
Gea hanya terdiam mendengarkan semua kalimat yang meluncur dari mulut Tuan Zidane. Dia tertegun sejenak dan sekaligus terpana dengan sang majikannya yang secara langsung menembak dirinya di ruangan pribadi.
"Maksud Tuan, dengan belajar, bagaimana?" Sejujurnya Ghea ingin mengetahui lebih dalam lagi tentang perasaan Tuan Zidane terhadap dirinya. Sebelum menjawab Tuan Zidane pun meletakkan tangannya di kantong celana kemudian berjalan mendekati Gea beberapa langkah.
"Iya aku mau kita bisa belajar untuk saling mengenal satu sama lain dan menjalani semua hubungan ini tanpa ada keterpaksaan." Tuan Zidan menatap Gea begitu dalam sebaliknya Gea malah tidak berani dan menundukkan pandangannya.
"Gea, katakan padaku sejujurnya dari hatimu, bagaimana perasaanmu terhadapku?" Strategi akan bergetar hebat tetapi mulutnya tidak bisa berkata bahwa dia memang sudah merasa tertarik dengan Tuan Zidane sejak pertama kali bertemu. Gea masih ingat betul bagaimana Tuhan sidang menatapnya dan mata mereka pertama kali bertemu hingga membuat hati Gea terus mengukir senyuman tersebut.
"Gea, jawab aku." Perkataan tersebut memang terdengar sangat lembut di telinga Gea, tetapi penuh penekanan.
"Iya, aku juga mencintai, Tuan." Entah keberanian dari mana Kiara mendapatkan perkataan seperti itu tetapi ini juga jujur dari hatinya jika dia memang memendam perasaan. Dengan mengatakan demikian seolah bongkahan beban di dalam hatinya sudah berkurang sedikit.
Mendengar jawaban Gea yang lugas dan secara langsung Tuan Zidane pun tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang terlukis di wajahnya.
"Jadi, kamu menerima cintaku untuk hari ini?" Tuan Zidane mengulang pertanyaan yang sama kepada dia karena saking bahagia hatinya mendengarkan Gea menerima cintanya.
Tanpa menunggu jawaban Gea langsung mengangguk. Bak anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Betapa senangnya hati Tuan Zidane ternyata perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan dengan Gea. Begitu pula sebaliknya dengan Gea, ia merasa sangat beruntung karena tuan mudanya ternyata juga menaruh hati terhadap dirinya tidak hanya sekedar hasrat saja.
Namun berbeda dengan kiat wansi dan langsung meluapkan kegembiraannya dengan memeluk idea secara erat kemudian menghirup aroma sampo yang keluar dari kepala Gea.
"Entah mimpi apa aku semalam bisa mengutarakan perasaanku kepadamu," bisik Tuan Zidane di telinga Gea.
Gea hanya mengangguk tidak memberikan jawaban saking bahagia hatinya hari ini.
__ADS_1
*
Setelah keluar dari ruangan. Gea pun diminta oleh tuannya untuk bersikap biasa saja. Meski mereka sudah resmi berpacaran tetapi Gea tidak boleh merubah apapun begitu pula dengan Tuan Zidane untuk sementara ini mereka akan menjalani hubungan secara backstreet terlebih dahulu.
"Gea, kamu baik-baik saja?" tanya Mbak Ranti cemas di susul oleh beberapa asisten rumah tangga yang lainnya di dekat pintu kamar mereka.
"Nggak apa-apa, kok, cuma kena omelan dikit." Gea menjentikkan tangannya.
Meranti pun terlihat bernafas lega karena dia tadi sudah berpikir jika Gea keluar akan menangis dan meminta berhenti bekerja saat itu juga tetapi semua itu hanyalah dipikiran Mbak Ranti karena sesungguhnya di dalam ruangan bukanlah Tuan Zidane yang memperingatkan Gea. Namun mereka memulai sesuatu yang baru yang tidak diketahui oleh para penghuni rumah ini termasuk Merry.
Sekarang sudah pukul 08.00 pagi tetapi Gea tidak ada jadwal masuk kuliah karena dia mendapatkan pesan di grup whatsapp-nya jika hari ini dosennya libur, kebetulan Gea sedang malas untuk pergi ke kampus.
