
Keduanya pun berjalan menuju Aula yang sudah disiapkan oleh panitia beberapa hari yang lalu. Sengaja Gea dan Vina duduk di depan agar penjelasan dari pembicara nanti bisa terdengar dengan jelas dan dapat ditangkap dengan baik.
Suasana aula di kampus itu sudah ramai beberapa mahasiswa sudah datang dan segera memilih tempat duduknya masing-masing. Vina sejak tadi asik membenahi jasnya dan selalu selfie dari sudut yang berbeda.
Terlihat beberapa mahasiswa yang tergabung sebagai panitia pun memasuki aula untuk membuka acara tersebut. Gea memperhatikan dengan seksama karena dia juga penasaran siapakah yang akan menjadi pembicara, apalagi tidak ada foto yang terpajang di sana biasanya para pembicara menyetujui jika fotonya dipajang di depan tetapi kali ini berbeda.
Karena pembukaan dirasa Gea terlalu lama akhirnya dia pun mencoba membuka handphonenya terlebih dahulu siapa tahu ada pesan masuk atau telepon dari ibunya. Jika tidak ada Gea hanya sekedar scroll media sosial saja.
"Halo, selamat pagi semuanya," sapa sang narasumber disambut dengan tepuk tangan riuh rendah dari peserta tak ketinggalan juga Vina yang tengah duduk di samping Gea tidak hanya ikut bertepuk tangan tapi juga berteriak-teriak serasa nonton konser.
Kiat setengah menatap tingkah Fina yang seperti bertemu dengan seorang idol tetapi Gea juga penasaran siapakah narasumbernya kali ini, dia pun menghentikan kegiatan scroll dan menatap ke panggung depan sana.
Deg…
Lagi-lagi jantung Gea ternyata tidak aman jika melihat tuan Zidane yang ternyata menjadi narasumber mereka hari ini. Seakan saliva Ge pun mengering melongo, menetap lelaki tampan berdiri di depan sana dengan penuh kharisma dan wibawa.
Tidak hanya Gea dan Vina saja yang tersihir dan ketampanan Tuan Zidane tetapi beberapa mahasiswa yang lain pun ikut merasa kagum dengan ketampanan sosok yang menjadi pembicara mereka kali ini.
"Ini baru luar biasa, Gea?" Vina menepuk tangan Gea tetapi matanya tidak pernah berpindah dari pandangannya ke tuan Zidane. Demikian pula Gea tetapi dia masih bisa mengendalikan dirinya sendiri agar tidak terlihat seperti seseorang yang lebay jika melihat orang ganteng sedang berbicara di depan sana.
__ADS_1
"Gila, itu bos kamu, Gea!" Vina berteriak histeris tetapi beruntungnya saja suasana di aula ini cukup riuh jadi Gea langsung mencubit tangan Vina agar mengkondisikan volume bicaranya.
"Hus, jangan keras-keras nanti aku yang malah jadi mak comblang mereka, kamu mau kalau aku dikejar-kejar hanya untuk mendapatkan foto Tuan Zidane?"
"Heheh, maaf deh, bukan gitu tapi aku tadi memang reflek langsung berteriak seperti itu," kata Vina membenahi poninya yang dirasa berantakan padahal sejak tadi masih rapi tapi hanya saja perasaan Vina terlalu gelisah berlebihan akan poninya nanti bakal berantakan karena dia tidak mau terlihat kacau di depan tuan Zidane.
Seminar hari ini selesai ketika pukul 12.00 siang. Gea dan Vina pun memutuskan untuk beristirahat. Tuan Zidane memperhatikan Gea sejak tadi tetapi dia juga tidak berani untuk menyapa asisten rumah tangganya terlebih dahulu bukan karena sombong tetapi merasa tidak enak harus menyapa Gea di tengah keramaian.
Kampus di mana Gea kuliah ini sebenarnya Tuan Zidane pun pernah mengenyam pendidikan di tempat yang sama beberapa tahun yang lalu. Dia masih hafal dengan makanan favorit di kantin yang selalu menjadi primadonanya saat kuliah.
