiden segera menekan lift untuk menuju ke ruangannya tanpa mengajak Grace. Dia merasa risih karena sepanjang hari ini derajat terus-menerus berada di sampingnya bahkan sudah mirip seperti asistennya saja.


"Grace, sebaiknya bisakah kamu segera pergi dari hadapanku?" Nada bicara Tuan Zidan terdengar sangat ketus dan tidak bersahabat sama sekali tetapi bagi Grace ini merupakan sebuah tantangan. Semakin galak menurut Tuan Zidane, bagi Grace semakin mengesankan.


"Aku tadi sudah izin dari kantor akan menemanimu hingga jam kantor selesai." Tuan Zidane pun hanya bisa menggelengkan kepala putus asa karena mau berbicara bagaimanapun sepertinya dia hanya akan sia-sia. Jadi membiarkan Grace tetap mengikuti dirinya adalah cara yang terbaik tetapi jangan harap Tuan Zidane tidak menganggap Grace ada.

__ADS_1


Begitu sudah sampai di ruangannya Tuan Zidane pun langsung duduk di kursi kebesaran dan membuka beberapa dokumen yang telah siap di atas mejanya. Dia mulai bekerja dan matanya tak henti-henti menatap layar datar di depannya tanpa memperdulikan Grace sama sekali. Meski Tuan Zidane berusaha untuk sekuat apapun cuek dengan Grace tetapi gadis itu rupanya keras kepala dan terus-menerus berada di dekat Tuan Zidane. Di sela-sela jam kerja Tuan Zidane pun menyempatkan diri untuk mengirimkan pesan singkat kepada Gea.


Tuan Zidane : Tunggu aku jam 6 sampai rumah.


__ADS_2