Selesai dengan kegiatan di dapur Gea segera mengambil sapu dan mulai membersihkan halaman belakang. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Game menatap layar tersebut ternyata dari Tuan Zidane.
"Hai, kamu sedang apa?" Gea belum berbicara tetapi Tuan Zidane langsung nyerocos menanyakan sedang apa padahal dia sudah tahu sejak tadi jika Gea sedang bekerja.
"Hehehe, bukankah doamu selama ini sudah terkabul?"
"Maaf Tuan, doa apa ya?" Tentu saja mereka baru jadian tadi lagi, Gea masih kaku menyebut Tuan Zidane dengan panggilan formalnya.
"Astaga, Gea, kita ini sudah berpacaran, kamu masih saja memanggilku 'Tuan'?" Tuan Zidane gemas sendiri dengan Gea yang masih merasa tidak jika hari ini dia resmi menjadi kekasihnya Tuan Zidane.
"Abisnya aku belum terbiasa dengan semua ini lagipula kita jadian baru tadi pagi masa iya aku harus bersikap santai kepadamu?" Tuan Zidane mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Begini saja, kita ketemu di cafe nanti pukul 12 saat makan siang." Gea memasang wajah cemberut.
"Tuan, pukul 12 aku malas, panas sekali rasanya," tolak Gea membayangkan menyusuri trotoar kota ini sangat memanggang kulit belum lagi asap kendaraan mengganggu pernafasan.
"Heheh, ternyata kekasihku ini takut dengan panas, takut hitam?" ledek Tuan Zidane menggoda Gea. Ia yakin Gea diseberang sana pasti sedang manyun.
"Iyalah, coba saja kamu siang-siang begini jalan sendirian di trotoar." Gea malah menantang Tuan Zidane untuk berjalan kaki karena meski srring berolahraga untuk menjaga kebugaran tubuh tetapi Tuan Zidane nyaris kemanapun pasti menggunakan kendaraan.
"Siapa takut, tapi nanti beneran kita ketemuan atau bagaimana?"
"Ya Allah Tuhan aja dan aku sudah bilang hari ini panas sekali aku malas untuk keluar jadi kita tidak usah bertemu nanti di rumah saja ketemunya." Geaa gantian nyerocos dengan Tuan Zidane.
"Oke deh, rasanya aku sudah tidak sabar ingin pulang bertemu dengan calon istri."
"Tuh kan, gombalannya kalau mau udah mulai keluar sepertinya Anda memang suka sekali menggombali para wanita."
"No, hanya kamu yang aku begini kan memangnya aku ini cowok apa?"
"Hehe, baiklah sikap begitu aku ingin bekerja lagi malu nanti ketahuan sama yang lain kalau sedang asyik telepon di jam kerja. Selain itu bakal dikasih SP sama pak koordinator." Gea terkekeh demikian pula dengan Tuan Zidan juga tertawa mendengarkan pengakuan jujur dari Gea. Sudah menjadi aturan sejak lama jika di rumah tuan sidang waktu bekerja harus bekerja bukan untuk bermain handphone ataupun berleha-leha, nanti waktu istirahat sudah ada sendiri.
Tuan Zidane pun menutup teleponnya kemudian fokus kepada pekerjaan. Periksa beberapa dokumen di depan pintu sudah berdiri seorang gadis dengan rambut pirang sebahu dan mengenakan dress super ketat berwarna merah menyala. Tanpa permisi dia langsung membuka pintu dan duduk di hadapan Tuan Zidane .
"Apakah di sana kamu tidak melihat jika ada pintu?" ketus Tuan Zidane merasa tidak senang jika ruangannya dimasuki oleh sembarang orang, sedang ia sendiri tidak mengharapkan kehadiran orang tersebut.
__ADS_1
"Iya kok maaf aku melihat tetapi aku buru-buru kemari ingin mengajakmu makan siang bersama." Awalnya Tuhan sidang tidak menanggapi tetapi ketika tangan gadis itu menyentuh tangannya tuansi dan pun memberhentikan pekerjaan dan menatap balik gadis itu.
"Kamu setuju kita akan makan siang bersama?"