
Mata Grace langsung membelalak ketika mengetahui siapa yang mengetuk pintu tadi ternyata itu adalah Tuan Zidane dan Gea. Bukan yang bukan hanya itu saja yang membuat Grace tidak mengedipkan mata tetapi posisinya saat ini Tuan Zidane sedang menggendong Gea dan terlihat sekali jika Gea begitu sangat nyaman berada di dekapan Tuan Zidane.
"Kamu siapa?" Grace langsung menunjuk tempat di wajah Gea.
"Grace, bisakah kau turunkan tanganmu dari wajah Gea?" Kata Tuan Zidane dengan nada lirih tetapi penuh tekanan.
Grace yang mendengarkan perkataan Tuhan sidang tersebut dia langsung menurunkan tangannya tetapi masih banyak pertanyaan yang mengendap di dalam otaknya tentang Tuan Zidan dan Gea.
"Minggir, aku mau lewat!" hardik Tuan Zidane ketika Grace tidak mau minggir dari depan pintu.
Perlahan Nyonya Ami menuruni anak tangga satu persatu, dia mendengar seperti ada suara Tuan Zidane di sana. Segera Nyonya Ami langsung mempercepat langkahnya untuk melihat anak laki-lakinya.
Ternyata benar begitu melihat anak laki-lakinya dia merasa bahagia tetapi ada satu hal yang membuat Nyonya Ami terheran-heran karena posisinya saat ini Tuan Zidane sedang menggendong Gea.
"Gea, kamu kenapa?" tanya Nyonya Ami tidak mengalihkan pandangan dari Tuan Zidane.
Dia ingin sekali turun dari gendongan Tuhlan Zidane tetapi sepertinya Gea memang kalah tenaga Tuan Zidane tidak mengizinkan Gea untuk turun dari gendongannya meski tanpa kata-kata hanya dengan mempererat juga banyak kepada Gea saja.
"Dia tadi keseleo jadi aku menggendongnya." Nyonya Ami memandang tidak senang kepada Gea.
"Walaupun kamu sedang keseleo seharusnya kamu bisa menolak pertolongan dari bosmu ini, Gea!" Mata Nyonya Ami menatap Gea dengan tajam sekolah ingin lompat dari tempatnya.
"Maafkan saya, Nyonya." Dia menjawabnya dengan lirih di dekapan Tuan Zidane.
Grace pun tampaknya masih penasaran dengan sosok Gea. Fia langsung bergabung dengan Nyonya Ami dan menggali lebih dalam siapakah Gea itu.
"Ini siapa, Tante?" Grace langsung to the point bertanya kepada calon mertuanya.
"Ini namanya Gea, dia adalah pelayan di rumah ini." Beberapa kali dia mencoba ingin turun tetapi tetap saja Tuan Zidane masih mendekapnya dengan erat bahkan kini posisi mereka juga semakin dekat karena dekapan Tuan Zidane lebih kuat lagi.
"Oalah dia itu pembantu toh." Grace terlihat mencibir ke arah Gea dengan pandangan merendahkan.
__ADS_1
"Gea, ayo turun!" hardik Nyonya Ami karena di sampingnya ada Grace.
"Kalian memang tidak tahu empati kepada orang lain, aku akan membawa Gea ke kamarnya terlebih dahulu." Tanpa berbasa-basi mendengarkan kedua orang itu tidak setuju jika Tuan Zidan membawa Gea ke kamarnya tetapi Tuan Zidane tetap melangkah menuju ke kamar Gea yang terletak di belakang.
"Ah, kamu ini seharusnya tadi menurunkan aku saja," sembur Gea sambil membenahi poninya yang sudah berantakan akibat berjalan tadi.
"Hehe, malah aku ingin mereka tahu saja tentang hubungan kita lagi pula aku juga tidak mau dijodohkan dengan Grace."
"Kenapa? Jika kamu berjodoh dengan dia maka kamu akan mendapatkan garis keturunan yang baik pula," kata Gea sok tahu tentang keturunan padahal dia sendiri juga tidak paham apakah benar jika sudah mempengaruhi garis keturunan.
Selepas menyelimuti Gea, Tuan Zidane pun langsung bertolak ke depan lagi untuk bertemu dengan mamanya terlebih dahulu meski ada Grace yang membuatnya malas.
