
Malam ini Tuan Zidane dan Gea menghabiskan hari bersama. Mereka selesai makan malam sekitar jam 08.00 kemudian beralih ke tempat lainnya.
"Kita akan pergi lagi dengan pakaian seperti ini?" tanya Gea setengah tidak percaya dengan pemikiran dari kekasihnya. Apalagi Tuan Zidane berkata bahwa ingin mengajak Gea ke sebuah tempat yang begitu indah. Namun sejauh ini Gea belum tahu di manakah tempat tujuan Tuan Zidane selanjutnya, tetapi tetap saja Gea tidak percaya diri. Tadi saja saat makan seolah-olah dia menjadi pusat perhatian.
"Memangnya kenapa? Kita juga tidak melanggar peraturan 'kan?" Tuan Zidane menyahut dengan santainya. Gea pun harus menahan segenap perasaan untuk bisa lebih sabar menghadapi kekasihnya tersebut. Karena Gea juga sadar jika pemikiran antara laki-laki dan perempuan pastinya jauh berbeda.
Dia memalingkan pandangan ke arah lain agar tidak terus-menerus merasa kesal dengan Tuan Zidane.
"Kamu merasa dingin?" tanya Tuan Zidane meraih tangan Gea sejak tadi bersedekap memandang lurus ke depan.
"Tidak," jawab Gea tanpa mengalihkan pandangannya.
"Semakin marah kamu makin kelihatan cantik."
"Nggak usah gombal lagi aku nggak mempan kamu gombalin seperti itu." Gea berkata dengan lembut tetapi masih enggan menatap kasihnya.
Sampailah mereka berdua di tempat yang sudah ditentukan oleh Gea sebelumnya. Seperti seorang putri raja, Tuan Zidane dengan cekatan langsung membukakan pintu untuk Gea, kemudian mengulurkan tangan agar tangan gadis itu meraih tangannya. Meski dia merasa asing dengan tempat ini. Sesuai kesepakatan tadi, pertama yang memilih Tuan Zidane dan tempat selanjutnya Gea yang memilih.
Namun rupanya Gea menanggapinya dengan perasaan lain. Dia tidak mau dituntun oleh Tuan Zidane.
"Ngapain pakai dituntun segala aku bisa jalan sendiri," protes Gea merasa jika Tuan Zidane menganggap dirinya tidak kuat bahkan lebih mirip sebagai anak kecil.
__ADS_1
Tentu saja Tuan Zidane melongo dengan perkataan Gea yang tidak tahu arti umuran tangan Tuan Zidane atau masih marah dengan dirinya.
"Ya udah kalau begitu, jalan saja sendiri," tegas Tuan Zidane sambil berlalu dari hadapan Gea dan dia pun kemudian berjalan mendahului Gea.
"Dih, gitu aja kok ngambek." Gea berjalan dengan sedikit kesusahan karena high heelsnya terlalu tinggi dan belum lagi gaun yang dia kenakan malam ini memang cukup simple tetapi menurut Gea potongannya masih terlalu rendah ditambah tingginya beberapa senti di atas lutut sehingga dia merasa sedikit kedinginan.
Tempat yang mereka kunjungi kali ini adalah sebuah bukit dengan pemandangan yang sangat indah. Ya, bukit ini untuk wisata malam khusus bagi mereka yang ingin menikmati suasana kota dan mengamati keadaan kota dari atas bukit di sinilah tempatnya. Mungkin karena ini adalah malam minggu jadi banyak sekali orang-orang yang datang untuk menghabiskan sabtu malam bersama dengan orang tercinta. Ada pula yang datang bersamaan dengan sang sahabat, teman, pacar maupun keluarga mungkin ada juga yang datang ke sini bersama dengan mantan pacarnya.
Ketampanan Tuan Zidan mampu menyihir para pengunjung bukit tersebut tetapi seperti biasa Tuan Zidane tetap mencoba untuk tetap tenang dan terus mengawasi Gea meski mereka berjalan tidak bersamaan.
