
Hingga makan malam terakhir ternyata Tuan Zidane tidak kunjung pulang juga, hal ini membuat Nyonya Ami menjadi sedikit malu dengan keluarga Grace yang sudah menyempatkan diri untuk datang ke rumah mereka tetapi malah Tuan Zidane tidak terlihat sama sekali.
"Aduh, Jeng, seperti yang kalian lihat, ternyata Zidane masih sibuk di kantornya jadi dia tidak bisa pulang cepat untuk makan malam bersama kita." Tentu saja ini hanyalah alibi Nyonya Amin padahal sebenarnya dia tidak tahu apa yang tengah terjadi kepada anak sulungnya tersebut.
Dalam hati Vina ingin tertawa kencang karena melihat Grace sudah berdandan begitu maksimal tetapi hasilnya tidak ada. Tadi siang dia sempat melihat Grace berbelanja ke mall baju baru termasuk juga sepatu yang terlihat bahwa size-nya belum dilepas dari high heelsnya.
"Ya sudah Tante kalau begitu kita pulang saja yuk Vina udah ngantuk banget nih," ajak Vina menggandeng tangan mamanya Grace sambil mengedipkan mata.
"Nanti dulu dong, Ma, siapa tahu sidangnya sebentar lagi pulang." Ternyata Kris masih menahan mamanya agar tetap di sana karena dia ingin sekali melihat Tuan Zidan pulang lebih tepatnya dia ingin tebar pesona kepada Tuan Zidane dan membuktikan bahwa dirinya memang cantik dan layak untuk menjadi istri dari Tuan Zidane.
"Iyalah Vin nanti dulu siapa tahu nanti adanya juga segera pulang." Kini giliran Vina yang manyun karena dia sudah tidak sabar ingin menonton drama korea terbaru, yang kebetulan menjadi kesukaannya sekaligus mencoba menghubungi dimanakah Gea berada siapa tahu malam ini dia bisa menghubungi sahabatnya itu. Apalagi dia tadi sempat membaca berita jika hari ini adalah episode terakhir drama yang pernah ia gantungnya tersebut. Semakin bertambah gerahlah Vina karena tidak kunjung pulang dari rumah Nyonya Ami.
Karena mereka masih saling bercengkrama di ruang tamu akhirnya Mbak Ranti pun berinisiatif membuatkan minuman agar para tamu semakin betah dan dia juga istirahatnya semakin malam.
"Permisi, Tuan dan nyonya, ini es jeruk dan cemilannya sudah siap." Mbak Ranti menurunkan beberapa gelas yang berisi minuman serta kue yang masih hangat.
*
Tuan Zidane merasakan perutnya keroncongan karena sejak tadi siang dia ternyata lupa belum makan bahkan tidak sempat minum sama sekali.
"Bro, gue mau order makanan lu sekalian nggak?" Ternyata sebagai sesama bujang Rey juga lebih suka mengorder makanan daripada memasak sendiri.
__ADS_1
"Kayaknya makan bakso malang malam-malam begini enak deh," ucap Tuan Zidan membuat Rey menatap dia heran.
"Lu suka sama bakso?" Rey menatap seolah dia kehilangan dengan makanan kesukaan Tuan Zidane saat ini.
"Emang kenapa? Ada yang salah?" Tuan Zidane mengedikkan bahunya.
"Nggak sih, gimana aja seorang Zidane, baru kali ini aku mendengar kamu memesan makanan enak itu."
"Eh, nggak tahu pokoknya ini makanan kesukaan gue jadi aku ingin memakan makanan apa yang disukai dia sebelum aku bertemu dengannya." Untuk beberapa detik Rei pun mematung karena bingung sampai segitunya kah Tuan Zidan mencintai seorang yang bernama Gea?
"Bro, gue mau tanya sama lu? Sebenarnya lu pacaran sama si Gea itu udah berapa lama sih, lo nggak pernah loh cerita sama gua?"