Nyonya Ami dan Grace sedang menikmati teh di meja tamu. Zidane yang datang langsung nimbrung mereka berdua.
"Tante, Grace rasa udah lama ya Grace berada disini, Grace pamit dulu ya," kata Grace mengangkat tas kecil berwarna peach.
"Sayang, kok buru-buru sih?" Sepertinya Nyonya Ami belum siap melepaskan Grace untuk pulang, pasti setelah ini sepi karena tidak ada teman sharing yang seimbang, begitu pikir Nyonya Ami.
Setelah Grace meminta izin untuk pulang Nyonya Ami langsung mendekati Tuan Zidane.
"Zidane, Mama ingin bicara." Seperti biasa mata Nyonya Ami pasti menatap tajam ke arah Zidane.
"Ada apa, Ma?" tanya Tuan Zidane salah dia tidak pernah merasa bersalah.
"Kenapa kamu bisa bersama dengan Gea?" tanya mamanya penuh selidik. Dalam hati Tuan Zidane pun menjawab jika Gea adalah pacarnya saat ini tetapi tentu saja dia belum berani speak up karena masih merasa kasihan dengan dia yang belum siap dengan keadaan.
"Ya, tadi ketemu saja dijalan," ucap Tuan Zidane dengan santainya.
"Jangan mulai berani bohong kamu Zidane, dengan Mama." Naluri seorang ibu memanglah kuat. Nyonya Ami bisa tahu jika saat ini Tuan Zidane tengah membohongi dirinya.
"Kenapa Mama pede sekali jika aku membohongi Mama?"
__ADS_1
"Karena feeling Mama demikian," sahut Nyonya Ami dengan berapi-api.
"Buktinya?" Nyonya Ami memutar otak mencari jawaban yang cocok tetapi hingga beberapa menit dia tidak menemukan suatu apapun.
Tun Zidane meminta diri kembali ke kamar. Hal ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Nyonya Ami untuk menemui Mbak Ranti.
Dia berjalan menuju ke dapur dan memulai panggilan telepon.
"Halo," ucap Mbak Ranti tanpa mengetahui siapakah yang tengah menelponnya.
"Ranti, ini saya Nyonya Ami, kamu sekarang ke dapur." Tidak perlu diperintahkan kedua kalinya Mbak Ranti pun langsung mematikan telepon dan bersiap menuju ke dapur.
Melihat kamar Gea yang masih sepi, ia masih yakin jika Gea belum pulang.
"Maaf ada apa, Nyonya?" tanya Mbak Ranti dengan nafas terengah-engah karena terburu-buru saat berjalan ke dapur tadi.
"Kamu tahu dengan pelayan baru di sini bernama Gea?" Mbak Ranti mengangguk.
"Bagus, aku ada tugas tambahan untuk dirimu."
"Tugas apa, Nyonya?"
"Selidiki ada hubungan apa antara Zidane dengan Gea?" Dahi Mbak Ranti langsung berkerut mendengar Nyonya Ami memerintahkan sebuah tugas yang cukup aneh menurut dirinya.
"Maksudnya mereka mempunyai…" kata Mbak Ranti mengisyaratkan dengan kedua tangannya.
"Ya begitulah, aku curiga jika mereka memiliki sesuatu hubungan yang spesial." Nyonya Ami menerawang jauh ke depan sana.
Berarti sebenarnya tidak begitu yakin dengan pernyataan nyonya Ami pasalnya dia sendiri sering bersama dengan Gea tetapi tidak menunjukkan gesture jika Gea dan Tuan Zidane memiliki hubungan yang spesial bahkan beberapa waktu yang lalu Tuan Zidane pun menghukum Gea karena dia menghidangkan makanan sebelum Tuan Zidane duduk di meja, tetapi karena ini merupakan tugas dari sang pemilik rumah maka Mbak Ranti mengiyakan saja.
"Aku akan memberikan tambahan uang jika berhasil mengungkap ada apa sebenarnya antara Zidane dan Gea." Punya Ami langsung pergi begitu saja meninggalkan dapur setelah Mbak Ranti mengangguk.
__ADS_1
"Bagaimana caraku membuktikan jika Gea dan Tuan Zidane memang memiliki sebuah hubungan?"