Ia melirik arlojinya meski sudah menunjukkan pukul 12 tengah hari tetapi ia masih ingin bersantai sebelum kembali lagi ke kantornya.
"Tuan, kita akan kembali jam berapa?" tanya asisten tuan sidang sekaligus merangkap sebagai sopirnya.
Sesampainya di kantin ternyata Gea dan Vina tidak ada di sana sebenarnya Tuhan Zidan pun kecewa karena tidak melihat Gea. Entah bagaimana ceritanya saat pertama kali melihat Gea, Tuan Zidane langsung merasa sepertinya jatuh cinta kepada pandangan pertama untuk asisten rumah tangganya itu tetapi dia juga tidak langsung mengungkapkan karena takut jika ternyata Gea sudah memiliki pacar dan akan mengganggu hubungan dia dengan pasangannya.
Tuan Zidane merasa di dalam diri Gea ada sesuatu yang menarik. Apalagi dia juga jatuh cinta dengan kopi buatan Gea. Tentu hal ini membuat nilai tambah Gea di mata Tuan Zidan.
Sengaja Tuan Zidane kantin sendirian agar tidak diganggu oleh sopirnya saat bernostalgia dengan kampus ini. Dia memesan menu andalannya yaitu nasi goreng dicampur dengan mie goreng serta jus jeruk hangat adalah favoritnya ketika masih kuliah dengan uang saku pas-pasan jadi dia harus menghemat jajanya.
__ADS_1
Sebenarnya dari dulu tuan Zidane memang bukan orang yang kesusahan secara finansial tetapi mamanya selalu mengajarkan kepada Zidan muda untuk selalu prihatin dengan keadaan meski dia terlahir di tengah-tengah keluarga yang bisa dikatakan konglomerat tetapi uang saku sidang saat itu sangatlah terbatas. Kemudian dia juga tidak boleh mengendarai kendaraan pribadi ke kampus harus menggunakan angkot atau kendaraan umum. Namun tidak juga dengan ojek online maupun taksi online yang biayanya selangit. Dulu ketika ia diperlakukan seperti itu oleh mamanya merasa sakit hati tetapi sekarang dia bisa memetik hikmahnya, jadilah sekarang presiden tidak pernah membeda-bedakan antara si kaya dan si miskin bahkan dia bisa bergaul dengan siapapun juga termasuk para asisten di rumah tangganya yang tergolong akrab dengan tuannya.
*
Jam kuliah sudah selesai saatnya Gea kembali ke rumah Tuan Zidane dan melakukan berbagai aktivitas yang lain di sana.
"Gea," panggil seseorang. Tentu saja Gea menoleh kepada asal suara tersebut.
"Tu-tuan Zidane?" Gea mengerutkan alisnya bagaimana tuannya bisa berada di parkiran saat dia pulang dari kampus.
"Iya, aku malas sekali masuk ke kantor jadi hari ini aku memutuskan untuk membolos aja." Dia pun tercengang dengan ucapan tuan Zidane. Seorang bos masih bisa mengatakan dirinya membolos kerja padahal dia bekerja di perusahaannya sendiri entah mau bekerja atau tidak yang penting anak buahnya bekerja pasti ada pemasukan untuk perusahaan.
"Bisa temani aku hari ini?" tanya Tuan Zidane melepas kacamata hitamnya. Tentu penampilan Tuhan Zidan kali ini berbeda ketika mengisi seminar di aula tadi. Saat ini dia hanya mengenakan kaos putih model polo dan celana yang hanya menutupi lutut serta sepatu sneaker warna putih dan rambutnya pun yang tadi klimis gini buat sedikit berantakan. Meski begitu kadar ketampanan Tuan Zidane pun tidak luntur bahkan bisa menilai bertambah.
"Tapi Tuan saya harus bekerja."
"Memangnya kamu bekerja dengan siapa?" tanya Tuan Zidane melipat tangannya ke dada. Gea sempat bingung menjawab.
"Bekerja di rumah Tuan." Gea menjawab sambil menunduk.
__ADS_1
"Berarti bos kamu siapa?" Tuan Zidane masih mengetes Gea lagi.
"Anda."