"Sorry Bro, bukannya gue tuh nggak mau cerita sama lo, cuman Gea yang meminta agar kita backstreet karena dia sadar dengan posisinya padahal aku sama sekali tidak pernah memperhitungkan bagaimana posisi dia dan bagaimana posisi aku." Tuan Zidane mulai mengeluarkan semua unek-uneknya yang selama ini terpendam hanya di dalam otak.
"Ya itulah namanya lelaki Bro, bukan kayak lo setiap ada lubangan lo hampiri semuanya." Merasa apa yang diungkapkan oleh Tuan Zidan benar, Rey pun tidak berusaha untuk mengelak maupun menyanggah pernyataan itu. Karena meskipun mereka bersahabat tetapi tabiat mereka tentang wanita sangat berbeda jauh bahkan berbanding 360 derajat. Rey yang selalu suka bermain wanita bahkan ia tidak akan puas dengan satu wanita saja sedangkan Tuan Zidan kebalikannya, meski dulu dia sempat rajin pergi ke klub malam tetapi hanya sekedar menikmati hiburan tanpa berminat untuk berbuat lebih jauh hanya sekedar minum secukupnya saja. Mungkin ada baik benarnya juga selama ini Nyonya Ami sangat galak kepada anaknya, bukan karena dia tidak suka tetapi dia sangat sayang dengan kedua anaknya. Nyonya Ami hanya tidak ingin jika anaknya sampai terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak baik selain merusak nama mereka juga akan merusak masa depan anak-anak.
"Hehe, lu tuh cuma belum tahu rasanya aja, Zidane." Rey menaikkan kedua alatnya sembari membayangkan nanti malam dia akan berpetualang lagi.
Beberapa menit kemudian di depan rumah Rey sudah ada seorang Abang gojek yang membawa pesanan serta tuan sidang tadi. Selesai dengan pembayarannya Rey segera membawa masuk makanan tersebut.
"Bro emang keluargamu nggak nyariin ini sudah jam segini loh?" Rey melihat arlojinya ternyata sudah menunjukkan hampir pukul 11.00 malam.
__ADS_1
"Kalau nggak mau kalau kita tetap di sini? Lo bosan lihat wajah gue?"
"Iyalah ini udah mau keluar, udah jam 11.00 malam mau cari mangsa dulu," ucap Rey santai.
"Ya udah deh kalau gitu gue pulang aja daripada nanti lo nggak jadi." Tuan Zidan menyambar kunci mobil yang dia letakkan di meja kamu.
"Nggak bukan begitu nanti kamu malah ngambek lagi."
"Sebenarnya gue tadi itu ada acara matikan malam tapi gue males makanya ke sini dan sekarang ternyata peka mengusir gua," ucap Tuan Zidan sambil nyengir kemudian beranjak dari ruang tamu.
*
Grace terus menggerutu sebab ia tadi datang ke rumah Tuan Zidan tetapi sayangnya Tuan Zidane tidak datang untuk sekedar menyambutnya.
"Gua hari ini rugi besar karena udah berkorban," ujar Grace saat berada di dalam mobil itu. Sebagai lawan seimbang Grace, Vina langsung menyindirnya dengan beberapa kalimat.
"Aduh kayaknya adek lagi capek banget nih hatinya apa pengen dipijitin?" Sengaja Vina terus-menerus meledek Grace.
"Nggak usah banyak bacot deh lo kepala gue pusing!" Banyak yang ingin berusaha tidak menanggapi setiap ocehan yang keluar dari mulut Vina karena kedua anak itu memanglah dari dulu tidak pernah hadir.
Mobil keluarga Grace pun akhirnya meninggalkan pelataran rumah Tuan Zidane.
__ADS_1
Tidak akan pernah bisa dipungkiri jika suasana hati Grace saat ini sedang kacau. Bahkan sebelum melihat Tuan Zidane dia belum mau beranjak dari tempat duduknya.
"Ya sudah nanti saja sabar" mamanya Grace pun tampak lebih menyadari posisi anaknya daripada yang lainnya.