Akhirnya Gea dan Tuan Zidane berhenti di sebuah balkon besar yang di bawahnya seperti terlihat ada kaca-kaca yang begitu kokoh sebagai pijakan. Beruntung saja mereka datang ke tempat ini pada malam hari. Jika siang maka dipastikan Gea akan menggigil ketakutan.
Kerlap-kerlip lampu kota dan gemerlapnya bintang di langit menambah keindahan malam ini. Ditambah pula sinar bulan yang sempurna menampakkan cahayanya untuk menerangi malam yang gelap di bumi manusia penuh dosa.
Tanpa disadari tangan Tuan Zidane pun kini merangkul Gea lebih erat. Karena ini berada di luar rumah maka dia pun enggan menolak perlakuan dari Tuan Zidane apalagi udara disini cukup menusuk tulang karena dingin sekali.
"Aku sangat suka jika kamu tidak menolakku seperti kemarin," bisik Tuan Si Zidan dengan lembut di telinga Gea.
"Sebenarnya aku pun sangat nyaman dengan posisi seperti ini, tetapi ketika di rumah kita tidak akan mungkin bisa melakukan semuanya." Gea menerawang jauh di awang-awang sana. Baginya jika posisi mereka berada di rumah maka hanyalah sebatas bos dan asisten tetapi jika berada di luar rumah, Gea adalah kekasihnya Tuan Zidane yang sangat dia cintai.
Untuk mengusir rasa dingin Gea berinisiatif membeli jagung rebus dari penjual yang masih stand by di sana. Mereka berdua mendekati penjual tersebut.
__ADS_1
"Yang dibakar atau yang direbus?" tanya Tuan Zidane sambil memilih jagung yang besar untuk disantap bersama dengan Gea nanti. Sejujurnya Tuan Zidane merasa aneh harus makan di pinggir jalan seperti ini apalagi banyak sekali orang yang berlalu lalang.
"Aku ingin yang bakar aja." Gea menunjuk tumpukan jagung yang siap dibakar.
Sambil menunggu jagung bakar dan jagung rebusnya siap, Gea dan Tuan Zidane duduk di kursi yang sudah disediakan oleh sang penjual. Kelihatan sekali si penjual itu beberapa kali mengunjungi pandang ke arah mereka berdua. Pikirnya Tuan Zidane dan Gea adalah pasangan pengantin baru.
"Sudah siap, silakan," ucap penjual menyerahkan dua jagung kepada Tuan Zidane. Kemudian Tuan Zidane memberikan selembar uang berwarna merah kepada penjual tadi.
"Tunggu kembaliannya, Tuan!" teriak si penjual karena dia sedang asyik ingin memberikan kembalian tapi ternyata Tuan Zidane dan Gea sudah berlalu dari sana.
"Itu untuk Rizki bapak malam ini," jawab Gea sambil melambaikan tangannya.
"Sekali lagi terima kasih ya, semoga pernikahan kalian selalu bahagia," ujar sang penjual tadi memberikan doa terbaik untuk Tuan Zidan dan Gea.
Baik Gea maupun Tuan Zidane saling mengaminkan doa tersebut walau hanya di dalam hati.
"Semoga saja kita sampai ke tahap selanjutnya," batin Tuan Zidane menggenggam erat tangan Gea yang kini sudah tidak marah lagi.
Sementara udara semakin malam semakin dingin tetapi para pengunjung rupanya belum turun dari situ karena mereka masih asyik menikmati pemandangan yang indah di atas bukit. Gea sebenarnya juga enggan untuk beranjak dari sana tetapi karena jam sudah menunjang sekitar pukul 11.00 maka dia segera mengajak Tuan Zidane untuk kembali lagi ke rumah. Tidak lupa mereka mengambil beberapa foto selfi.
"Malam ini benar indah," ucap Tuan Zidane lirih.
__ADS_1
Tidak berapa lama ponsel Tuan Zidane dan berbunyi. Pria itu langsung merokok kantongnya dan mengamati siapa yang tengah menelponnya di malam seperti ini.
Dengan sedikit menjauh dari Gea masih dan segera mengangkat teleponnya.